<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788</id><updated>2011-10-12T19:23:49.864+07:00</updated><category term='catatan harian'/><category term='film'/><category term='Buku'/><category term='Urban'/><category term='Nalar Puitis'/><category term='Musik'/><category term='filsafat'/><category term='Sastra'/><title type='text'>philosophy and the city</title><subtitle type='html'>Tulisan Seputar Filsafat dan Budaya Urban, Selebihnya Catatan Harian</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>48</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-6735634837347892793</id><published>2010-07-01T21:56:00.006+07:00</published><updated>2010-08-12T18:22:31.677+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nalar Puitis'/><title type='text'>Old Poor Mad Max</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/TCyvCmnYZ8I/AAAAAAAAAKg/nYHjCcCLm3E/s1600/river+or+stars.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/TCyvCmnYZ8I/AAAAAAAAAKg/nYHjCcCLm3E/s320/river+or+stars.jpg" border="0" width="200" height="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:large;"&gt;&lt;b&gt;Mumi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita sudah lama dipertemukan&lt;br /&gt;dalam kertas berisi sajak kecil&lt;br /&gt;hanya laut mati memisahkan&lt;br /&gt;dalam satu dasawarsa perjalanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di pelataran mesjid depan taman terbuka&lt;br /&gt;namamu disebut banyak perempuan muda&lt;br /&gt;dalam selimut cemburu dan hati luka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;melewati jernihnya aliran Nil dan metafor persia&lt;br /&gt;jejakmu sudah sampai di sini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:x-small;"&gt;&lt;i&gt;Pancoran, 23 Februari 2010&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Destiny... &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengenalnya bisu&lt;br /&gt;hanya bisa menulis&lt;br /&gt;tanpa dering telpon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelah perjalanan panjang di jalan kota yang sepi&lt;br /&gt;yang dihabiskan lewat tengah malam&lt;br /&gt;dengan dua cangkir teh poci dan sebungkus rokok&lt;br /&gt;dua putaran membuat kami harus berganti peran&lt;br /&gt;penasaran dengan perempuan malam yang terlihat cantik dengan tubuh wangi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini dimulai dengan hujan turun&lt;br /&gt;setelah panas menderaku seharian&lt;br /&gt;Di balik cahaya billboard kristal air memercik&lt;br /&gt;mengantarku pada larut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;soto kaki sapi telah kuhabiskan bersama lelaki paruh baya&lt;br /&gt;dan dua orang suami istri yang kukira sudah tidak kuat berhubungan seks&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku mengenalnya bisu&lt;br /&gt;lalu pagi tiba usai sepakbola&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:x-small;"&gt;Menteng, 23 Oktober 2009&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-6735634837347892793?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/6735634837347892793/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=6735634837347892793' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/6735634837347892793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/6735634837347892793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2010/07/old-poor-mad-max.html' title='Old Poor Mad Max'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/TCyvCmnYZ8I/AAAAAAAAAKg/nYHjCcCLm3E/s72-c/river+or+stars.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-6297303379267341407</id><published>2010-07-01T21:21:00.006+07:00</published><updated>2010-08-11T11:30:40.459+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><title type='text'>Lorong Kebertubuhan : Dari Tradisi Agama Hingga Sistem Virtual Media Baru</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/TGIm_9XxaWI/AAAAAAAAAK4/UqHIRIBlKWQ/s1600/images.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="252" src="http://1.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/TGIm_9XxaWI/AAAAAAAAAK4/UqHIRIBlKWQ/s400/images.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="left"&gt;&lt;td class="tr-caption"&gt;foto istimewa&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Hal yang mengganggu saat pertama kali penawaran diskusi tentang  kebertubuhan datang adalah pertanyaan pragmatis, untuk apa mendiskusikan  tubuh? Jawaban yang kudapatkan kemudian untuk menjadikan diskusi ini  penting dan masih aktual adalah perilaku masyarakat modern yang sudah  dan sedang khusyuk-masyuk memuja tubuh. Karena pemujaan identik dengan  penyembahan pada sesuatu yang berkuasa yang sering dimaknai dengan  Tuhan, maka diskusi ini adalah diskusi penggugah iman, atau mungkin  semacam diskusi penggelitik sebentuk kesadaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomenolog Prancis Maurice Merleu-Ponty melihat bahwa kesadaran adalah  proses menubuh seorang manusia. Kesadaran bukanlah dengan mengamati atau  memikirkan tentang tubuh. Kita adalah tubuh. Dualisme jiwa badan yang  dipahami dan menguasai alam pikiran barat sejak Plato hingga Descartes  telah melihat tubuh sebagai penjara dan menilai negatif peran tubuh.  Bagi Ponty, pandangan metafisika dari filsafat klasik dan agama tersebut  adalah tertuduh yang mereduksi posisi tubuh dan tidak menjadikan tubuh  sebagai satu kesatuan yang utuh antara tubuh yang menyadari dan  kesadaran yang menubuh yang disebutnya tubuh-subjek . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, di mana posisi tubuh menurut agama-agama? bagaimana media baru  dalam era industrialisasi yang melahirkan budaya massa dan mampu  mereproduksi citra tubuh hingga bisa mempengaruhi, mengubah dan  mengontrol selera dan nalar publik? Ada beberapa catatan yang sebaiknya  diingat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tubuh Dalam Tradisi  Agama&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya agak sulit untuk masuk jauh ke dalam sisi esoteris dari  agama-agama dan menampilkan kembali doktrinnya sama persis seperti  dikehendaki si pembawa risalah. Jadi, saya hanya akan mencari  pandangan-pandangan umum yang lumrah. Lebih karena proses menafsir  menghendaki keragaman pandangan dan relativitas interpretasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi Hindu membagi tubuh menjadi tiga bagian; yaitu tubuh kasar yang  ditinggal di dunia saat mati, tubuh halus yang disebut Roh (dzat yang  membungkus atma dengan jnana dan karma) serta  tubuh kausal yang  merupakan tubuh halus. Tubuh kausal akan selalu eksis sepanjang jagat  raya eksis. Tubuh kausal adalah tubuh yang melakukan reinkarnasi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Hindu Bali memiliki konsep tentang jagat besar dan jagat kecil,  alam semesta dan tubuh manusia.  Dalam budaya Hindu Bali, sejak tubuh  seseorang belum terlahir ke bumi, ia telah diperlakukan dengan upacara.  Hal ini terus berlangsung hingga tubuh itu berpisah dengan jiwa dan  akhirnya dimusnahkan sisi jasadnya. Upacara demi upacara membentuk tubuh  orang Hindu Bali dalam menapaki kehidupan, atau dalam lingkup waktu  yang lebih kecil yaitu dalam hidup kesehariannya. Hingga ketika kematian  pun upacara tetap berusaha memberikan "bentuk" terhadap tubuh itu.  Dengan demikian, orang Hindu Bali menyerahkan tubuhnya selama umur tubuh  itu kepada upacara demi upacara yang dikonstruksi oleh ajaran agama  yang sebelumnya telah –dianjurkan untuk– diyakini oleh orang Hindu Bali  sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tubuh yang Disiplin&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;Mempelajari genealogi -meminjam istilah Michel Foucault- tubuh sejak  tradisi agama hingga masyarakat modern adalah menelusuri lorong  kebetubuhan. Dengan begini kita bisa kembali memaknai sejatinya tubuh  yang sudah sedemikian babak belur merasakan disiplin yang disematkan  oleh masyarakat modern. Penelusuran lorong kebertubuhan ini penting  karena tubuh secara sadar atau tidak telah ditunggangi proyek  “kekuasaan”, dikontrol, ditransformasikan, dimanfaatkan, dan juga  diubah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foucault menjelaskan dalam genealoginya pertama tentang sejarah  kegilaan. Orang dianggap gila bukan karena tidak mampu berpikir sehat  (irasional) dan menggunakan tubuhnya dengan baik, melainkan karena  kriteria masyarakat untuk orang sehat. Perihal kedua adalah penjara.  Foucault melihat sistem ruang melingkar (panoptikon), di mana para  penjaga dapat mengawasi setiap gerak narapidana, dapat membangun  disiplin narapidana. Hal ini tidak berhubungan dengan apakah narapidana  sadar mereka sedang diamati tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pada tradisi agama tubuh menjadi instrumen untuk laku penyembahan,  maka pada tradisi masyarakat modern tubuh menjadi instrumen yang  “disembah”. Masyarakat kota modern dengan diferensiasi kerja yang  sedemikian kompleks menuntut keserbacepatan. Kota-kota besar dunia  layaknya New York, Tokyo, bahkan Jakarta, membentuk warganya berperilaku  sibuk. Jadwal harian dan jam mekanis telah memenuhi dan memaksa tubuh  warganya untuk disiplin bekerja. Dalam masyarakat modern, kegilaan  adalah perilaku santai yang minus agenda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Simulakra dan Tubuh Komersil &lt;/b&gt; &lt;br /&gt;blalalalalala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tubuh Otentik&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;Martin Heidegger mengingatkan bahwa kematian bukanlah sekadar fenomena  biasa yang berlaku sama saja dan biasa saja bagi semua orang.  Sebaliknya, ia menegaskan bahwa detik-detik menjelang kematian adalah  saat-saat paling otentik seseorang. Menurut Heidegger, kematian  merupakan akhir dari kemungkinan-kemungkinan, suatu ketidakmungkinan  dari kemungkinan. Maksudnya, ketika manusia telah mati, ia tidak akan  mungkin lagi melakukan hal-hal untuk mewujudkan rencana hidupnya. Segala  aktivitas badani (fisik) pun terhenti karena kematian. Dengan kata  lain, manusia memiliki batas akhir dalam eksistensi kehidupannya di  dunia. Bahkan, dapat dikatakan bahwa manusia adalah  ”Ada-menuju-kematian”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Epilog&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;blalalalalaa&lt;br /&gt;........................la&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;wbr&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;njut&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-6297303379267341407?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/6297303379267341407/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=6297303379267341407' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/6297303379267341407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/6297303379267341407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2010/07/lorong-kebertubuhan-dari-tradisi-agama.html' title='Lorong Kebertubuhan : Dari Tradisi Agama Hingga Sistem Virtual Media Baru'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/TGIm_9XxaWI/AAAAAAAAAK4/UqHIRIBlKWQ/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-5225031884764580032</id><published>2010-04-07T18:18:00.006+07:00</published><updated>2010-06-24T16:29:30.555+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><title type='text'>Filsafat Islam Aliran Peripatetik : Sebuah Pengantar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://iraqicharities.org/admin1/uploads_E/1210853252/al-kindi1.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 266px; height: 345px;" src="http://iraqicharities.org/admin1/uploads_E/1210853252/al-kindi1.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Jika merujuk kondisi mutakhir pembelajaran filsafat di dunia muslim, khususnya muslim Indonesia, terdapat kemajuan yang sangat berarti. Akses terhadap karya-karya filsafat dengan maraknya penerjemahan karya filsafat dari tradisi intelektual Islam (klasik maupun kontemporer) semakin mudah dan mapan. Pembaca awam, peminat kajian filsafat hingga mahasiswa filsafat bahkan sudah bisa mendapatkan bacaan pengantar yang ditulis secara populer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca revolusi Islam Iran pada 1979 yang dipimpin imam Khomeini, lahir gelombang peminatan dan pengkajian tradisi intelektual Islam (khususnya filsafat) secara lebih terbuka. Harus kita akui bahwa secara umum di dunia muslim tradisi pengkajian filsafat pasca Ibnu Rusyd (wafat 1196 M) boleh dibilang hampir tidak ada kecuali di dunia muslim Syiah .(Labib, 2005)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana sudah kita ketahui, istilah filsafat Islam masih dianggap bukanlah istilah yang tepat atau pantas. Filsafat Islam bagi sebagian besar pemikir Barat hanyalah sekedar filsafat muslim atau filsafat Arab. Istilah filsafat Islam hingga era 1970-an seperti diungkap oleh Madjid Fakhri, hanya dilihat sebagai mata rantai yang menghubungkan tradisi filsafat Eropa kuno (Yunani) dan Eropa Modern. Islam dianggap tidak memiliki filsafat sendiri. Kelahiran filsafat non-peripatetik (aliran Iluminasi dan Irfani) di dunia muslim, dianggap tidak relevan. Barulah setelah tokoh seperti Henry Corbin dan Louis Masignon melakukan kajian terhadap filsafat ilmuninasi dan tasawuf al Hallaj, dunia Barat sedikit kehilangan bias europosentrisme.(Kartanegara, 2006)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Mulyadhi Kartanegara, istilah filsafat Islam meski tidak disepakati semua kalangan, layak disematkan. Terdapat beberapa alasan yang mendasari pandangan ini. Pertama, sebelum filsafat Yunani marak dipelajari di dunia Islam, Islam sudah memiliki teologi sendiri tentang keesaan Tuhan (Tauhid) dan hukum Syariah. Filsafat Yunani saat memasuki pandangan dunia Muslim tidak pernah benar-benar menjadi independen karena harus tunduk dengan syariah yang memiliki pandangan tauhid. Kedua, sebagai pemerhati filsafat Yunani, para filosof muslim bersikap kritis dan melakukan revisi terhadap pandangan-pandangan filsuf Yunani dengan teori baru. Tokoh seperti Ibnu Sina, al Ghazali, Suhrawardi dan Ibnu Taymiyah melakukan kritik dengan argumen-argumen baru. Filsafat Yunani di tangan filsuf muslim telah mengalami transformasi radikal. Ketiga, interaksi filsafat dengan agama, telah melahirkan rumusan-rumusan baru dalam teori filsafat yang sebelumnya belum dielaborasi, semisal filsafat kenabian dsb. Ketiga alasan ini memberikan gambaran dinamika yang khas dalam tradisi pengkajian filsafat di di dunia Islam sehingga layak disebut filsafat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makalah ini mencoba membahas filsafat Islam dari aliran Peripatetik (Masyaiyah). Aliran ini merujuk pada pengajaran filsafat oleh Aristoteles. Aliran ini merupakan kategori pertama dari pemerolehan tradisi pengkajian filsafat dalam dunia Islam yang masih mengandaikan logika formal dan penalaran akal. Beberapa filsuf yang bisa dikelompokkan dalam aliran ini adalah al Kindi, al Farabi, Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengertian Aliran Peripatetik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Peripatetik merupakan derivasi kata Yunani peripatein (berkeliling) dan peripatos (beranda). Dalam tradisi Yunani kata ini mengacu pada suatu serambi gedung olahraga di Athena. Istilah Peripatetik mengacu pada cara mengajar Aristoteles yang dilakukan seperti gurunya (Plato) yang dilakukan dengan berjalan-jalan di beranda gedung. Dalam kosakata Arab Islam,  Peripatetik dikenal dengan istilah Masya’iyah (berjalan berputar). Kemudian bisa didapatkan kata al-Masyaun (pengikut).  