Mumi
kita sudah lama dipertemukan
dalam kertas berisi sajak kecil
hanya laut mati memisahkan
dalam satu dasawarsa perjalanan
di pelataran mesjid depan taman terbuka
namamu disebut banyak perempuan muda
dalam selimut cemburu dan hati luka
melewati jernihnya aliran Nil dan metafor persia
jejakmu sudah sampai di sini
Pancoran, 23 Februari 2010
Destiny...
Aku mengenalnya bisu
hanya bisa menulis
tanpa dering telpon
setelah perjalanan panjang di jalan kota yang sepi
yang dihabiskan lewat tengah malam
dengan dua cangkir teh poci dan sebungkus rokok
dua putaran membuat kami harus berganti peran
penasaran dengan perempuan malam yang terlihat cantik dengan tubuh wangi
Malam ini dimulai dengan hujan turun
setelah panas menderaku seharian
Di balik cahaya billboard kristal air memercik
mengantarku pada larut
soto kaki sapi telah kuhabiskan bersama lelaki paruh baya
dan dua orang suami istri yang kukira sudah tidak kuat berhubungan seks
aku mengenalnya bisu
lalu pagi tiba usai sepakbola
Menteng, 23 Oktober 2009
philosophy and the city
Tulisan Seputar Filsafat dan Budaya Urban, Selebihnya Catatan Harian
Thursday, July 01, 2010
Old Poor Mad Max
Lorong Kebertubuhan : Dari Tradisi Agama Hingga Sistem Virtual Media Baru
![]() |
| foto istimewa |
Fenomenolog Prancis Maurice Merleu-Ponty melihat bahwa kesadaran adalah proses menubuh seorang manusia. Kesadaran bukanlah dengan mengamati atau memikirkan tentang tubuh. Kita adalah tubuh. Dualisme jiwa badan yang dipahami dan menguasai alam pikiran barat sejak Plato hingga Descartes telah melihat tubuh sebagai penjara dan menilai negatif peran tubuh. Bagi Ponty, pandangan metafisika dari filsafat klasik dan agama tersebut adalah tertuduh yang mereduksi posisi tubuh dan tidak menjadikan tubuh sebagai satu kesatuan yang utuh antara tubuh yang menyadari dan kesadaran yang menubuh yang disebutnya tubuh-subjek .
Lalu, di mana posisi tubuh menurut agama-agama? bagaimana media baru dalam era industrialisasi yang melahirkan budaya massa dan mampu mereproduksi citra tubuh hingga bisa mempengaruhi, mengubah dan mengontrol selera dan nalar publik? Ada beberapa catatan yang sebaiknya diingat.
Tubuh Dalam Tradisi Agama
Sebenarnya agak sulit untuk masuk jauh ke dalam sisi esoteris dari agama-agama dan menampilkan kembali doktrinnya sama persis seperti dikehendaki si pembawa risalah. Jadi, saya hanya akan mencari pandangan-pandangan umum yang lumrah. Lebih karena proses menafsir menghendaki keragaman pandangan dan relativitas interpretasi.
Tradisi Hindu membagi tubuh menjadi tiga bagian; yaitu tubuh kasar yang ditinggal di dunia saat mati, tubuh halus yang disebut Roh (dzat yang membungkus atma dengan jnana dan karma) serta tubuh kausal yang merupakan tubuh halus. Tubuh kausal akan selalu eksis sepanjang jagat raya eksis. Tubuh kausal adalah tubuh yang melakukan reinkarnasi.
Orang Hindu Bali memiliki konsep tentang jagat besar dan jagat kecil, alam semesta dan tubuh manusia. Dalam budaya Hindu Bali, sejak tubuh seseorang belum terlahir ke bumi, ia telah diperlakukan dengan upacara. Hal ini terus berlangsung hingga tubuh itu berpisah dengan jiwa dan akhirnya dimusnahkan sisi jasadnya. Upacara demi upacara membentuk tubuh orang Hindu Bali dalam menapaki kehidupan, atau dalam lingkup waktu yang lebih kecil yaitu dalam hidup kesehariannya. Hingga ketika kematian pun upacara tetap berusaha memberikan "bentuk" terhadap tubuh itu. Dengan demikian, orang Hindu Bali menyerahkan tubuhnya selama umur tubuh itu kepada upacara demi upacara yang dikonstruksi oleh ajaran agama yang sebelumnya telah –dianjurkan untuk– diyakini oleh orang Hindu Bali sendiri.
Tubuh yang Disiplin
Mempelajari genealogi -meminjam istilah Michel Foucault- tubuh sejak tradisi agama hingga masyarakat modern adalah menelusuri lorong kebetubuhan. Dengan begini kita bisa kembali memaknai sejatinya tubuh yang sudah sedemikian babak belur merasakan disiplin yang disematkan oleh masyarakat modern. Penelusuran lorong kebertubuhan ini penting karena tubuh secara sadar atau tidak telah ditunggangi proyek “kekuasaan”, dikontrol, ditransformasikan, dimanfaatkan, dan juga diubah.
Foucault menjelaskan dalam genealoginya pertama tentang sejarah kegilaan. Orang dianggap gila bukan karena tidak mampu berpikir sehat (irasional) dan menggunakan tubuhnya dengan baik, melainkan karena kriteria masyarakat untuk orang sehat. Perihal kedua adalah penjara. Foucault melihat sistem ruang melingkar (panoptikon), di mana para penjaga dapat mengawasi setiap gerak narapidana, dapat membangun disiplin narapidana. Hal ini tidak berhubungan dengan apakah narapidana sadar mereka sedang diamati tidak.
Jika pada tradisi agama tubuh menjadi instrumen untuk laku penyembahan, maka pada tradisi masyarakat modern tubuh menjadi instrumen yang “disembah”. Masyarakat kota modern dengan diferensiasi kerja yang sedemikian kompleks menuntut keserbacepatan. Kota-kota besar dunia layaknya New York, Tokyo, bahkan Jakarta, membentuk warganya berperilaku sibuk. Jadwal harian dan jam mekanis telah memenuhi dan memaksa tubuh warganya untuk disiplin bekerja. Dalam masyarakat modern, kegilaan adalah perilaku santai yang minus agenda.
Simulakra dan Tubuh Komersil
blalalalalala
Tubuh Otentik
Martin Heidegger mengingatkan bahwa kematian bukanlah sekadar fenomena biasa yang berlaku sama saja dan biasa saja bagi semua orang. Sebaliknya, ia menegaskan bahwa detik-detik menjelang kematian adalah saat-saat paling otentik seseorang. Menurut Heidegger, kematian merupakan akhir dari kemungkinan-kemungkinan, suatu ketidakmungkinan dari kemungkinan. Maksudnya, ketika manusia telah mati, ia tidak akan mungkin lagi melakukan hal-hal untuk mewujudkan rencana hidupnya. Segala aktivitas badani (fisik) pun terhenti karena kematian. Dengan kata lain, manusia memiliki batas akhir dalam eksistensi kehidupannya di dunia. Bahkan, dapat dikatakan bahwa manusia adalah ”Ada-menuju-kematian”.