Istilah ini tidak mengacu pada Platonisme dan Aritotelianisme saja, tapi menurut Sami an Nasyasyar dan syed Hossein Nasr juga mengacu pada Neo Platonisme . (Drajat, 2005)  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tangan para filsuf muslim, peripatetisme mengalami perluasan objek pembahasan. Terdapat sintesa antara ajaran Plato, Aristoteles, Plotinus serta wahyu. Hal ini menunjukkan keterbukaan dan penerimaan yang baik dari para filsuf muslim. Tradisi  filsafat ini dianggap sebagai identik dengan istilah hikmah dalam ajaran Islam yang terdapat dalam kitab suci.(Drajat, 2005, 76-78)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Metodologi dan Epistemologi Aliran Peripatetik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Terdapat beberapa hal untuk mengenali kekhasan dari aliran ini berdasarkan metodologi dan epistemologinya. Pertama, modus ekspresi dan dan penjelasannya bersifat diskursif (bahtsi). Yaitu menggunakan silogisme (logika formal dan penalaran akal). Berupa penarikan kesimpulan dari pengetahuan yang sudah diketahui dengan baik. Kedua, karena membutuhkan silogisme, maka penalaran dilakukan melalui proses representasi (tak langsung/hushuli/perolehan). Ketiga, penekanan yang kuat pada daya rasio sehingga tidak memprioritaskan pengetahuan melalui pengenalan intuitif (kehadiran/knowledge by presence/hudhuri). (Kartanegara, 2006, 26-29)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri khas lain dari aliran ini adalah dalam persoalan ontologis. Ajaran Hylomorfisme adalah sebutan untuk pemahaman ontologinya. Hylo (hyle/materi) dan morphis (bentuk)  adalah unsur utama dari apapun yang ada di dunia. Pandangan ini adalah reformasi dari dari ide Plato tentang dunia ini yang terdiri dari ide dan bayang-bayangnya. Aristoteles merumuskan bahwa materi tidak lain dari bayang-bayang dan bentuk merupakan ide. Materi (bahan) tidak akan mewujud atau mengaktual jika  tidak bergabung dengan bentuk (hakikat). Baik al-Farabi maupun Ibnu Sina menyebut akal aktif (al-’aql al-fa’al) sebagai pemberi bentuk. Alam fisik ini menurut mereka adalah bahan yang siap (potensial) menerima bentuk. Ibnu Sina menyebutnya sebagai Mumkinul Wujud (wujud mungkin). Mumkinul wujud ini baru akan memiliki bentuk jika akal atif-sering disebut sebagai malaikat Jibril- bekerja memberikan bentuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan lain yang merupakan pandangan khas yang muncul dari para filsuf peripatetik muslim adalah teori emanasi. (Kartanegara, 2006, 2-9-31)Teori emanasi dari para peripatetik muslim muncul dari ketidakpuasan dan sedikitnya penjelasan soal wujud Tuhan dalam ajaran metafisika Aristo. Teori Emanasi mencoba menjawab pertanyaan tentang bagaimana dari wujud yang Esa bisa muncul alam semesta yang beraneka. Saat diktum filosofis dari logika hanya meniscayakan dari yang esa hanya muncul yang esa juga, maka lahirlah apa yang disebut sebagai Murajjih (alasan cukup/the sufficient reason).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasar teori emanasi al-Farabi, Tuhan yang maha Esa adalah akal yang kerjanya adalah berpikir. Sebagai konsekuensi pikiran, muncullah Akal Pertama (al-Aql al-Awwal) yang wujud dan  sifatnya sangat identik dengan Tuhan. Karena Tuhan itu maha Esa, maka hanya muncul satu akal saja sebagai akibat. Dari Akal Pertama muncul keanekaragaman karena dia tidak hanya berpikir Tuhan tapi juga tentang dirinya. Akal pertama sudah memiliki dua prinsip, prinsip keanekaan dan prinsip keesaan. Selanjutnya muncul akal-akal berikutnya dari akal dua hingga akal ke-10. Bagi para filsuf seperti al-Farabi, alam semesta tercipta berdasarkan atas prinsip keniscayaan. (Kartanegara, 2006, 33-38)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Sina melengkapi teori al-Farabi. Teori emanasinya hampir sama dengan teori al-Farabi. Beberapa hal yang perlu dicatat adalah; pertama,  Dia menjelaskan wujud berdasarkan tiga kelompok, wajibul wujud, Mumtani al-Wujud, dan Mumkinul Wujud. Tuhan tentu saja adalah wajibul wujud yang senantiasa aktual. Mumtani al-Wujud tidak merujuk apapun karena kemustahilannya. Sementara Mumkinul wujud adalah wujud potensial. Mumkinul wujud merujuk pada alam semesta ketika masih berpotensi. Ketika sudah pada tahap maujud, maka dia disebut sebagai wajibul wujud lighairihi (wujud wajib yang bergantung).  Kedua, karena akal pertama dan akal selanjutnya dapat berpikir tentang tiga macam, maka akibatnya juga tiga macam. Pengecualian terdapat pada akal kesepuluh karena tidak dapat lagi melahirkan akal ke sebelas karena memberikan bentuk pada materi, menimbulkan alam fisik yang fana berupa dunia kejadian (generasi) dan kehancuran (korupsi) berupa dunia bawah bulan (sub lunar world) yang kita tempati saat ini tempat munculnya hewan, tumbuhan, batuan dan manusia. (Kartanegara, 2006, 38-42)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian singkat ini bisa kita tarik kesimpulan bahwa peran para filsuf peripatetik muslim dalam pemikiran filsafat, telah melanjutkan dengan baik tradisi filsafat Yunani melalui pemikiran baru yang merupakan kritik mendalam dan juga apresiasi terhadap  jejak pemikiran filsafat para filsuf sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produk pemikirannya baik berupa logika, metafisika, kosmologi dan psikologi tidak sekedar jembatan emas seperti yang diasumsikan banyak pemikir yang terkena bias eurosentrisme, tapi merupakan warisan intelektual sangat berharga yang lahir dari komitmen yang mendalam dan kecintaan terhadap apa yang diwahyukan dalam kitab suci sebagai hikmah.[ ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ditulis untuk mata kuliah asas-asas filsafat islam yang diampu oleh Aan Rukmana&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;1  Kalau dipahami dinamika tradisi pewarisan ilmu-ilmu tradisional Islam (khususnya tradisi pengkajian filsafat) sebagai sesuatu yang berkelanjutan sejak filsuf muslim pertama (al Kindi) hingga hari ini, maka tidak lahir seorang pun filsuf dari dunia muslim sunni sejak al Ghazali melancarkan kritik keras terhadap filsafat. Sementara tradisi pengkajian filsafat di dunia Syii terus berlanjut. Dengan merujuk hasil karya Mulla Shadra hingga Thabathabai misalnya, warisan pemikiran filsafat itu bisa kita dapatkan. Karena itu jika merujuk hasil karya dan pemikiran cendekiawan muslim pembaharu seperti Harun Nasution dan Nurcholish Madjid (muslim sunni), keduanya tidaklah bisa dikategorikan atau disebut sebagai filsuf muslim, tapi hanya sebatas teolog muslim.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;2   Amroeni Drajat mengutip pendapat dari  Sami an-Nasysyar dan Seyyed Hossein Nasr perihal asal usul istilah ini. Kajian Peripatetik menurut kedua tokoh ini juga mencakup Neo- Platonisme yang dibungkus dengan baju Islam. Neo Platonisme merujuk pada Plotinus (lahir 205 M di Mesir). Ia guru filsafat yang mencoba memadukan ajaran Plato dan Aristo meskipun pada prakteknya lebih cenderung pada ajaran Plato. Sementara menurut Mulyadhi Kartanegara istilah peripatetik ini merujuk kepada pengikut setia Aristoteles.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;3 Teori tentang cahaya (pancaran)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Daftar Pustaka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Labib, Muhsin, 2005, Para Filosof: Sebelum dan Sesudah Mulla Shadra, Al Huda : Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartanegara, Mulyadhi, 2006, Gerbang Kearifan: Sebuah Pengantar Filsafat Islam, Lentera Hati: Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drajat, Amroeni, 2007.Suhrawardi: kritik filsafat peripatetik, Lkis, Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-5225031884764580032?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/5225031884764580032/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=5225031884764580032' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/5225031884764580032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/5225031884764580032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2010/04/jika-merujuk-kondisi-mutakhir.html' title='Filsafat Islam Aliran Peripatetik : Sebuah Pengantar'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-6631732787163317163</id><published>2010-04-07T18:07:00.003+07:00</published><updated>2010-04-07T18:14:39.932+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Urban'/><title type='text'>Inilah Jakarta!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/S7xodi7hmoI/AAAAAAAAAJ4/rG64pkZrN7I/s1600/wall+paper+jakver+2010.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 223px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/S7xodi7hmoI/AAAAAAAAAJ4/rG64pkZrN7I/s320/wall+paper+jakver+2010.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5457351705268165250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dalam buku Bang Ali : Demi Jakarta (1966-1977), Mochtar Lubis yang memberikan pengantar untuk biografi mantan gubernur Jakarta Ali Sadikin yang ditulis Ramadhan K.H, mengatakan bahwa seandainya dia yang menjabat presiden RI, biografi itu akan dijadikan buku wajib. Nilai dan kekuatan buku itu menurutnya ada pada banyaknya pelajaran yang bisa dikutip dari bagaimana gubernur Jakarta selama dua periode menceritakan pengalaman memerintahnya dengan polos dan terus-terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, dari biografi Bang Ali itu, cerita Jakarta meski dengan sudut pandang penguasa bisa terkuak. Sebagai ibukota, Jakarta pada 1966 mengalami banyak krisis. Mulai dari krisis angkutan, perumahan, telepon, sarana pendidikan, hingga lapangan kerja. Dibutuhkan kreatifitas tingkat tinggi dari seorang penguasa Jakarta untuk merespon segala masalah kemerosotan fisik kota seperti gang-gang becek, perumahan kumuh,  maupun masalah sosial seperti bentrokan antar kampung, pelayanan kesehatan hingga kehidupan budaya dan seni. Spontanitas reaksi Bang Ali misalnya, terlihat ketika seorang sopir truk besar tidak memberi kesempatan pada mobil-mobil lain untuk mendahuluinya. Mobil truk dikejar, dihentikan, sopirnya disuruh turun dan sebuah tempeleng dari bang Ali melayang ke pipi sang sopir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita Jakarta lainnya (lebih kontemporer) bisa didapat Buku Jakarta Inside Out-nya Daniel Ziv. Bekas pengelola majalah gaya hidup Djakarta ini menampilkan Jakarta dengan kaya dan detail. Mungkin juga kocak dan satir. Misalnya soal industri demo dan orang kaya baru (OKB) di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Industri demo yang marak terjadi setelah reformasi 1998, Ziv menampilkan tiga gambar berbeda dari seorang demonstran bayaran yang didapatnya dari sebuah tabloid politik. Ziv menulis, ”..for a quick-response demo, certain slums in the capital are known for their easy, immediate supply : at Kalipasir in Central Jakarta, for example, 100 demostrators can usually be rounded up at a moment notice. “.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang OKB, Ziv memasukkan kelompok petinggi militer, pebisnis muda, artis baru naik daun, politisi bau kencur dan anak orang kaya ke dalam golongan ini. Karakter kelompok ini menurutnya adalah mereka yang tidak terpengaruh dengan krisis ekonomi dan kadang tidak tau untuk apa dan dibagaimanakan duit mereka. Kendaraan Maserati dan  S-Class Mercedes-nya bisa melenggang bebas di antara kepulan asap Bajaj dan petikan gitar pengamen jalanan di setopan lampu merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua nama lagi yang paling digemari kini bukunya harus disebutkan; Benny dan Mice. Haha. Buku mereka, Seratus tokoh yang mewarnai Jakarta  Boleh dibilang masterpiece. Bagaimana presenter TV, bencong taman lawang dan aktivis politik digambarkan dengan menggemaskan sebagai tokoh yang menghiasi dan menjadi wajah Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ragam wajah Jakarta yang pernah dituturkan dan berserak dalam buku atau koran tersebut, wartawan paramadina magazine mencoba mengais narasi baru, mungkin memperdalam kalau tidak disebut mencari tahu. Tidak hanya tokoh-tokohnya tapi juga sejarah, dan menyelipkan pertanyaan tentang bagaimana semua itu bermula dan siapa saja yang pernah terlibat. Mengapa begini dan begitu?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah ada seratus empat puluh sub tema di dapat setelah tujuh tema penulisan tentang Jakarta di susun. Melalui penyelusuran sejarah gang-gang kecil, bagaimana cara para pengamen jalanan tidur, di toko apa cat pagar istana dibeli, hingga ada berapa jumlah festival yang terselenggara setiap tahunnya di jakarta, narasi jakarta dan apa yang vernacular (asli) dari kota ini diungkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo ....mari terlibat menjadi salah satu penulis, fotographer, moviemaker, penyaji dan penikmat Jakarta melalui Jakarta Vernakular 2010....inilah Jakarta!!!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-6631732787163317163?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/6631732787163317163/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=6631732787163317163' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/6631732787163317163'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/6631732787163317163'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2010/04/inilah-jakarta.html' title='Inilah Jakarta!'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/S7xodi7hmoI/AAAAAAAAAJ4/rG64pkZrN7I/s72-c/wall+paper+jakver+2010.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-7563123165843687135</id><published>2010-03-25T11:10:00.006+07:00</published><updated>2010-03-25T11:34:02.788+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><title type='text'>Pluralisme dalam Pandangan Tafsir al-Tabari</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.cis.psu.ac.th/fathoni/lesson/sci/tabari.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 274px; height: 357px;" src="http://www.cis.psu.ac.th/fathoni/lesson/sci/tabari.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dalam agama,  kitab suci (wahyu) adalah elemen terpenting kedua untuk dipahami setelah kepercayaan kepada dzat Tuhan. Sang manusia suci pembawa wahyu ini dalam peradaban manusia kemudian dikenal sebagai rasul atau nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pemahaman yang mengandaikan pentingnya telaah kritis terhadap misi ataupun ajaran yang dibawa suatu kitab suci, maka perlu diperdalam apa saja klasifikasi yang dapat dihadapkan pada kategori ayat-ayat dari kitab suci tersebut. Berdasarkan pembagian berdasarkan sifatnya, maka ayat-ayat yang terdapat dalam kitab suci terbagi menjadi dua golongan saja: Ayat muhkamat (doktrin) dan Ayat Mutasyabihat (peradaban).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alquran, teks kitab suci dengan klaim universalnya jika ditelaah lebih banyak mengandung ayat-ayat yang bersifat peradaban dibanding doktriner. Faktor ini membuat Alquran terlihat memiliki banyak metafor dan bergaya sastrawi.  Kemungkinan inilah yang menyebabkan Alquran sangat membutuhkan pencarian makna (penafsiran).