Epilog
blalalalalaa
........................la
Wednesday, April 07, 2010
Filsafat Islam Aliran Peripatetik : Sebuah Pengantar
Jika merujuk kondisi mutakhir pembelajaran filsafat di dunia muslim, khususnya muslim Indonesia, terdapat kemajuan yang sangat berarti. Akses terhadap karya-karya filsafat dengan maraknya penerjemahan karya filsafat dari tradisi intelektual Islam (klasik maupun kontemporer) semakin mudah dan mapan. Pembaca awam, peminat kajian filsafat hingga mahasiswa filsafat bahkan sudah bisa mendapatkan bacaan pengantar yang ditulis secara populer.Pasca revolusi Islam Iran pada 1979 yang dipimpin imam Khomeini, lahir gelombang peminatan dan pengkajian tradisi intelektual Islam (khususnya filsafat) secara lebih terbuka. Harus kita akui bahwa secara umum di dunia muslim tradisi pengkajian filsafat pasca Ibnu Rusyd (wafat 1196 M) boleh dibilang hampir tidak ada kecuali di dunia muslim Syiah .(Labib, 2005)
Sebagaimana sudah kita ketahui, istilah filsafat Islam masih dianggap bukanlah istilah yang tepat atau pantas. Filsafat Islam bagi sebagian besar pemikir Barat hanyalah sekedar filsafat muslim atau filsafat Arab. Istilah filsafat Islam hingga era 1970-an seperti diungkap oleh Madjid Fakhri, hanya dilihat sebagai mata rantai yang menghubungkan tradisi filsafat Eropa kuno (Yunani) dan Eropa Modern. Islam dianggap tidak memiliki filsafat sendiri. Kelahiran filsafat non-peripatetik (aliran Iluminasi dan Irfani) di dunia muslim, dianggap tidak relevan. Barulah setelah tokoh seperti Henry Corbin dan Louis Masignon melakukan kajian terhadap filsafat ilmuninasi dan tasawuf al Hallaj, dunia Barat sedikit kehilangan bias europosentrisme.(Kartanegara, 2006)
Menurut Mulyadhi Kartanegara, istilah filsafat Islam meski tidak disepakati semua kalangan, layak disematkan. Terdapat beberapa alasan yang mendasari pandangan ini. Pertama, sebelum filsafat Yunani marak dipelajari di dunia Islam, Islam sudah memiliki teologi sendiri tentang keesaan Tuhan (Tauhid) dan hukum Syariah. Filsafat Yunani saat memasuki pandangan dunia Muslim tidak pernah benar-benar menjadi independen karena harus tunduk dengan syariah yang memiliki pandangan tauhid. Kedua, sebagai pemerhati filsafat Yunani, para filosof muslim bersikap kritis dan melakukan revisi terhadap pandangan-pandangan filsuf Yunani dengan teori baru. Tokoh seperti Ibnu Sina, al Ghazali, Suhrawardi dan Ibnu Taymiyah melakukan kritik dengan argumen-argumen baru. Filsafat Yunani di tangan filsuf muslim telah mengalami transformasi radikal. Ketiga, interaksi filsafat dengan agama, telah melahirkan rumusan-rumusan baru dalam teori filsafat yang sebelumnya belum dielaborasi, semisal filsafat kenabian dsb. Ketiga alasan ini memberikan gambaran dinamika yang khas dalam tradisi pengkajian filsafat di di dunia Islam sehingga layak disebut filsafat Islam.
Makalah ini mencoba membahas filsafat Islam dari aliran Peripatetik (Masyaiyah). Aliran ini merujuk pada pengajaran filsafat oleh Aristoteles. Aliran ini merupakan kategori pertama dari pemerolehan tradisi pengkajian filsafat dalam dunia Islam yang masih mengandaikan logika formal dan penalaran akal. Beberapa filsuf yang bisa dikelompokkan dalam aliran ini adalah al Kindi, al Farabi, Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd.
Pengertian Aliran Peripatetik
Peripatetik merupakan derivasi kata Yunani peripatein (berkeliling) dan peripatos (beranda). Dalam tradisi Yunani kata ini mengacu pada suatu serambi gedung olahraga di Athena. Istilah Peripatetik mengacu pada cara mengajar Aristoteles yang dilakukan seperti gurunya (Plato) yang dilakukan dengan berjalan-jalan di beranda gedung. Dalam kosakata Arab Islam, Peripatetik dikenal dengan istilah Masya’iyah (berjalan berputar). Kemudian bisa didapatkan kata al-Masyaun (pengikut). Istilah ini tidak mengacu pada Platonisme dan Aritotelianisme saja, tapi menurut Sami an Nasyasyar dan syed Hossein Nasr juga mengacu pada Neo Platonisme . (Drajat, 2005)
Di tangan para filsuf muslim, peripatetisme mengalami perluasan objek pembahasan. Terdapat sintesa antara ajaran Plato, Aristoteles, Plotinus serta wahyu. Hal ini menunjukkan keterbukaan dan penerimaan yang baik dari para filsuf muslim. Tradisi filsafat ini dianggap sebagai identik dengan istilah hikmah dalam ajaran Islam yang terdapat dalam kitab suci.(Drajat, 2005, 76-78)
Metodologi dan Epistemologi Aliran Peripatetik
Terdapat beberapa hal untuk mengenali kekhasan dari aliran ini berdasarkan metodologi dan epistemologinya. Pertama, modus ekspresi dan dan penjelasannya bersifat diskursif (bahtsi). Yaitu menggunakan silogisme (logika formal dan penalaran akal). Berupa penarikan kesimpulan dari pengetahuan yang sudah diketahui dengan baik. Kedua, karena membutuhkan silogisme, maka penalaran dilakukan melalui proses representasi (tak langsung/hushuli/perolehan). Ketiga, penekanan yang kuat pada daya rasio sehingga tidak memprioritaskan pengetahuan melalui pengenalan intuitif (kehadiran/knowledge by presence/hudhuri). (Kartanegara, 2006, 26-29)
Ciri khas lain dari aliran ini adalah dalam persoalan ontologis. Ajaran Hylomorfisme adalah sebutan untuk pemahaman ontologinya. Hylo (hyle/materi) dan morphis (bentuk) adalah unsur utama dari apapun yang ada di dunia. Pandangan ini adalah reformasi dari dari ide Plato tentang dunia ini yang terdiri dari ide dan bayang-bayangnya. Aristoteles merumuskan bahwa materi tidak lain dari bayang-bayang dan bentuk merupakan ide. Materi (bahan) tidak akan mewujud atau mengaktual jika tidak bergabung dengan bentuk (hakikat). Baik al-Farabi maupun Ibnu Sina menyebut akal aktif (al-’aql al-fa’al) sebagai pemberi bentuk. Alam fisik ini menurut mereka adalah bahan yang siap (potensial) menerima bentuk. Ibnu Sina menyebutnya sebagai Mumkinul Wujud (wujud mungkin). Mumkinul wujud ini baru akan memiliki bentuk jika akal atif-sering disebut sebagai malaikat Jibril- bekerja memberikan bentuk.
Perbedaan lain yang merupakan pandangan khas yang muncul dari para filsuf peripatetik muslim adalah teori emanasi. (Kartanegara, 2006, 2-9-31)Teori emanasi dari para peripatetik muslim muncul dari ketidakpuasan dan sedikitnya penjelasan soal wujud Tuhan dalam ajaran metafisika Aristo. Teori Emanasi mencoba menjawab pertanyaan tentang bagaimana dari wujud yang Esa bisa muncul alam semesta yang beraneka. Saat diktum filosofis dari logika hanya meniscayakan dari yang esa hanya muncul yang esa juga, maka lahirlah apa yang disebut sebagai Murajjih (alasan cukup/the sufficient reason).
Berdasar teori emanasi al-Farabi, Tuhan yang maha Esa adalah akal yang kerjanya adalah berpikir. Sebagai konsekuensi pikiran, muncullah Akal Pertama (al-Aql al-Awwal) yang wujud dan sifatnya sangat identik dengan Tuhan. Karena Tuhan itu maha Esa, maka hanya muncul satu akal saja sebagai akibat. Dari Akal Pertama muncul keanekaragaman karena dia tidak hanya berpikir Tuhan tapi juga tentang dirinya. Akal pertama sudah memiliki dua prinsip, prinsip keanekaan dan prinsip keesaan. Selanjutnya muncul akal-akal berikutnya dari akal dua hingga akal ke-10. Bagi para filsuf seperti al-Farabi, alam semesta tercipta berdasarkan atas prinsip keniscayaan. (Kartanegara, 2006, 33-38)
Ibnu Sina melengkapi teori al-Farabi. Teori emanasinya hampir sama dengan teori al-Farabi. Beberapa hal yang perlu dicatat adalah; pertama, Dia menjelaskan wujud berdasarkan tiga kelompok, wajibul wujud, Mumtani al-Wujud, dan Mumkinul Wujud. Tuhan tentu saja adalah wajibul wujud yang senantiasa aktual. Mumtani al-Wujud tidak merujuk apapun karena kemustahilannya. Sementara Mumkinul wujud adalah wujud potensial. Mumkinul wujud merujuk pada alam semesta ketika masih berpotensi. Ketika sudah pada tahap maujud, maka dia disebut sebagai wajibul wujud lighairihi (wujud wajib yang bergantung). Kedua, karena akal pertama dan akal selanjutnya dapat berpikir tentang tiga macam, maka akibatnya juga tiga macam. Pengecualian terdapat pada akal kesepuluh karena tidak dapat lagi melahirkan akal ke sebelas karena memberikan bentuk pada materi, menimbulkan alam fisik yang fana berupa dunia kejadian (generasi) dan kehancuran (korupsi) berupa dunia bawah bulan (sub lunar world) yang kita tempati saat ini tempat munculnya hewan, tumbuhan, batuan dan manusia. (Kartanegara, 2006, 38-42)
Penutup
Dari uraian singkat ini bisa kita tarik kesimpulan bahwa peran para filsuf peripatetik muslim dalam pemikiran filsafat, telah melanjutkan dengan baik tradisi filsafat Yunani melalui pemikiran baru yang merupakan kritik mendalam dan juga apresiasi terhadap jejak pemikiran filsafat para filsuf sebelumnya.