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan sejarahnya kemudian, penafsiran kadang menjadi semacam ilmu apologia yang melindungi Alquran dari berbagai kritik dan kecaman. Pada tahap lainnya tafsir menjadi bagian ilmu teologia yang merumuskan kesucian, kesempurnaan dan keilahian dari kitab suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperhatikan penulisan Alquran yang sudah berlangsung ribuan tahun lalu dan penafsiran sudah berlangsung sejak masa nabi (secara verbal) oleh para sahabat semisal Ibnu Masud dan Abdullah bin Abbas, maka penafsiran boleh dikatakan sangat  berperan dalam menjadikan Alquran sebagai kitab suci yang kontekstual dan dibutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini ingin melacak intepretasi yang dilakukan oleh para penafsir terdahulu terhadap ayat-ayat berkategori peradaban yang banyak menjadi bahan diskursus publik kini. Misalnya diskursus tentang pluralisme agama. Menurut Abdul Moqsith Ghazali dalam Metodologi Studi Alquran, semaraknya penulisan tafsir Alquran di mulai sejak abad ketiga Masehi dan dirintis oleh sosok Ibnu Jarir al-Tabari (838-923 M).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kehidupan Sosial-Intelektual al-Tabari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nama lengkapnya Abu Jafar Muhamad ibn Jarir ibn Yazid ibnu Khalid al-Tabari. Lahir di Amol, Sasanian, Tabaristan, Iran Selatan, di sebuah daerah pegunungan  di pesisir laut Kaspia.  Al-Tabari lahir pada 838 Masehi (224 Hijrah) dan wafat Tahun 923 Masehi (310 Hijrah).  Ia merupakan ulama yang menulis banyak karya dari berbagai disiplin ilmu seperti fiqh, al Quran, hadits, kalam, dan etika. Tapi perjalanan sejarah muslim membuatnya lebih terkenal sebagai ahli tafsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Tabari seorang yang cerdas. Ia mulai bisa membaca dan hafal Alquran pada usia 7 tahun. Setelah menerima pendidikan awal dalam ilmu-ilmu agama di Amol, dia melanjutkan studinya di Rayy dan Baghdad, yang dicapainya sekitar tahun 855. Tahun 857 ia mengunjungi Basra, Wasit, dan Kufah untuk belajar pada  ulama terkenal di sana. Setelah itu ia kembali ke Baghdad dan mempelajari ilmu fiqih sesuai dengan ajaran al-Syafi'i yang diikuti selama beberapa waktu sebelum membuat doktrin sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengunjungi beberapa kota di Suriah al-Tabari pergi ke Mesir pada 867 M, di mana dia sudah menjadi ulama terkenal dan dihormati. Setelah meninjau kembali Suriah ia kembali lagi ke Mesir untuk tinggal lagi pada  870 M. Di Mesir ia membela doktrin ijtihad dalam perdebatan dengan ulama terkemuka dari mazhab Syafii, al-Muzani. Ia kembali ke Baghdad untuk tinggal di sana selama sisa hidupnya, meskipun ia kemudian melakukan minimal dua kali perjalanan ke Tabaristan, yang kedua pada 903.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mendedikasikan waktunya untuk mengajar dan menolak tawaran untuk menjadi hakim. Kuliahnya diminati. Tapi Penolakannya terhadap fiqh Hambali membuatnya mempunyai musuh. Al-Tabari dituduh melakukan bidah. Rumahnya diserang, siswanya dilarang mengikuti kuliahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarikh al-Tabari, karya terbesarnya selesai tahun 915, dimulai dengan usia para nabi, bapa bangsa, dan raja-raja awal, diikuti oleh sejarah Sassania, usia Muhammad, dan era Islam pada tahun 915. Setelah Hijrah (622) periodesasi diatur secara analitis. Al-Tabari secara teliti menyebutkan sumber-sumbernya, yang sebagian besar hilang, dan mereproduksi mereka tanpa perubahan. Sering ia mengutip dua atau lebih laporan yang saling bertentangan pada peristiwa yang sama. Dengan sedikit pengecualian ia menunjukkan diskriminasi yang luar biasa dalam pemilihan sumber-sumbernya. Terutama bagian sejarah Umayyah Sassania. karya al-Tabari lain yang hilang kecuali beberapa fragmen dan risalah kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Corak dan Metode Tafsir Jami’ al-Bayan fi Tafsir Ayi al-Quran karya al-Tabari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Para akademisi membagi corak dan metode penafsiran menjadi beberapa jenis. Seperti maudhui, tahlili, bilmatsur, bi ra’yi, bil harfi, bi siyaqi, dan bi librali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tafsir al-Tabari, merujuk apa yang dilakukan oleh al-Tabari dalam proses penafsiran al-Quran dengan memasukkan banyak kisah Israiliyat yang diceritakan dalam tafsir al-Tabari termasuk jenis tafsir tahlili dan bi ra’yi. Misalnya tafsiran yang dilakukan tabari terhadap kisah Uzair anak Allah yang merupakan tokoh yang digelari putra Allah karena jasanya membawa kembali Taurat yang sempat hilang setelah ulama-ulama yahudi dibunuhi oleh raja Nebukadnezar dari Babilonia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya penguasaan al-Tabari terhadap sejarah kisah Israiliyat ini membawa pandangan Perenialisme dalam corak tafsirnya. al-Tabari terlihat apresiatif terhadap apa yang oleh sebagian kalangan disebut ahli kitab. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa al-Tabari meyakini bahwa terdapat kesatuan atau keberlanjutan antara agama-agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;al-Tabari, misalnya menafsirkan bahwa umat Nasrani juga melakukan puasa dengan tatacara yang berbeda. Misalnya 3 hari dalam sebulan. Tabari menjelaskan ini dalam jilid 2 hal 135-136.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam soal hukum Qisas, Tabari menjelaskan bahwa dalam surat al-Maidah (5) ayat 45 ”.....kami tetapkan di dalamnya (Taurat) bahwasanya nyawa dibalas nyawa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka pun ada qisas-nya.......”  Ayat ini menurut penafsirannya untuk mengingatkan kembali orang Yahudi Madinah yang sudah mulai melupakan doktrin kitab sucinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam soal orang yang keluar dari Islam (murtad) al-Tabari juga menggambarkan bahwa orang tersebut hanya akan merugi di akhirat. Misalnya dalam kasus keluarnya Harits bin Suwaid, seorang Ansor yang kembali menjadi musyrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ayat Pluralis dan Penafsiran al-Tabari &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Terdapat banyak ayat yang bisa dijadikan contoh sebagai ayat peradaban yang sedang membicarakan hubungan atau interaksi sosial antara pemeluk ajaran Islam dan berpegang teguh pada ajaran Alquran. Berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Qs Hud (11) ayat 117 “Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan satu bangsa secara zalim manakala penduduknya berbuat kebaikan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Qs Hud (11) ayat 118 “Andaikata Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu. Dan (tetapi) mereka senantiasa berbeda”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Qs al-Maidah (5) ayat 48 “...bagi masing-masing kalian telah kami buatkan jalan menuju kebenaran (syir’ah) dan metodologinya (minhaj).  Andaikata Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikanNya satu umat saja. Tetapi Allah hendak menguji kalian terhadap pemberianNya kepada kalian. Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allahlah kalian kembali semuanya, lalu diberitahukanNya kepada kalian apa yang telah kalian perselisihkan itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Qs al-Baqarah (2) ayat 256 “Tidak ada paksaan dalam beragama”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Qs al-Hajj (22) ayat 17 “Sesungguhnya orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shabi’ah, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang orang Musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap kelompok ayat-ayat ini, dalam penafsirannya terlihat pandangan al-Tabari yang untuk konteks sekarang bisa digolongkan sebagai pandangan liberal. Patut dicatat bahwa al-Tabari juga memperluas makna Ahlul Kitab menjadi Shabiun. Pengakuan terhadap ahlul kitab juga tidak berhenti pada penganut agama pada masa sebelum dan saat kerasulan Nabi Muhamad, tapi juga diperluas hingga anak keturunan orang Yahudi dan Nasrani masa selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Qs Ali Imran (3) ayat 64 “Katakanlah: Hai ahli kitab marilah berpegang kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak (pula) sebagian kita  menjadikan yang lain sebagai Tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu al-Tabari menafsirkan ayat Kalimatun Sawa tadi dengan prinsip keadilan, yaitu kalimat Tauhid dan menghindar dari upaya untuk mensekutukanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pembacaan seksama terhadap corak penafsiran dan pandangannya sangat apresiatif (soft) terhadap pluralisme, pandangan al-Tabari juga tidak kehilangan ketegasan dalam penyikapannya terhadap tekanan (kedzaliman dan ketidakadilan). Misalnya tentang wajibnya kaum muslim berpartisipasi dalam perang (jihad qital) saat kaum musyrik Makkah melakukan gangguan keamanan terhadap muslim Madinah.[ ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ditulis sebagai paper untuk mata kuliah tafsir quran yang diampu oleh Dr. A Moqsith Ghazali&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Daftar Pustaka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Thabari, Jami al Bayan fi Ta’wil al-Quran, Beirut, Darul Fikr&lt;br /&gt;Ghazali, Abd.Moqsith, 2009. Argumen Pluralisme Agama, Jakarta. Katakita&lt;br /&gt;Ghazali, Abd.Moqsith, dkk, 2009. Metodologi Studi al-Quran, Jakarta. Gramedia.&lt;br /&gt;http://www.answers.com/topic/muhammad-ibn-jarir-al-tabari&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-7563123165843687135?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/7563123165843687135/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=7563123165843687135' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/7563123165843687135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/7563123165843687135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2010/03/pluralisme-dalam-pandangan-tafsir-al.html' title='Pluralisme dalam Pandangan Tafsir al-Tabari'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-4265840456424399247</id><published>2010-03-18T14:44:00.003+07:00</published><updated>2010-03-18T15:30:22.129+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Virgin Palmerah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/S6HkVS-J9kI/AAAAAAAAAJw/p6-XXih90cw/s1600-h/psikologi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 226px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/S6HkVS-J9kI/AAAAAAAAAJw/p6-XXih90cw/s320/psikologi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5449888078615934530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Matahari sedang berada di atas ubun-ubun. Jarum jam menunjuk pukul 11.33 pada Ahad (15/03). Empat mobil mengkilat meluncur keluar dari gerbang Universitas Paramadina. Delapan belas mahasiswa memulai perjalanan setelah sebelumnya melakukan doa bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombongan ini dipimpin Sulistyowati, mahasiswi angkatan 2008. Ada tujuh kardus berisi oleh-oleh dan satu box besar makan siang dari restoran Amerika AW yang dibawa. Sulis hari itu menjadi ketua pelaksana bakti sosial Himpunan Mahasiswa Psikologi (Himapsi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melewati tol Pondok Ranji, rombongan harus menembus jalan kampung kecil berlubang dan dipagari banyak spanduk caleg (calon legislatif) DPR. Jalan kampung ini berada di kawasan sektor sembilan Bintaro. Setelah parkir di depan sebuah rumah yang memelihara ayam, Sulis dan rombongannya tiba di tempat tujuan setelah sekitar setengah jam menempuh perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh meter dari rumah tempat mobil diparkir, sebuah baligo digital printing (cetak digital) terpasang, ”Al Irsyad Cell and Foto Studio.” Di bawahnya terbaca cukup jelas keterangan kalau gedung itu adalah sebuah yayasan yatim piatu dan dhuafa. Gedung berlantai dua itu belum lagi selesai dibangun. Ruangan depannya dipakai untuk toko aksesoris dan pulsa telepon. Dari etalase tampak beberapa edisi buletin terbitan yayasan dan pernak-pernik ponsel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat memasuki gedung, di ruangan tengah dua puluh lima orang anak sudah duduk melingkar. Wildan, salah satu pengasuh di yayasan ini memimpin penyambutan. Sama seperti tamu-tamunya, pengasuh satu ini masih berstatus mahasiswa. Ia kuliah di jurusan manajemen sebuah universitas swasta kecil di selatan Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulis memberi tahu bahwa sesuai janji pada pertemuan sebelumnya, dia datang membawa bantuan baju, buku dan peralatan sekolah. Usai perkenalan singkat antara rombongan mahasiswa Paramadina dan tuan rumah, termasuk pembina yayasan Ustadz Wahyudin, makan siang bersama dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lantai atas terdapat dua kamar. Satu kamar besar dihuni sekitar dua belas orang anak lelaki. Satu kamar lagi dihuni tiga pengasuh perempuan. salah satunya memiliki bayi. Sementara anak perempuan sebanyak enam orang, tidur di kamar lantai satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan kamar lantai atas itu terdapat lemari berpintu banyak (loker) buatan tangan seadanya. Kiranya di lemari triplek sederhana itulah anak-anak yayasan menaruh pakaian dan barang-barangnya. Terdapat banyak tulisan spidol berisi peringatan dari sang pemilik loker untuk tidak coba-coba membuka barang pribadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu loker ditempeli poster grup musik Slank. Loker lainnya ditempeli stiker bertuliskan ”Senyum Lebar Rejeki Lancar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kamar anak lelaki, terdapat kaca cermin besar dan jadwal piket. Jadwal ditulis dalam bahasa Inggris, ”schedule of cleaned.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima kasur Palembang dilipat di pojok kamar. Beberapa bantal kusam kecoklatan tanpa sarung ditumpuk. Mungkin iseng, bantal-bantal itu dihiasi tulisan spidol ; ”Toekul, Twocool, Friendship.” Satu bantal lainnya ditulisi “Virgin Palmerah”. Entah apa maksudnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Anak di sini ada yang dari Jawa, Cirebon, Pasar Baru, Serang dan Tangerang,” jelas Abdul Khaliq, anak asuh asrama paling antusias di antara kawan-kawannya. Khaliq masih siswa SMP kelas VII. Dia mengaku seharusnya sudah duduk di kelas IX. Karena sempat putus sekolah, itu alasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan lebat tiba-tiba turun mengguyur. Dua buah kasur Palembang tergeletak di teras luar lantai dua dibiarkan basah. ”Sudah tidak dipakai lagi Kak. Kasurnya sudah bolong dan tipis,” ungkap Khaliq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khaliq bersegera ke kamar pengasuh di lantai bawah di bagian depan. Di kamar itu terdapat ranjang lipat ganda dan baju-baju yang digantungkan ke dinding. Ia mendapati tumpukan buku basah di atas meja terkena rembesan air hujan. Meski perabotnya lebih banyak dibandingkan kamar anak asuh lelaki di lantai dua, kamar itu juga bocor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanyta Yuarifina, humas bakti sosial ini juga tengah terlihat sibuk mengusir banjir dengan kain pel di ruangan depan. Menurut Sulis, Tanyta-lah yang mengusulkan untuk membantu yayasan al Irsyad. Tanyta mendapat informasi tentang yayasan dari tetangganya yang sering memasok kambing aqiqah ke sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruangan di lantai bawah sebenarnya lebih luas, karena basah kebanjiran maka diputuskan untuk menggunakan kamar anak lelaki sebagai tempat permainan. Sulis sudah menyiapkan games untuk menghibur anak-anak yatim tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibagi dalam enam kelompok dengan masing-masing pembimbing, permainan menyusun puzzle dari delapan lembar kertas yang harus di susun menjadi persegi panjang itu berlangsung meriah. Di tengah hujan lebat yang mengguyur di luar sana, permainan berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai games yang efektif menghadirkan suasana akrab, Sulis mengajak anak-anak yayasan bersenandung. Beberapa peralatan musik Marawis disiapkan. Sulis pun mulai melantunkan lagu-lagu shalawatnya yang sudah populer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sofia Tri Putri, ketua umum Himapsi, kegiatan ini adalah bagian pertama dari rangkaian bakti sosial yang akan dilakukan selama periode kepengurusannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami selanjutnya akan mengunjungi panti jompo dan balita. Kegiatan kunjungan dibuat berdasarkan usia. Kalau yayasan yatim ini kan usia anak-anak dan remaja,” jelas Sofia, mahasiswi angkatan 2006 terkait latar belakang kegiatan kunjungan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore tiba, satu-persatu acara selesai. Hujan mulai reda. Rombongan bersiap kembali ke Paramadina. Di gedung yayasan yatim piatu dan dhuafa yang belum sepenuhnya rampung, Khaliq dan kawan-kawannya kembali pada kesehariannya, menuliskan kisah hidup dan cita-citanya, menyambut malam dengan bantal bertulis ”Virgin Palmerah.” [MH]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-4265840456424399247?