Produk pemikirannya baik berupa logika, metafisika, kosmologi dan psikologi tidak sekedar jembatan emas seperti yang diasumsikan banyak pemikir yang terkena bias eurosentrisme, tapi merupakan warisan intelektual sangat berharga yang lahir dari komitmen yang mendalam dan kecintaan terhadap apa yang diwahyukan dalam kitab suci sebagai hikmah.[ ]
Ditulis untuk mata kuliah asas-asas filsafat islam yang diampu oleh Aan Rukmana
1 Kalau dipahami dinamika tradisi pewarisan ilmu-ilmu tradisional Islam (khususnya tradisi pengkajian filsafat) sebagai sesuatu yang berkelanjutan sejak filsuf muslim pertama (al Kindi) hingga hari ini, maka tidak lahir seorang pun filsuf dari dunia muslim sunni sejak al Ghazali melancarkan kritik keras terhadap filsafat. Sementara tradisi pengkajian filsafat di dunia Syii terus berlanjut. Dengan merujuk hasil karya Mulla Shadra hingga Thabathabai misalnya, warisan pemikiran filsafat itu bisa kita dapatkan. Karena itu jika merujuk hasil karya dan pemikiran cendekiawan muslim pembaharu seperti Harun Nasution dan Nurcholish Madjid (muslim sunni), keduanya tidaklah bisa dikategorikan atau disebut sebagai filsuf muslim, tapi hanya sebatas teolog muslim.
2 Amroeni Drajat mengutip pendapat dari Sami an-Nasysyar dan Seyyed Hossein Nasr perihal asal usul istilah ini. Kajian Peripatetik menurut kedua tokoh ini juga mencakup Neo- Platonisme yang dibungkus dengan baju Islam. Neo Platonisme merujuk pada Plotinus (lahir 205 M di Mesir). Ia guru filsafat yang mencoba memadukan ajaran Plato dan Aristo meskipun pada prakteknya lebih cenderung pada ajaran Plato. Sementara menurut Mulyadhi Kartanegara istilah peripatetik ini merujuk kepada pengikut setia Aristoteles.
3 Teori tentang cahaya (pancaran)
Daftar Pustaka
Labib, Muhsin, 2005, Para Filosof: Sebelum dan Sesudah Mulla Shadra, Al Huda : Jakarta
Kartanegara, Mulyadhi, 2006, Gerbang Kearifan: Sebuah Pengantar Filsafat Islam, Lentera Hati: Jakarta
Drajat, Amroeni, 2007.Suhrawardi: kritik filsafat peripatetik, Lkis, Yogyakarta
Inilah Jakarta!