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/4265840456424399247/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=4265840456424399247' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/4265840456424399247'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/4265840456424399247'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2010/03/virgin-palmerah.html' title='Virgin Palmerah'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/S6HkVS-J9kI/AAAAAAAAAJw/p6-XXih90cw/s72-c/psikologi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-2899854317315643458</id><published>2010-01-13T09:28:00.006+07:00</published><updated>2010-08-11T11:44:31.613+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><title type='text'>Menggerakkan Mahasiswa Paramadina</title><content type='html'>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/S00xwNPcTeI/AAAAAAAAAJo/P0JKEJ6BP-I/s1600-h/menggerakkan+mahasiswa+paramadina+aie.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5426047830309228002" src="http://4.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/S00xwNPcTeI/AAAAAAAAAJo/P0JKEJ6BP-I/s320/menggerakkan+mahasiswa+paramadina+aie.jpg" style="float: left; height: 320px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 214px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="left"&gt;&lt;td class="tr-caption"&gt;foto Dimas&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Dengan sedikit menggunakan pikiran Marxian, bisa dibilang bahwa manusia pada dasarnya adalah binatang pekerja. Bekerja membuat manusia memiliki status dan prestasi. Tapi bekerja seperti apa yang lebih bermakna dan memberi nilai-nilai kebaikan lebih? Bekerja sebagai buruh biasa atau bekerja sebagai produsen dan pemilik modal. Bekerja untuk pencapaian prestasi pribadi atau bekerja untuk membebaskan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda keduanya adalah otoritas kepemilikan. Sebagai produsen atau konsumen. Buruh bekerja berdasar kehendak ekonomi politik orang lain. Sementara pemilik modal bekerja berdasarkan kehendak ekonomi politik sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencermati bagaimana manusia bekerja, marilah menengok ke arah kampus Paramadina.Populasi mahasiswanya sedikit. Rata-rata punya jadual padat (baca: punya kerjaan). Seorang teman mahasiswa pernah bilang kalau dia baru saja meng-hire manajer untuk atur jadual hariannya. Maklum artis. Woalahhh.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sih definisi artis? Artis itu manusia sibukbekerja. Biasanya sibuk syuting dan pemotretan. Sesekali terlibat kegiatan sosial. Yang lainnya entah sibuk mengerjakan apa. Mungkin sibuk sendiri (autis). Mungkin juga sok sibuk.Pada dasarnya semua manusia sibuk layak disebut artis. Bukan hanya pemain film atau penyanyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi klaim artis tersebut perlu dikritisi. Sudah sejauh apa levelnya. Begitu juga dengan teman mahasiswa yang punya manajer tadi. Setahuku dia masih kalah sibuk dibanding Dakota Fanning. Nah loh. Kok begitu? Ya iyalah, kan artis Indonesia jarang dapat piala Oscar. Kok jarang? Bukannya belum pernah ada yang terima?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin yang membedakan seorang artis itu bermutu atau tidak adalah kualitas aktivitasnya. Berpengaruh dominan pada publik atau tidak. Bisa main film sampai dapat award sekelas Oscar atau sekedar bisa akting standar sinetron. Entahlah, belum ada penelitian tentang sejauh apa kualitas keartisan mahasiswa Parmad. Jadi, perlulah mahasiswa Parmad itu didorong untuk bisa jadi artis berkelas penerima Oscar. Demi status dan penghargaan lebih tinggi yang layak dibanggakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keterasingan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana masyarakat modern urban lain, mahasiswa Parmad juga berhadapan dengan apa yang disebut keterasingan (alienasi). Rasanya sudah melakukan banyak hal tapi sebenarnya pencapaiannya palsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Merasa artis” itu palsu. Geer.Karena menjadi artis kelas penerima Oscar mensyaratkan kerja keras dan cerdas. ”Merasa” adalah perilaku meniru atau mengkonsumsi gaya artis. Bukan melakoni sosok artis itu sendiri dalam definisi sejatinya. Sok artis, sok sibuk. Manusia yang sok sibuk dan menyibuk-nyibukkan diri adalah manusia teralienasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterasingan ini beragam bentuknya. Misalnya dengan langsung pulang setelah kuliah. Kampus Parmad buat sosok mahasiswa seperti ini hanya tempat mengisi absensi kuliah dan setelah tiga tahun berhak terima Toga. Ini bentuk keterasingan yang pasif dari mahasiswa terhadap kampus (apolitis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterasingan lainnya bisa dalam bentuk overload kegiatan kampus. Maksudnya, kegiatan banyak dilakukan tapi kurang terorganisir, tumpang tindih, dan berbiaya tinggi. Kegiatan studi padat, tapi mahasiswa masih gagap saat beragumentasi. Respon terhadap kondisi sosial masyarakat masih lemah. Ini juga bentuk keterasingan mahasiswa yang banyak melakukan studi dan beraktivitas tapi tidak mampu berhadapan dengan realitas. Kurang kritis. Ini bentuk yang aktif dari keterasingan (aktifisme).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterasingan membuat manusia kehilangan rasa nikmat dan bahagia. Keterasingan berhubungan dengan tidak didapatnya makna. Keterasingan adalah perasaan hampa. Keterasingan adalah hilangnya tujuan atau motif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kenikmatan dan Hasrat Berkuasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sikap apolitis ekstrem ataupun aktifisme ekstrem akan berhadapan dengan keterasingan. Keterasingan terjadi karena perspektif tentang apa yang aktual dan harus jadi prioritas untuk dikerjakan tidak dipahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua manusia, termasuk artis mahasiswa memiliki hasrat untuk mengejar kenikmatan (hedonisme). Sikap apolitis dan aktifisme juga dipilih berdasarkan hasrat mengejar nikmat ini. Ini motif primordial. Apolitis dan aktifisme ini dalam arti sebenarnya juga memiliki motif berkuasa. Entah berkuasa terhadap apa. Nir-ideologi. Dekonstruktif. Pasca struktur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memahami apa yang bermakna dan layak untuk dikuasai itulah terjadi perbedaan pandangan. Kekuasaan dan hasrat terhadapnya seringkali direduksi hanya dengan menyimbolkan bahwa dengan menjadi ketua Senat Mahasiswa maka seorang mahasiswa sudah paling berkuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran seperti ini kiranya tidaklah lebih maju dari pikiran manusia yang lahir saat logam mulia seperti emas menjadi satu-satunya simbol dari kesejahteraan dan kemakmuran yang harus diburu. Mungkin juga tidak lebih maju dari zaman di mana para tuan tanah feodal menjadi begitu berkuasa secara absolut dengan kepemilikannya terhadap berhektar-hektar lahan pertanian dan gilda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran lebih maju mensyaratkan penyebaran hasrat kuasa yang lebih beragam. Tidak melulu terhadap hal-hal material, tetapi juga imaterial. Hasrat terhadap kekuasaan tidak lagi tersebar pada pengagungan status berdasar kepemilikan emas, lahan pertanian, muka cantik, kulit bersih, gadget terbaru dan merek mobil, tapi lebih pada hegemoni kekuatan pengetahuan dan kemudahan akses terhadap informasi (power and knowledge). Apalah artinya semua kepemilikan lebih dari satu merek mobil mewah bagi seorang anggota DPR di negara dunia ketiga seperti Indonesia jika semua itu didapat dari prestasi pribadi menerima suap atas diloloskannya UU Penanaman Modal Asing (PMA) yang pro negara maju dan menindas kedaulatan negara sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tantangan Untuk Bergerak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di tengah sulitnya mencari kambing hitam dan menentukan apa atau siapa yang harus dilawan, pikiran holistik dibutuhkan. Keterasingan terhadap profesi dan pekerjaan, pemaknaan tentang sesuatu yang nikmat dan motif berkuasa, harus diidentifikasi untuk menentukan pergerakan yang berbasis kesadaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk konteks Paramadina, merevolusi kesadaran mahasiswanya terkait beberapa hal. Pertama, mendekonstruksi pemaknaan mereka tentang gaya hidup. Hal ini terkait status dan gaya hidup mereka sebagai bagian suatu kelas sosial masyarakat middle-upper dari suatu negara dunia ketiga yang sangat dihegemoni kekuatan lintas negara lintas modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penting untuk membandingkan bagaimana misalnya seorang mahasiswa Universitas Indonesia atau Pelita Harapan memaknai gaya hidup. Perbandingan tidak setara dan lebih luas mungkin dengan membandingkan bagaimana pemaknaan seorang mahasiswa Harvard atau Stanford terhadap gaya hidupnya. Kiranya mahasiswa Paramadina perlulah berkaca diri soal status sosial dan gaya hidupnya agar tidak terlihat seperti "orang kaya baru" yang sekedar bangga dengan tidak bercermin pada gaya hidup "orang kaya lama" serta bagaimana mereka menjalani hidup keseharian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, adalah soal menentukan apa yang kontekstual untuk dikerjakan saat ini. Beberapa isu yang layak menjadi concern bersama dan menantang adalah bagaimana lembaga kemahasiswaan tertinggi bisa bekerja efisien. Dan lembaga seperti HIMA atau UKM bisa memperkuat basisnya. Sudah terjadi selama ini, lemahnya kekuasaan pada struktur tertinggi lembaga pemerintahan mahasiswa menjadikan mahasiswa Paramadina layaknya murid Sekolah Menengah yang tidak otonom dan harus dicekoki dalam menentukan apa yang bisa dilakukan untuk pengkaderan terhadap mahasiswa baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengelolaan GMP dan PLC tidak atas inisiatif mahasiswa adalah buktinya. Lemahnya kekuasaan pemerintahan mahasiswa juga membuat apa yang menjadi hak mahasiswa untuk tahu tentang berapa jumlah alokasi anggaran untuk menunjang aktivitas mereka juga terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran untuk mengenal status dan membandingkannya dengan kelompok berbeda adalah mutlak diperlukan. Bergerak kontekstual dan cerdas juga harus. Hanya inilah yang perlu dipikirkan dan dikerjakan bersama oleh Persatuan Artis Paramadina (baca: seluruh mahasiswa paramadina). Hidup senam pagi !!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-2899854317315643458?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/2899854317315643458/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=2899854317315643458' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/2899854317315643458'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/2899854317315643458'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2010/01/menggerakkan-mahasiswa-paramadina.html' title='Menggerakkan Mahasiswa Paramadina'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/S00xwNPcTeI/AAAAAAAAAJo/P0JKEJ6BP-I/s72-c/menggerakkan+mahasiswa+paramadina+aie.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-529101252606833460</id><published>2009-11-03T11:22:00.014+07:00</published><updated>2009-11-27T23:26:06.910+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Manusia-manusia Kereta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/Su-2M4YFfFI/AAAAAAAAAJY/tn5EQpbJIEc/s1600-h/train+man.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 224px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/Su-2M4YFfFI/AAAAAAAAAJY/tn5EQpbJIEc/s320/train+man.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5399734810648607826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Aku berdiri. Tidak mendapatkan tempat duduk. KRL AC-Ekonomi kulewatkan. Uangku kali ini hanya cukup membeli tiket KRL Ekonomi. Dari stasiun Cikini, aku memulai perjalanan ke Bogor. Menjauhi penat Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fotokopian makalah berisi salah satu sub bab dari buku teks mata kuliah anti korupsi kukeluarkan dari tas. Harus kupelajari. Demi mengenal lebih akrab penulisnya yang akan segera kuwawancara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makalah terjatuh tak sengaja. Aku bergerak lambat. Seorang ibu yang duduk di depanku refleks mengambilnya. Satu tanganku masih bertengger di pinggang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa dia yang justru sigap mengambil? bukankah benda itu milikku. Dia bukan pelayanku. Aku bukan tuannya. Aku tidak butuh bantuan. Tak  ada cukup uang untuk membayar gaji babu. Lagian, ini bukan lagi jaman feodal saat stasiun kereta Beos baru didirikan oleh Belanda tahun 1920-an. Ini juga bukan termasuk jaman-jaman sebelumnya lagi di mana banyak orang hanya bisa hidup dengan memperbudak orang lain.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sssstttt.&lt;br /&gt;Bro!!.. jangan lupa, ini negaranya kaum sosialis. Umumnya penduduk sini senang mencampuri urusan orang lain. Mereka menyebutnya gotong-royong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahlah. Pandanganku beralih ke arah tiga penumpang di sebelah kiri. Dua orang perempuan yang mungkin kakak-beradik dan seorang anak kecil. Kujuluki saja mereka gerombolan si berat-gerombolan penjahat rekaan Disney dalam seri Donal Bebek itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang pertama perempuan muda seumurku. Ukuran pinggul dan dadanya luar biasa sejahtera. Aku tak terpikir untuk membandingkannya dengan Fitri Tropica. Dia tak selangsing si Tropica. Mungkin seukuran Tika Panggabean. Ada semacam goresan di pipinya. Cuma tak separah goresan di wajahnya Joker-musuh Batman-versi Dark Knight.