Dalam buku Bang Ali : Demi Jakarta (1966-1977), Mochtar Lubis yang memberikan pengantar untuk biografi mantan gubernur Jakarta Ali Sadikin yang ditulis Ramadhan K.H, mengatakan bahwa seandainya dia yang menjabat presiden RI, biografi itu akan dijadikan buku wajib. Nilai dan kekuatan buku itu menurutnya ada pada banyaknya pelajaran yang bisa dikutip dari bagaimana gubernur Jakarta selama dua periode menceritakan pengalaman memerintahnya dengan polos dan terus-terang.Memang, dari biografi Bang Ali itu, cerita Jakarta meski dengan sudut pandang penguasa bisa terkuak. Sebagai ibukota, Jakarta pada 1966 mengalami banyak krisis. Mulai dari krisis angkutan, perumahan, telepon, sarana pendidikan, hingga lapangan kerja. Dibutuhkan kreatifitas tingkat tinggi dari seorang penguasa Jakarta untuk merespon segala masalah kemerosotan fisik kota seperti gang-gang becek, perumahan kumuh, maupun masalah sosial seperti bentrokan antar kampung, pelayanan kesehatan hingga kehidupan budaya dan seni. Spontanitas reaksi Bang Ali misalnya, terlihat ketika seorang sopir truk besar tidak memberi kesempatan pada mobil-mobil lain untuk mendahuluinya. Mobil truk dikejar, dihentikan, sopirnya disuruh turun dan sebuah tempeleng dari bang Ali melayang ke pipi sang sopir.
Cerita Jakarta lainnya (lebih kontemporer) bisa didapat Buku Jakarta Inside Out-nya Daniel Ziv. Bekas pengelola majalah gaya hidup Djakarta ini menampilkan Jakarta dengan kaya dan detail. Mungkin juga kocak dan satir. Misalnya soal industri demo dan orang kaya baru (OKB) di Jakarta.
Tentang Industri demo yang marak terjadi setelah reformasi 1998, Ziv menampilkan tiga gambar berbeda dari seorang demonstran bayaran yang didapatnya dari sebuah tabloid politik. Ziv menulis, ”..for a quick-response demo, certain slums in the capital are known for their easy, immediate supply : at Kalipasir in Central Jakarta, for example, 100 demostrators can usually be rounded up at a moment notice. “.
Tentang OKB, Ziv memasukkan kelompok petinggi militer, pebisnis muda, artis baru naik daun, politisi bau kencur dan anak orang kaya ke dalam golongan ini. Karakter kelompok ini menurutnya adalah mereka yang tidak terpengaruh dengan krisis ekonomi dan kadang tidak tau untuk apa dan dibagaimanakan duit mereka. Kendaraan Maserati dan S-Class Mercedes-nya bisa melenggang bebas di antara kepulan asap Bajaj dan petikan gitar pengamen jalanan di setopan lampu merah.
Dua nama lagi yang paling digemari kini bukunya harus disebutkan; Benny dan Mice. Haha. Buku mereka, Seratus tokoh yang mewarnai Jakarta Boleh dibilang masterpiece. Bagaimana presenter TV, bencong taman lawang dan aktivis politik digambarkan dengan menggemaskan sebagai tokoh yang menghiasi dan menjadi wajah Jakarta.
Dari ragam wajah Jakarta yang pernah dituturkan dan berserak dalam buku atau koran tersebut, wartawan paramadina magazine mencoba mengais narasi baru, mungkin memperdalam kalau tidak disebut mencari tahu. Tidak hanya tokoh-tokohnya tapi juga sejarah, dan menyelipkan pertanyaan tentang bagaimana semua itu bermula dan siapa saja yang pernah terlibat. Mengapa begini dan begitu?.
Sudah ada seratus empat puluh sub tema di dapat setelah tujuh tema penulisan tentang Jakarta di susun. Melalui penyelusuran sejarah gang-gang kecil, bagaimana cara para pengamen jalanan tidur, di toko apa cat pagar istana dibeli, hingga ada berapa jumlah festival yang terselenggara setiap tahunnya di jakarta, narasi jakarta dan apa yang vernacular (asli) dari kota ini diungkap.
Ayo ....mari terlibat menjadi salah satu penulis, fotographer, moviemaker, penyaji dan penikmat Jakarta melalui Jakarta Vernakular 2010....inilah Jakarta!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)