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penumpang kedua seorang ibu muda dengan ukuran tubuh serupa. Tentu saja tanpa bekas goresan di wajahnya. Dia mengenakan kacamata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Ketiga anak kecil. Aku menyukai anak kecil. Mereka selalu tampak lucu dan membahagiakan. Namun anak kecil tambun ini pengecualian. Kulitnya gelap bekas terbakar matahari. Daki (kotoran) terlihat jelas di sekitar lehernya. Lehernya membentuk garis-garis putih berlipat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Tambun kecil ini menampar-nampar muka ibu muda sambil merengek. Tamparan mengenai kacamatanya. Anak kurang ajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si ibu muda gantian berdiri. Manusia kecil tambun menyebalkan itu segera duduk. Terdiam. Beberapa menit berlalu tingkahnya stagnan. Selanjutnya? dia mulai memukul ibunya lagi. Kali ini pada bagian perut. Penumpang lain melihat ke arah mereka. Si ibu justru bersikap sangat tenang. Dia seperti terbiasa. Aku kesal sendiri. Mataku melotot ke arah anak itu. Kecil tambun tidak memperhatikan. Huh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kereta memasuki  stasiun Tebet. Seorang ibu setengah baya masuk mendekat ke arahku bersama seorang temannya. Dia berdiri tepat di sampingku. Tak kucium wangi parfum apapun. Wajahnya berkeringat. Sedikit basah kerudungnya. Mukanya ngarep (memelas). Ngarep pengen duduk? belum tentu. Perutnya subur. Tapi menurutku dia tidak sedang hamil. Hanya tak merawat tubuhnya dan kurang olahraga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa aku belum bertemu penumpang dengan postur ideal? sederetan panjang kursi di depan ini semua dihuni ibu-ibu. Dengan pola dan bentuk tubuh seragam. Mungkin karena ini hari minggu. Menurutku kesuburan tubuh mereka bukan simbol bahwa mereka makmur. Orang kaya dan pintar pasti fitnes. Setidaknya, pasti mereka punya uang untuk membeli buku penulis best seller Jepang Haruki Murakami tentang lari dan manfaatnya untuk kesehatan tubuh. dengan begitu tubuh mereka akan terlihat padatkencangberisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak memperhatikan lagi sekeliling. Mulai membaca makalah. Kereta kembali berlari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membacaku terhenti, ibu muka ngarep bertanya, tersenyum sok akrab. ”Mau ke Bogor kan?”&lt;br /&gt;”iya” jawabku sungkan.&lt;br /&gt;”Tapi ini cuma sampai Depok ya?,” si Ibu berkata seperti meringis. Dia &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;bertanya &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;setengah yakin.&lt;br /&gt;”...???...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam. Melihat ekspresinya. Sepertinya dia sangat ingin dapat tempat duduk karena tak kuat lama berdiri. Pegangan kereta terlalu tinggi untuk tubuhnya yang hanya satu setengah meter. Dua penumpang di depannya tertidur.Tidak peduli. Menurutku wajar. Tak ada prioritas tempat duduk .  Ibu setengah baya ini sama statusnya dengan dua ibu-ibu yang mendapat tempat duduk dan asik tertidur itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengamen, Pengemis dan Pedagang Asongan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali pengamen. Pengamen pertama yang kuperhatikan adalah seorang ibu buta. Dia dituntun dari belakang oleh seorang anak perempuan.  Menyanyikan shalawat. Tempo cepat lagi semangat. Seorang penumpang memberi sedekah. Mayoritas lainnya diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kereta memasuki terowongan stasiun Cawang. Tak lama berselang muncul seorang lelaki tua. Tepatnya belum terlalu tua. Berpeci. Lagi-lagi tunanetra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamen ini sudah kukenal. Sering kulihat. Dialah yang selalu membuat perjalananku terasa suram. Senandungnya berisi ancaman dalam pantun Melayu. Selalu bertema neraka dan siksa kubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pernah seingatku dia menyanyikan lagu dengan nada-nada ceria. Aku seperti ingin protes. Ini karena pengalaman. Aku pernah mendengarkan seorang pengamen tunanetra lainnya yang membuatku berpikir bahwa not dan nada itu ada yang ceria dan sedih. Kehidupan pun seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamen dengan lagu suram berhenti sebentar bernyanyi. Dia seperti menajamkan indera dengarnya. Di gerbong sebelah segera mengalun senandung lainnya. Pengamen lagu suram berpeci seperti lamat-lamat mendengar suara saingannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berlalu melewatiku. Seperti biasa, tak ada uang receh diterimanya dariku karena aku merasa terancam. Aku jelas tak menyukai kehadirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengemis tunanetra yang menyusul pengemis berpeci menyanyi tak jelas. Dia hanya menderita kebutaan di mata kanannya yang tertutup dan berair.  Mata kirinya masih bisa melihat. Aku menatapnya. Untuk tahu mengapa mata itu berair. Dia balik menatapku untuk kemudian berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatapanku selanjutnya membentur seorang pedagang asongan yang datang menyeruak. Suaranya terdengar cempreng. Memenuhi atmosfer gerbong dengan sumbang. Mirip kaset kusut dipasangi toa. Bertarung dengan suara kereta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedagang asongan menghilang masuk  ke gerbong sebelah. Muncul lagi seorang perempuan muda berkulit agak terang dengan potongan rambut pendek membawa bayi dalam kain gendongan dan sapu. Dia menyapukan sampah berserak saat kereta tengah berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang aku kesulitan untuk mengidentifikasi jenis profesi perempuan ini. Pengemis? bukan. Pengamen? bukan. Pengamen menjual lagu. Pengemis cuma meminta. dia bekerja untuk menyapu lantai kereta. Tapi siapa yang suruh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kusebut saja perempuan muda itu tengah menjalani profesinya sebagai seorang ”pseudoworker” alias pekerja palsu. Hasil pekerjaannya tak pernah benar-benar dibutuhkan. Mungkin seperti sebagian besar Pegawai Negeri Sipil kali ya?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahh...sudahlah. Kulewatkan saja detail cerita mereka. Kereta sudah mencapai Depok. Kereta yang kami naiki ini akan berbalik arah ke Jakarta. Semua penumpang turun. Hilanglah dari pandanganku kelompok si berat, ibu ngarep dan kaum pengamen yang tidak tunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Angin di Atas Kereta dan Del Piero&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Stasiun Depok lama penuh. Akan kusebutkan satu persatu siapa saja manusia kereta melintas di depanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pedagang asongan bertubuh agak tegap. Dia punya bekas jahitan di lehernya. Seorang pedagang asongan lainnya bertubuh cacat. Bahunya bongkok. Hunchback of Notredame.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dialog mereka aku berhasil mencuri dengar kalau korek api yang mereka jual seharga dua ribu itu mereka beli seharga lima ratus perak dari agen. Hmmhmm. satu korek untung seribu lima ratus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depanku kemudian berlalu pemuda gondrong berkaca mata badan tegap. Sepatu Bootsnya bagus. Sesuai dengan Jeansnya.  Sepertinya dia terbiasa naik gunung. Mungkin pencinta alam. Sayang, wajahnya tak mampu setampan Lilo KLA Project. Aku memperhatikan tulisan di kaosnya, ”saatnya anak muda memimpin”. wow. Geraknya terus kuikuti. Menjauh. Dia berhenti di depan tukang DVD bajakan. Mulai melihat lihat film yang dipajang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stop dengan si gondrong. Pandanganku mengarah pada sesuatu yang bisa sedikit membuat nafsu makan membaik. Akhirnya kutemukan juga wajah cantik berselera. huaahhh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama, pedagang asong tubuh tegap dengan bekas jahitan di leher berteriak. Sepertinya dia sangat hafal jadual kereta.  ”yang datang kereta empat gerbong..... maju lagiii !!!!” ujarnya mengomando penumpang kereta. Semua penumpang bergeser.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KRL dengan empat gerbong tiba. Penuh sesak sampai ke pintu. Aku sedikit bingung. berpikir tentang cara untuk masuk. Penumpang bergegas saling dorong. seorang anak perempuan terpaksa mencium ketek seorang penumpang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasku berat. Kalau masuk ke gerbong sepertinya akan sangat repot. Tak perlu banyak berpikir. Kakiku segera menginjak jendela dan untuk pertama kalinya dalam hidupku yang sudah lebih seperempat abad ini aku menumpang di atas atap kereta. Huuaahh......angin. Merdeka.......!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas sini banyak sekali teman. Rata-rata menurutku mereka masih usia SMP. Masih senang berpetualang. Tepat di depanku, duduk seorang anak jalanan mengenakan kaus bola kumal bertuliskan Del Piero.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia membawa sapu lidi. Profesinya pastilah pseudoworker juga seperti perempuan rambut pendek yang menggendong anak tadi. Bukannya anak sepertinya seharusnya sekolah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan entengnya si Del Piero berdiri di pinggir atap kereta. Seperti sangat terlatih dengan goyangan laju kereta. Tak tampak ada ketakutan di wajahnya. Aku sebaliknya. Masih sempat kulihat larangan berdiri di atap kereta. Berbahaya karena bisa tersengat  listrik tegangan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goblok, masa kalah berani sama anak kecil? aku mengguman dalam hati. Aku masih juga menakutkan kalau laptop di tasku terjatuh. Termasuk aku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penasaran, Del Piero kutanya dengan pertanyaan tidak terlalu cerdas.&lt;br /&gt;”Bos, sudah berapa kali naik kereta?”&lt;br /&gt;”Sering” jawabnya.&lt;br /&gt;Sudah kuduga jawabnya akan begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutatap kabel listrik tepat di atasku. Bergesekan dengan besi penghantar kereta. Sebuah pemandangan tak biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas sana awan berkejaran. Matahari bersinar tidak terik. Jam di Ponselku menunjukkan pukul  11. 47 siang. Kereta melesat menuju stasiun Citayam. Masih ada dua stasiun lagi setelah Citayam sebelum tiba ke Bogor.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Perjalanan kali ini terasa panjang. &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; [ ]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-529101252606833460?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/529101252606833460/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=529101252606833460' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/529101252606833460'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/529101252606833460'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2009/11/manusia-manusia-kereta.html' title='Manusia-manusia Kereta'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/Su-2M4YFfFI/AAAAAAAAAJY/tn5EQpbJIEc/s72-c/train+man.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-7575831164368947989</id><published>2009-09-11T00:12:00.023+07:00</published><updated>2009-11-03T12:15:02.891+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='film'/><title type='text'>Andrea Hirata, Ratna, dan Kritik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/SteLYBwSOaI/AAAAAAAAAI4/PotsklL8PFQ/s1600-h/sang+pemimpi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 202px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/SteLYBwSOaI/AAAAAAAAAI4/PotsklL8PFQ/s320/sang+pemimpi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392932323703536034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Mumpung belum mati, kucatatkan saja kesanku tentang dua pesohor, Andrea Hirata dan Ratna Sarumpaet. Kesan ini terkait bagaimana aku sebagai warga biasa merespon karya dan sikap mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andrea, seingatku pernah menjadi pemateri &lt;span style="font-style: italic;"&gt;creative writing&lt;/span&gt; di pelatihan jurnalistik Media Indonesia. Aku jadi salah satu peserta. Andrea dijadwalkan mengisi materi jam 09.00. Butuh sekian jam hingga jam 13.00 untuk bisa mendengar pengalaman proses kreatif Andrea menulis.Tentu saja ini merusak jadwal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan Andrea mendapatkan tepuk tangan meriah. Mungkin karena moderator memperkenalkannya pada peserta layaknya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ring anncouncer&lt;/span&gt; mengenalkan petinju profesional. Oke, sesi tanya jawab tiba usai Andrea cerita kiri-kanan pengalaman menulis tetralogi laskar pelangi yang jadi Indonesian best seller itu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hal yang membuatku galau, semua pertanyaan peserta untuk Andrea adalah pertanyaan-pertanyaan lebay dan teknis. Bukan pertanyaan reflektif. Tidak ada yang mengkritik keterlambatan Andrea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi ini seperti membiarkan makhluk pintar dan rendah hati (Baca: Andrea) tidak sempat meminta maaf pada peserta kalau dia datang telat. Syukur, moderator memberikanku kesempatan dari beberapa peserta yang mengangkat tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf saya tidak mau tanya, cuma komentar" Aku memulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari tadi saya tidak peduli dengan semua ceramah Bang Andrea karena ada hal yang mengganggu pikiran. Abang datang telat. Kita menunggu tiga jam lebih untuk dengar cerita tentang bagaimana mendapatkan inspirasi dalam menulis. Menunggu sekian jam menurut saya menghilangkan inspirasi dan mood menulis. Yang mengherankan, sudahlah kita disuruh menunggu, moderator menseting kedatangan bang Andrea seperti kedatangan selebritis. Ini harus diluruskan. Memangnya kita apa? buat saya, segala jasa bang Andrea yang menginspirasi kita dalam novelnya, harus diapresiasi dengan penghormatan pas dan adil.Termasuk perlakuan kita terhadapnya. Janganlah menganggap dia sebagai selebritis yang harus ditunggu dan diteriaki kedatangannya oleh fans. Artifisal. Palsu. Buat saya, bang Andrea dengan segala kecemerlangan karyanya adalah PAHLAWAN, bukan seleb."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira seperti inilah komentarku di forum. Aku mendapat tepukan meriah saat itu.Menurutku komentar tadi cukup pas dan kontekstual untuk seorang Andrea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pahlawan buatku adalah manusia fair. Kepribadiannya layak diteladani. Termasuk bagaimana sebaiknya menghargai kepentingan orang lain dan tidak feodal. Sebagian peserta, terutama teman dari paramadina dan Insitut Kesenian Jakarta, membenarkan komentarku. Seperti kuduga, Andrea mengapresiasi dengan baik apa yang kugelontorkan. Moderator juga klarifikasi kenapa Andrea datang telat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya bukan klarifikasi kenapa datang telat yang kuinginkan, tapi bagaimana manusia bisa adil memposisikan diri. Bersikap fair. Nilai ini yang belum banyak disadari orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesi tanya jawab usai. Panitia membuat kuis dengan hadiah buku kalau peserta mampu menjawab pertanyaan. Aku ingat, Andrea waktu itu berujar, "Sebentar, sebelum kuis dimulai, saya mau kasih hadiah dulu untuk yang komentar tadi"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa ragu, Andrea menghadiahkan novel Sang Pemimpi untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman dari IKJ di samping sempat bilang sambil melirik bukunya. "Lo ngritik biar dapat buku ya?".  Wahhhh.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesohor kedua adalah Ratna. Tidak pernah aku benar-benar tahu kepribadian dan karyanya. Sependek pengetahuanku, dia tokoh teater, aktivis perempuan oposan orde baru, dan narasumber silat lidah. Citranya sebagai pesohor menurutku cukup baik, dia sosok kritis yang terbiasa dengan kritik. Pernah aku sekali melihatnya langsung dalam sebuah diskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meng-Add Ratna Sarumpaet di facebook menurutku penting. Mungkin bisa belajar sesuatu dari figurnya serta posting statusnya. Sayang ekspektasiku terlalu berlebih. Ratna menuliskan statusnya tentang bagaimana ia berterimakasih atas segala saran, kritik serta apresiasi terhadap karya filmnya "Jamilah dan Sang Presiden". Dia meminta jaringan teman facebooknya untuk menonton film itu sebelum ditarik dari bioskop 21. Inilah komentarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"....saya sudah menonton filmnya......film yang kritis....cuma sayang, saya seperti menonton teater...terlalu banyak dialog.....untung film ini tertolong oleh akting Ria Irawan......sebagai bentuk penghormatan...saya dan tiga orang teman yang menonton film ini terpaksa harus keluar bioskop sebelum film ini usai.......terus berkarya mbak......"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentarku dihapusnya sehari kemudian saat kutengok kembali halaman facebooknya. Kok dihapus? memangnya subversif dan tak bagus untuk promosi? bukannya Ratna senang dianggap subversif ketika sering mengkritik Soeharto? ...walah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Mungkin akan kucari segera Andrea dalam facebook dan menjadikannya teman. Responnya terhadap kritik menurutku sangat bagus. Sementara Ratna? wahhh...sori...delete aja yang beginian mah.[ ]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-7575831164368947989?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/7575831164368947989/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=7575831164368947989' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/7575831164368947989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/7575831164368947989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2009/09/mumpung-belum-mati-kucatatkan-saja.html' title='Andrea Hirata, Ratna, dan Kritik'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/SteLYBwSOaI/AAAAAAAAAI4/PotsklL8PFQ/s72-c/sang+pemimpi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-3848702679126915747</id><published>2009-09-10T23:35:00.010+07:00</published><updated>2009-09-16T16:38:03.197+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Urban'/><title type='text'>Tukang Kemoceng</title><content type='html'>Jakarta hujan lebat. Dua jam lebih aku terjebak di tempat tukang stempel. Sepertinya akan ada pohon tumbang. Lalu menimpa mobil di bawahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang manusia di sebelahku yang muncul dari arah pasar Mampang? kuceritakan saja penantian kami. Dia laki-laki setengah baya dengan penampilan agak lusuh, ikut berteduh di toko ini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Rokok pak?"&lt;br /&gt;"ga ngerokok Den"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hahaha...aku tahu aksen itu. Pasti dari pedalaman Jawa Barat.Diambilnya juga rokok itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Alah, ga usah malu-malu pak. dingin-dingin enaknya ngerokok.Abis dari mana pak?"&lt;br /&gt;"Dari jualan Den"&lt;br /&gt;"Jualan apa?"&lt;br /&gt;"Kemoceng. Rp 5000. Bisa buat komputer" Lelaki paruh baya langsung menawarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengeluarkan kemoceng dari tas gendongnya. Memutarnya. Hmmm. Aku berpikir. Buat apaan? nggak kubeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"ngambilnya dari mana?"&lt;br /&gt;"Cengkareng"&lt;br /&gt;"ooh"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan terus kuajukan dan dia mengaku cuma untung Rp 500. Nggak percaya. Mana pernah aku bisa langsung percaya dengan orang asing. Itu mah prinsip dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang susah Den....dapat Rp 30.000 sehari aja susah" ujarnya mengeluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walah ......&lt;br /&gt;Tidak tertarik dengan cerita melo hujan-hujan begini, kucecar dia dengan pertanyaan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi di Cengkareng ngontrak sendiri? enak dong pak? bisa bawa cewek tuh?"&lt;br /&gt;"Haha....di sana emang banyak cewek Den. Janda apalagi?&lt;br /&gt;"Hahh, janda?"&lt;br /&gt;"Iya...umur 40 sampai 50-an"&lt;br /&gt;"Ampun pak. Buat bapak aja"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mulai berhenti menyesali hidup ketika obrolan berubah topik tentang perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pulang ke kampung berapa bulan sekali pak?"&lt;br /&gt;"Sebulan sekali"&lt;br /&gt;"Sebentar amat jadi bujangannya?"&lt;br /&gt;"Itu juga lama Den. Kadang dua minggu udah pulang. Ganti oli....(seterusnya sensor)."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu bernama Rasmita, asal Majalengka. Bicaranya seperti Fidel Castro yang diperankan Demian Bichir di film Che Guevara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan berhenti. Putar balik lewat Trans TV dan gang belakangnya menuju Parmad, kukendarai Pinky dalam dingin.[ ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Monday, March 23, 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-3848702679126915747?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/3848702679126915747/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=3848702679126915747' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/3848702679126915747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/3848702679126915747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2009/09/tukang-kemoceng.html' title='Tukang Kemoceng'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-575661745427613884</id><published>2009-09-10T22:00:00.015+07:00</published><updated>2009-11-01T02:55:48.945+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nalar Puitis'/><title type='text'>Jakarta Je t'aime</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/SuyNXPiiRLI/AAAAAAAAAJQ/2SxufrY-Tuk/s1600-h/paris+je+t%27aime.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 223px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/SuyNXPiiRLI/AAAAAAAAAJQ/2SxufrY-Tuk/s320/paris+je+t%27aime.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5398845483758273714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jakarta Je t'aime adalah serpihan ingatanku tentang cinta dan sebuah kota. Mungkin terinspirasi dari film Paris Je t'aime. Lalu kutuliskan apa saja yang kurasakan saat aku dipenuhi cinta. Perasaan cinta itu bisa terhadap wangi tubuh perempuan, lezatnya produk kuliner favoritku, lampu jalan, klakson mobil atau mungkin city view. Beberapa yang sempat kukumpulkan dipublish di sini.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Die Wissenschaft&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan lebat menghantam perahu layar dua&lt;br /&gt;Perahu bergeming di sebalik kaca&lt;br /&gt;Sembahyang terhenti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biru Mesjid Wilfried Dechau&lt;br /&gt;Menawarkan senyum dari ujung sana&lt;br /&gt;Namun kala tirai dibuka&lt;br /&gt;Senyum akan menyebabkan luka&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembahyang simbol kecintaan&lt;br /&gt;Seperti juga hujan&lt;br /&gt;Mungkin Michael Berg&lt;br /&gt;Sedang membacakan cerita&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:78%;" &gt;Saturday, April 25, 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Black Swan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga jantan lima betina&lt;br /&gt;menjelma delapan angsa hitam&lt;br /&gt;bermain riang di pingggiran kolam&lt;br /&gt;di bawah rindang sejuk pepohonan taman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengapa mesti ada manusia&lt;br /&gt;yang cuma bisa merusakkan&lt;br /&gt;yang menghentikan permainan&lt;br /&gt;membuat angsa tak bisa lagi mengepakkan sayap&lt;br /&gt;dan berlari ke sana-sini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di kolam ini pernah ada Belanda&lt;br /&gt;meninggalkan patung indah dan beringin tua&lt;br /&gt;dan Jepang di depanku sekarang&lt;br /&gt;sebenarnya bukan untuk perang&lt;br /&gt;tapi untuk mengenang&lt;br /&gt;bahwa kolam angsa hitam dan taman bermainnya&lt;br /&gt;adalah surga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku angsa hitam&lt;br /&gt;tak menginginkan manusia ada&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:78%;" &gt;Thursday, April 30, 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Arjuna Lewat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah Arjuna&lt;br /&gt;Tak cukup kumengerti&lt;br /&gt;Tak harus mengerti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harmoni ritmis&lt;br /&gt;seperti gerimis&lt;br /&gt;telah kulangkahkan kaki&lt;br /&gt;tak mau terjatuh lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kujaga janjinya sampai tua&lt;br /&gt;Dengan Tabah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D-ialewat&lt;br /&gt;Di-alewat&lt;br /&gt;Dia-lewat&lt;br /&gt;Dial-ewat&lt;br /&gt;Diale-wat&lt;br /&gt;Dialew-at&lt;br /&gt;Dialewa-t&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:78%;" &gt;Wednesday, June 3, 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;The Pirate Begin&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kuserahkan separuh&lt;br /&gt;kemudian seluruh&lt;br /&gt;kuserahkan perasaan terdalam&lt;br /&gt;rindu dendam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nyatanya nurani pergi&lt;br /&gt;hilang bersama pedih peri&lt;br /&gt;tidak akan kucari&lt;br /&gt;meski kutunggu ia kembali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akan kunikmati lara sepi&lt;br /&gt;rasio murni&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;wed, August 5, 2009&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Microsoft Power Point&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah coba&lt;br /&gt;tapi tak berhasil&lt;br /&gt;ada alasan&lt;br /&gt;meski tak membantu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau diberikan waktu lagi&lt;br /&gt;akan kuperbaiki&lt;br /&gt;hari kemarin&lt;br /&gt;terlalu singkat untuk memahami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku cinta kau ...&lt;br /&gt;kemaren hari ini dan besok&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tuesday, June 23, 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;fur Elise&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas nama blues&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kunikmati lengking Jimi Hendrik&lt;br /&gt;ingin kupetik gitar selalu&lt;br /&gt;meski pada makhluk bernama blue&lt;br /&gt;janganlah berharap terlalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas nama blues&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku terlalu tua untuk bermain api&lt;br /&gt;aku sebaiknya mengerti&lt;br /&gt;tatapan hangat penuh arti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hidup ini terkadang merdu&lt;br /&gt;dan blues akan selalu kunyanyikan&lt;br /&gt;meski Beethoven tak mendengarkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas nama blues&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I’m in love&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menteng, 1 Nov 2009&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-575661745427613884?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/575661745427613884/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=575661745427613884' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/575661745427613884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/575661745427613884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2009/09/jakarta-jetaime_10.html' title='Jakarta Je t&apos;aime'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/SuyNXPiiRLI/AAAAAAAAAJQ/2SxufrY-Tuk/s72-c/paris+je+t%27aime.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-3294052686900268581</id><published>2009-08-15T18:01:00.019+07:00</published><updated>2009-11-06T18:22:53.176+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Urban'/><title type='text'>Inferioritas dan Cross Culture Understanding</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://farm4.static.flickr.com/3131/2857204112_4d4f70c3c4.jpg?v=0"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 215px; height: 303px;" src="http://farm4.static.flickr.com/3131/2857204112_4d4f70c3c4.jpg?v=0" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bahasa Inggris bahasa global. Bisa bertahan ratusan tahun lagi kalau benua Amerika dan Eropa belum hilang dari peta bumi karena hancur kena bom nuklir China. Bisa dibayangkan jika pasca pengeboman itu seluruh penutur bahasa Inggris semuanya tewas, bahasa global kemudian adalah bahasa China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa tak lepas dari kuasa dan budaya. Selain belajar percakapan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;conversation&lt;/span&gt;) untuk bisa sekedar cuap-cuap, penting juga untuk belajar sosiolinguistik dan psikolinguistik. Biar pemahaman kita terhadap bahasa dan kebudayaan suatu peradaban lebih komplit.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;Tadi pagi saya sempat mendengar wawancara seorang penyiar radio dengan Julia Duncan. Penyanyi seksi ini sekarang lagi disukai di Philipine, Hongkong dan Singapore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, penyiarnya mewawancara Duncan dalam bahasa Inggris. Sayang pertanyaan yang diajukan buat saya memalukan dan tidak pintar. Bukti wartawan itu hanya pintar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;speak&lt;/span&gt;-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;speak&lt;/span&gt; bahasa Inggris tapi kurang mempelajari kebudayaan penutur Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duncan ditanya "Do you love read book?"&lt;br /&gt;Duncan menjawab "yes i love read national geographic......etc...".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haha...pertanyaan lebih cerdas buat penutur bahasa Inggris seperti Duncan seharusnya bukan lagi soal suka baca buku atau tidak, tapi suka bacaan jenis apa. Sepertinya pertanyaan itu  lebih cocok untuk diajukan sang wartawan pada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan jenis pertanyaan penting, karena itu bukti pemahaman terhadap konteks budaya lawan bicara. Hal ini akan membuat kita bisa berdiri sejajar. Bukan inferior ketika berhadapan dengan kebudayaan dan bahasa lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inggris atau Amerika tidak lagi punya persoalan suka baca atau tidak, tapi sudah pada level buku jenis apa yang disukai atau penting dan perlu dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;Mengingat kekonyolan ini, ada baiknya mendengarkan lagu Rhoma Irama yang mengkritik modernisasi di Indonesia lebih berujud westernisasi. Kita bisa sedikit berefleksi. Modernisasi adalah peniruan nilai, etos dan kebiasaan baik dari peradaban barat seperti kerja keras dan suka membaca.  Sedangkan westernisasi lebih pada peniruan gaya hidup konsumtif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari belajar bahasa Inggris dan kebudayaan penuturnya!&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[ MH]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Catatan Harian Misbah, 31 Maret 2009&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-3294052686900268581?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/3294052686900268581/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=3294052686900268581' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/3294052686900268581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/3294052686900268581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2009/08/inferioritas-dan-cross-culture.html' title='Inferioritas dan Cross Culture Understanding'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-8766918387135303039</id><published>2009-08-09T18:18:00.031+07:00</published><updated>2009-09-16T16:32:22.991+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nalar Puitis'/><title type='text'>Jakarta  Tergesa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/SrCvyovf5yI/AAAAAAAAAIo/T_KCtiKC8sE/s1600-h/puisi+puisi+misbah.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 300px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/SrCvyovf5yI/AAAAAAAAAIo/T_KCtiKC8sE/s320/puisi+puisi+misbah.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5381994839172704034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Jakarta Tergesa adalah serpihan ingatan tentang berisiknya hidup di Jakarta. Waktu berlari terburu-buru menyapa istana, kampus, gedung wakil rakyat, hingga pasar malam penuh rokok. Dalam macet, motor menyalip seenaknya, cuaca panas perlu pendingin udara, dan tubuh berkeringat. Sebagian ingatanku tercecer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Kentut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini cerita Jakarta malam tadi&lt;br /&gt;penawaran tinggal di bintang lima&lt;br /&gt;atau mungkin dalam mansion mewah&lt;br /&gt;satu malam sepuluh juta&lt;br /&gt;namun hidup dipaksa hanya menyisakan dua minggu lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kentut.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku hanya butuh lapar untuk makan&lt;br /&gt;juga butuh ngantuk untuk tidur&lt;br /&gt;lebih jujurnya&lt;br /&gt;aku butuh ikan bakar&lt;br /&gt;dan segelas susu&lt;br /&gt;untuk kudapan sebelum tidur&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Friday, April 17, 2009&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Debat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jalanan macet....&lt;br /&gt;jauh-jauh orang menyiapkan diri&lt;br /&gt;untuk sesuatu yang baru&lt;br /&gt;ternyata tak ada yang baru&lt;br /&gt;penuh norma dan sedikit pura-pura&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kami di jalan haus&lt;br /&gt;terlalu banyak iklan&lt;br /&gt;susah mencari klimaks&lt;br /&gt;menemukan ide orisinal dan merangsang pikiran muda&lt;br /&gt;tak ada istilah reinventing goverment&lt;br /&gt;atau sedikit frase rasionalisasi birokrasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jadi seperti nonton bokep&lt;br /&gt;dengan jeda iklan&lt;br /&gt;ejakulasi dini tanpa hasil&lt;br /&gt;tak ada orgasme malam ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;to be continued&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Thursday, June 18, 2009&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pantat Bencong Beracun&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Sabang aku mulai bergerak&lt;br /&gt;ke Surabaya untuk kemudian mampir agak lama ke Sukabumi&lt;br /&gt;dalam gelindingan roda waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waskita ....&lt;br /&gt;wahai Sultan Kerajaan Sabang&lt;br /&gt;Setelah pulang dari Kuningan&lt;br /&gt;Ceritakan pada teman Palembang ITB-mu itu&lt;br /&gt;kalau di pinggir rel kereta ada banyak tulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"PANTAT BENCONG BERACUN"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di setiap bangku taman dan bunga baru mekar&lt;br /&gt;di atas Ciliwung dan mimpi-mimpi gubuk kayu&lt;br /&gt;menggantikan belukar&lt;br /&gt;di mana ada banyak tikar&lt;br /&gt;ditemani musik melayu dan minuman dingin&lt;br /&gt;setiap lima belas jengkal kakimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kuceritakan padamu&lt;br /&gt;Di Surabaya, aku diteriaki di tengah panas.....&lt;br /&gt;"sambil nonggeng bisa mas.....yuk....5000"&lt;br /&gt;itu cerita Jakarta dulu....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jangan pernah mencoba&lt;br /&gt;bisa habis kehidupan kita&lt;br /&gt;benjol-benjol merah disertai demam panas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;peradaban berubah..&lt;br /&gt;cerita Mataram kini eksotis untuk udara malam Jakarta&lt;br /&gt;yang lembab dan berkeringat&lt;br /&gt;sambil menunggu kabar Gorontalo&lt;br /&gt;yang menularkan absurditas hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;war war war war&lt;br /&gt;king Bali death&lt;br /&gt;king Lombok win&lt;br /&gt;king Bali lost&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aceh menunggu demokrasi&lt;br /&gt;Kendari menunggu banyak buku&lt;br /&gt;Makasar bertemu jalan berliku&lt;br /&gt;Subang butuh internet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasrat harusnya bukan berputar pada sejarah Sitompul&lt;br /&gt;Tapi pada dekapan hangat Franchine Rosenda&lt;br /&gt;atau minimal pada sisa-sisa kecantikan Dian Sastro&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jakarta, 6 Maret 2009&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-8766918387135303039?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/8766918387135303039/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=8766918387135303039' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/8766918387135303039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/8766918387135303039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2009/08/serpihan-jakarta-yang-tergesa.html' title='Jakarta  Tergesa'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/SrCvyovf5yI/AAAAAAAAAIo/T_KCtiKC8sE/s72-c/puisi+puisi+misbah.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-3441607321394610385</id><published>2009-08-09T15:42:00.027+07:00</published><updated>2010-08-11T10:56:57.932+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nalar Puitis'/><title type='text'>Keretaku Tak Berhenti Lama</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/TGIZ_b56VlI/AAAAAAAAAKw/2LtF_SRlKZY/s1600/manusia+kereta.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/TGIZ_b56VlI/AAAAAAAAAKw/2LtF_SRlKZY/s320/manusia+kereta.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: 130%; font-weight: bold;"&gt; Keretaku Tak Berhenti Lama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerbong kereta itu sudah dinaikinya 25 tahun. Sekarang dia pensiun dari pabrik sepatu. Tidak lagi menumpang kereta untuk berangkat kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan jam berangkat yang selalu sama, gerbong sama, berkumpul dengan orang yang itu-itu juga, kita seperti keluarga" Lelaki pekerja pabrik sepatu menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau naik kereta, jangan pindah-pindah gerbong. Nggak dapat teman nantinya. Sebaiknya, Mas fanatik untuk milih satu gerbong kereta" itu ucapan paling kuingat dari pertemuan kami. Nasehat tadi kudapat saat pertama mengenal kereta dan mencoba mengajaknya berteman. Lelaki pekerja pabrik sepatu adalah salah satu cerita yang kuingat tentang kereta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kereta juga, aku pernah ditatap dengan penuh cinta. Tidak pernah kutahu itu. Sampai satu ketika kudapatkan penjelasannya, bahwa perjalanan kami di kereta malam itu dipenuhi tatapan cinta dan harapannya tentangku. Kini tidak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kereta, gaji pertamaku yang kubelikan ponsel saat mulai bekerja di jakarta hilang dimangsa copet. Di kereta juga aku melibatkan diri dalam dokumenter yang mengubah hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepatu Budiman? Ya, aku ingat sepatu Budiman. Sepatunya ada dalam catatan harianku. Sepatu butut milik seorang politisi muda negeri ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kereta, kutemukan bidadari hitam. Wajahnya cerah bersinar di antara sesak. Sayang, keretaku tak berhenti lama.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menteng,3/6/2007&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keretaku Tak Berhenti Lama (3)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki muda memandang tunduk rel kereta&lt;br /&gt;Kepulan asap dari dadanya menyapa senja&lt;br /&gt;Ia terduduk untuk kemudian terganggu dan marah&lt;br /&gt;Garang kereta menyelinap&lt;br /&gt;Lelaki muda menanti malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam rel kereta sama saja seperti malam sebelumnya&lt;br /&gt;Nyanyian urban dan kepak kupu-kupu di ujung stasiun&lt;br /&gt;Mengiring Dewi malam terbang berputar&lt;br /&gt;Datang untuk kemudian pergi lagi&lt;br /&gt;Begitu seterusnya hingga lelaki muda beranjak pergi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki muda merindukan kereta&lt;br /&gt;Seraya menanti takdirnya yang berjalan perlahan&lt;br /&gt;Sirine demi sirine menjerit pahit&lt;br /&gt;kupu-kupu pun menjadi ngengat&lt;br /&gt;lelaki muda dikejutkan oleh pagi dan mimpi tak sempurna&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menteng,12/2/2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;Keretaku Tak Berhenti Lama (4)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam naluriku yang purba aku menikmati matahari terbenam&lt;br /&gt;juga merasakan senja berangsur perlahan&lt;br /&gt;kuning emasnya lembut mengantar angin semilir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seandainya orang-orang yang kulihat tadi berani melompat &lt;br /&gt;dari pengap gerbong kereta&lt;br /&gt;mereka akan melihat &lt;br /&gt;bahwa ufuk senja mencuatkan pena yang menunjuk langit&lt;br /&gt;menjadi ilustrasi kota &lt;br /&gt;dan membuatku menemukan sejumlah semak perdu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku bisa melihatnya dari pinggir rel kereta ini&lt;br /&gt;bukan dari penjara &lt;br /&gt;dan benderang cahaya fana berbatas ruang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengapa manusia tidak merindukan ketakterbatasan?&lt;br /&gt;apa karena keterpenjaraan dan bayang cahaya seperti dalam mitos goa?&lt;br /&gt;apa belum mendengarkan cerita tentang cahaya di atas cahaya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mentari hanyalah saudara lelaki&lt;br /&gt;bulan yang berjaga sepanjang malam hanyalah saudara perempuan&lt;br /&gt;pada saatnya aku akan berpisah dari keduanya&lt;br /&gt;karena aku juga cahaya&lt;br /&gt;karena aku dilahirkan sebagai pelita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku sudah melihat begitu dekat&lt;br /&gt;tapi terkadang hanya mimesis&lt;br /&gt;dan saat aku semakin merindukan,&lt;br /&gt;hari-hariku masih panjang&lt;br /&gt;esok satu harapku&lt;br /&gt;hari jangan kelabu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;priiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttttt&lt;br /&gt;brakbrakbrakbrakbrakbrakbrakbrakbrak&lt;br /&gt;awas kereta!!!!&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menteng, 20/2/2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;Keretaku Tak Berhenti (5)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selalu saja ada yang terlewat&lt;br /&gt;tak bisa digapai atau sudah&lt;br /&gt;selalu ada teriakan di balik keringat dan pergumulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gelap terowongan kereta&lt;br /&gt;mengantarkan pada hidup minggu ini&lt;br /&gt;yang membunuh minggu lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelah kereta berhenti&lt;br /&gt;ia menjerit lagi&lt;br /&gt;hidup mulai lagi dalam kebaruan dan panas dalam&lt;br /&gt;sayang,&lt;br /&gt;keretaku kembali tak berhenti lama&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menteng, 14/4/2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Ditulis sejak 2007-2009...sajak keretaku tak berhenti lama bagian 2 hilang dicopet maling ingatan di tengah KRL Jakarta Bogor yang sesak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-3441607321394610385?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/3441607321394610385/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=3441607321394610385' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/3441607321394610385'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/3441607321394610385'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2009/08/keretaku-tak-berhenti-lama.html' title='Keretaku Tak Berhenti Lama'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/TGIZ_b56VlI/AAAAAAAAAKw/2LtF_SRlKZY/s72-c/manusia+kereta.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-6297294109215543186</id><published>2009-08-01T03:14:00.010+07:00</published><updated>2010-08-12T18:20:45.151+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Urban'/><title type='text'>Burkini Idol</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://img.timeinc.net/time/daily/2007/0707/a_lburqini_0730.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 360px; height: 235px;" src="http://img.timeinc.net/time/daily/2007/0707/a_lburqini_0730.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Definisi pahlawan berbeda bagi setiap orang setiap bangsa. Buat orang Indonesia kebanyakan, pahlawan adalah pejuang kemerdekaan. Orang Amerika menyebut pahlawan mereka patriot, selain hero. Orang Jepang mengandaikan robot sebagai pahlawan untuk melawan monster-monster jahat pengganggu. &lt;/span&gt; Meski berbeda simbolisasinya, karakternya sama,  rela berkorban dan menolong sesama.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Steven Barraclough, konselor politik kedubes Australia, dalam imaji kebanyakan orang Australia, penjaga pantai (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;lifeguards&lt;/span&gt;) adalah pahlawan. &lt;/span&gt;Profesi penjaga pantai dihormati. &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mungkin akibat kota-kota di Aussie lebih banyak berada di daerah pantai (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;coastal region&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sentimen dan keterlibatan emosi. Semacam rasa cinta dan kekaguman terhadap sosok yang disebut pahlawan. Termasuk keinginan meniru perilakunya. Istilah lain yang lebih populer adalah idol. Dalam banyak hal, pahlawan atau idol adalah inspirasi bagi kehidupan suatu masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi ketika sosok pahlawan atau ini dianggap tersakiti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua orang penjaga pantai di Cronulla, Sidney (berkulit putih) pernah terlibat bentrokan dengan sekelompok warga Australia lainnya (beretnis Arab). Mulanya adalah perkara kriminal biasa. Kemudian berkembang menjadi kerusuhan antar etnis. Desember 2005, orang Aussie kulit putih mulai menyerang orang Aussie Libanon, juga semua orang berwajah Timur Tengah lainnya. Pantai Cronulla menjadi pantai yang tak lagi ramah saat ribuan orang Aussie kulit putih melakukan penyerangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusuhan berwajah SARA ini menjadi salah satu kerusuhan terburuk dalam sejarah Australia mutakhir. Selain masih menghadapi persoalan diskriminasi terhadap suku Aborigin, kerusuhan Cronulla menjadi pukulan bagi rekonsiliasi menuju Australia yang multikultur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mecca LaaLaa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selalu ada pelajaran dan peluang dari setiap peristiwa. Istilah Burkini (Burqini) menjadi populer di Aussie, bahkan di belahan dunia lain di mana perempuan muslim tinggal dan menginginkan swimsuit yang “sopan”. Burkini merupakan gabungan dari kata Burqah dan Bikini. Tipe pakaian renang muslimah ini pertama kali didesain dan dikenalkan oleh perempuan muslim Aussie Lebanon, Aheda Zanetti. Di bawah label Ahiida, Zanetti juga mendesain jenis Burkini lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun setelah kerusuhan, Mecca Laa Laa (20 tahun) menjadi sorotan publik dengan menjadi penjaga pantai perempuan muslim pertama dengan seragam burkini. Liputan tentang Mecca Laalaa memenuhi media arus utama seperti Time, BBC, Washington Post dan National Geographic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutku Steven Barraclough sudah cukup baik dengan memberikan poster besar Mecca Laa Laa dengan burkininya saat kunjungan ke Paramadina hari ini (31/07). Mungkin tujuannya mengenalkan bahwa pantai Aussie sudah aman untuk semua pengunjung dari etnis dan ras apapun. Sebuah diplomasi yang membawa berita baik. Tapi sebenarnya dalam pertemuan hangat itu, aku tak menyetujui ucapan terakhirnya, “Selamat bermimpi bertemu Mecca Laalaa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haha, kenapa? ini sih soal selera. Mecca memang menarik. Masalahnya, aku justru membayangkan dan bermimpi sesuatu yang lain, yakni mendapatkan foto ekslusif dari Yamila Diaz Rahi yang keturunan Lebanon, atau setidaknya Bar Refaeli yang Israel sedang menggunakan burkini. Sekali-kali kan tidak jadi dosa kalau mereka pakai burkini. Jangan tampil dalam foto dengan bikini versi sport Illustrated melulu.Jiaahhh.[ ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ditulis setelah acara diskusi PSIK Paramadina bersama &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Steven Barraclough, seorang Konselor Politik dari Kedutaan Besar Australia &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-6297294109215543186?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/6297294109215543186/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=6297294109215543186' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/6297294109215543186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/6297294109215543186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2009/08/definisi-pahlawan-berbeda-bagi-setiap.html' title='Burkini Idol'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-5945093772744970155</id><published>2009-07-19T12:50:00.011+07:00</published><updated>2010-08-12T18:21:13.709+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Klab Kakek Tua dan Obrolan Kecoa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/SuyGDQHpX-I/AAAAAAAAAJA/AH8Fw0veRxo/s1600-h/DSC_6838.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 222px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/SuyGDQHpX-I/AAAAAAAAAJA/AH8Fw0veRxo/s320/DSC_6838.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5398837443735150562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Menakutkan tua, lalu melawan pada waktu. Banyak orang mengalaminya. Sepertinya hal ini tidak akan terjadi padaku. Sebab aku suka membakar sampah, menyayangi suara kereta, memperhatikan arus deras Ciliwung, dan bersenandung untuk bunga-bunga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Terma tua itu pula yang mengantarkanku pada Remy, Sjafrial, Hidayat, dan Leon hari kemarin, hingga Arge di hari jadi ke tujuh puluh empatnya hari ini. Sepertinya mereka seniman-seniman berkarakter. karir kepenyairan dan kehidupan berkesenian membuat mereka tampak otentik. Mana pernah orang seperti Remy mau dibilang tua. Meski rambut dan gigi-giginya yang mulai tanggal dan memutih menjelaskan. Dua kali aku diperingatkan untuk tidak mendikotomikan tua muda. "Aku tidak tua. Aku tidak pernah tua. Kita sama" Jelasnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mencuri dan berbohong itu ternyata penting. Sebab itu tidak akan membuat kita tua. Menurut Hidayat, kakek tikus dikutuk peri menjadi tua dan rontok rambutnya karena suka mencuri dan berbohong. Untuk melawan para pencuri, Hidayat melukis dengan hatinya. Aku baru akan mengamati dengan seksama apa benar ia lebih hebat dari seorang Jackson Pollock. Tapi setelah mendengar dongengnya tentang negeri kecoa, aku percaya saja. Bisa dibayangkan, keriput kulitnya karena kepulan rokok dan bir itu masih bisa membawanya memacu new beetle cabriolet tunggangannya lebih dari 140 km/jam Jakarta Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soetardji sendiri yang masih jadi presiden membuatku malu. Meski ringkih ia tetap jeli. dan diskusi dalam taksi yang gelap di akhir perjalanan, membuatku berpikir seribu kali bahwa aku tidak akan pernah tua selama bisa merasakan kebebasan seperti Muin yang pemberani dan berjarak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa aku terlalu sedikit membaca? tidak aku bukan sedikit membaca. Aku juga sedang membaca dengan menjadi anggota klab kakek tua yang suka mengobrol tentang kecoa.(MH)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-5945093772744970155?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/5945093772744970155/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=5945093772744970155' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/5945093772744970155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/5945093772744970155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2009/07/menakutkan-tua-lalu-melawan-pada-waktu.html' title='Klab Kakek Tua dan Obrolan Kecoa'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/SuyGDQHpX-I/AAAAAAAAAJA/AH8Fw0veRxo/s72-c/DSC_6838.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-4850252555883717427</id><published>2009-03-13T15:03:00.011+07:00</published><updated>2010-08-11T11:45:50.524+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><title type='text'>Menalar Demokrasi</title><content type='html'>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/SuyH-FSJMTI/AAAAAAAAAJI/YFTlOuntpME/s1600-h/menalar+demokrasi+anis.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5398839553950298418" src="http://4.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/SuyH-FSJMTI/AAAAAAAAAJI/YFTlOuntpME/s320/menalar+demokrasi+anis.JPG" style="float: left; height: 320px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 242px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="left"&gt;&lt;td class="tr-caption"&gt;Foto Misbah&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Manusia mahkluk berhasrat. Kualitas dan spektrum hasratnya bergradasi. Pemenuhan hasrat mensyaratkan adanya kebebasan. Untuk memenuhi hasratnya, kompromi atau negosiasi lazim dilakukan manusia. Kompromi tidak hanya dilakukan dengan manusia lain,tetapi terhadap hasrat interpersonal. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Manusia dituntut mampu mengendalikan hasratnya agar tidak melahirkan anarki. Anarki ini berwajah feodalisme dan totalitarianisme, bentuk ekstrem dari kepemilikan kebebasan (kuasa). Untuk menghindari anarki, peradaban manusia kontemporer mengenal istilah demokrasi dengan segenap prosedur dan paradoksnya. Demokrasi dianggap metode berkompromi paling memungkinkan dan baik untuk dipraktekkan. Pilar kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan dalam demokrasi akan dengan sendirinya menjadi antitesis bagi anarki feodalisme dan totalitarianisme. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost" style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Faktor kualitas dan kuantitas penguasaan informasi (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;knowledge&lt;/span&gt;) dan ragam kekuatan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;power&lt;/span&gt;) lainnya pada akhirnya membedakan posisi tawar pihak-pihak yang berkompromi.Kelompok dominan akan menghegemoni dan mendapatkan keuntungan lebih besar dari proses kompromi. Hegemoni itu meliputi ruang ekonomi, politik, sosial dan kebudayaan. Seperti itulah rumusnya. Lalu bagaimana?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Mari masuk dan menjelajahi suatu dunia di mana kita bisa mendefinisikan,membongkar dan meramu ulang cerita tentang bagaimana manusia berkompromi dan mempraktekkan demokrasi sekarang ini. Tanpa itu, kita akan terjebak pada mitos-mitos seputar demokrasi yang memenjarakan nalar. Ikut larut dalam fenomena permukaan, baik sebagai pemenang atau pecundang. Dalam hiruk-pikuk dunia manusia ultramodern yang tengah berdemokrasi, mari mencari makna dan kesadaran kritis. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Peradaban Manusia dan Kelompok Dominan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Cerita peradaban manusia dimulai kira-kira sejak zaman manusia berjalan tegak dan cerdas bernama Homo Sapiens. Kompromi awalnya dilakukan seadanya, masih perihal berbagi makanan hasil buruan berupa binatang atau tetumbuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost" style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Setelah populasi manusia semakin bertambah, zaman agrikultur lahir.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost" style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Zaman ini berlangsung ribuan tahun. Kehidupan manusia mulai kompleks. Manusia mulai memikirkan bagaimana bisa menguasai keganasan alam,meramalkan cuaca dan musim, membuat penanggalan serta menciptakan teknologi untuk mempermudah kehidupan. Berdasarkan peta geografis, artefak dan catatan sejarah kita mengenal beberapa pusat peradaban sejak dari Mesir,Mesopotamia, Persia, Romawi, Yunani, Anglo saxon, India, China, Indo China, Kepulauan Nusantara, Aborigin Australia, Indian Amerika hingga peradaban nomaden suku-suku semenanjung Arabia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk kompromi dan pelembagaan kekuasaan antar manusia dari semua peradaban ini sangat beragam. Kita mengenal beberapa bentuk seperti klan, kekaisaran, kerajaan,republik, negara polis, kekhalifahan, kesultanan, maupun land lord (tuan tanah) seperti terjadi di Eropa. Ketersediaan sumber daya alam dan faktor kebudayaan berpengaruh pada perkembangan dan ciri khas suatu pusat peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya,semua bentuk pelembagaan kekuasaan itu sah dan berakar dari kultur serta kebutuhan masyarakatnya. Pengaruh utama berasal dari nalar dan hasrat kelompok dominan yang pada jaman ini adalah kaisar, kepala suku, raja, bangsawan, senator, spiritualis (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;magician&lt;/span&gt; atau nabi). Setiap peradaban memiliki keragaman dalam mempersonifikasi siapa kelompok dominan berpengaruh ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nalar ekspansif dan eksploitatif bangsa Eropa kemudian membawa peradaban manusia pada zaman industri. Zaman ini berlangsung ratusan tahun. Adalah bangsa Anglo Saxon Inggris yang memulai revolusi industri. Produksi massal barang konsumsi dan penguasaan teknologi modern dimulai dari usaha kaum kapitalis untuk menggantikan sistem gilda. Disebabkan kebutuhan energi amat besar dan keuntungan material yang akan didapat, industrialisasi menyebar ke seantero Eropa dan segenap koloninya. Munculnya kaum kapitalis, kolonialisasi, dan revolusi industri sedikit banyak merubah peta konstalasi kelompok dominan di semua peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah zaman Industri manusia memasuki zaman informasi. Zaman ini mewarisi sebuah dunia pasca kolonialisasi fisik dan perang dunia. Kelompok dominan direpresentasikan oleh serikat negara pemenang perang dalam PBB beserta semua derivasi dan nilai-nilainya. Personifikasi siapa kelompok dominan memang menjadi semakin abstrak dan longgar meski tak mengaburkan aktor utamanya, yakni politikus, birokrat (negara), tentara dan pemilik modal (kapitalis). Kolonialisasi fisik, lahir dalam bentuknya yang baru yakni neoimperialisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaman selanjutnya, dunia menjadi semakin sempit dan global. Internet ditemukan. Era cyber ini meniscayakan lahirnya nilai-nilai baru dan kelompok dominan baru. Ini era pencitraan yang tokohnya adalah "aktor" pemilik akses utama terhadap informasi dan modal. Inilah titik balik dari peradaban manusia. Jika pada era informasi kekuatan dominan masih dipegang oleh birokrasi negara, gabungan negara dan kaum kapitalis, maka pada era cyber kekuatan lebih terfokus pada jejaring sosial lintas negara dan lintas modal. Ruang publik baru, di mana pertarungan dan negosiasi terbuka antar hasrat terjadi telah tercipta. Demokrasi melayaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pemindahan dan Penyebaran Kekuasaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jejaring sosial ini terbentuk berdasarkan penyatuan gagasan tentang sesuatu yang bermakna dan ideal yang dipahami dan ingin diraih bersama. Gagasan jejaring itu mungkin sederhana dan sepele, atau malah palsu. Tapi dalam peradaban manusia era pencitraan, dengan konstruksi sedemikian rupa, kemungkinan melakukan hegemoni begitu terbuka. Manusia kemudian dibawa pada pertarungan pencarian makna dalam setiap diskursus yang menyelimuti kesehariannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Holocaust mungkin gagasan palsu jejaring zionis, tapi dengan konstruksi citra sedemikian rupa ia bisa menjadi kebenaran dan legitimasi bangsa Izrael untuk menduduki wilayah Palestina. Pertarungan antar jejaring di dunia gagasan akan menentukan kelompok mana yang akan dominan sekaligus bertahan. Jurinya yakni akal sehat dan hasrat publik dari setiap peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencermati narasi peradaban manusia tadi serta siapa yang sebenarnya berkuasa, waktu seolah menjadi begitu relatif. Periodisasi dan politik waktu bahwa bangsa Indonesia menjadi bangsa merdeka pada 1945, orde baru 1966, reformasi 1998, menjadi tidak cukup valid. Begitu juga pemaknaan kita terhadap kekuasaan. Soekarno-Hatta rupanya sudah cukup jeli saat menjelaskan dalam proklamasi kemerdekaan 1945 bahwa telah terjadi bukan perebutan kekuasan tetapi pemindahan kekuasaan di negara kolonial Hindia Belanda (Jepang) menjadi Indonesia. Ya, yang terjadi hanya pemindahan kekuasaan secara administratif mengikuti pola pendirian negara berparadigma Weberian sebelumnya bernama Netherland Indie (Hindia Belanda).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemindahan dan penyebaran kekuasaan yang sebenarnya, ternyata berpola acak (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;chaos&lt;/span&gt;), terus-menerus, melalui evolusi atau revolusi. Ini terjadi pada semua bangsa di semua peradaban. Sebagai makhluk berhasrat, orang Indonesia, memiliki kebebasan, dan mendapatkan akses maksimal terhadap informasi dan modal, sudah selayaknya siapapun yang memiliki kriteria ini memaknai berbeda proses demokrasi beserta segenap prosedur dan paradoksnya yang terjadi kini. Ini penting untuk menjadi bagian dari kelompok dominan yang menguasai peradaban lebih baik dan adil tanpa feodalisme dan totalitarianisme.[&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MH&lt;/span&gt;]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 78%; font-style: italic;"&gt;Ditulis untuk mensupport Gerakan Pemilih Cerdas &lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-4850252555883717427?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/4850252555883717427/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=4850252555883717427' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/4850252555883717427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/4850252555883717427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2009/03/menalar-demokrasi.html' title='Menalar Demokrasi'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/SuyH-FSJMTI/AAAAAAAAAJI/YFTlOuntpME/s72-c/menalar+demokrasi+anis.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-6335000540615182364</id><published>2009-03-02T19:29:00.021+07:00</published><updated>2010-08-11T11:16:04.669+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Catatan Wahib, Jejak-jejak sang Pemikir Bebas</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/Sn6rtX7QXgI/AAAAAAAAAGQ/DqXud12JsG0/s1600-h/buku-ahmad-wahib.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5367916601877224962" src="http://2.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/Sn6rtX7QXgI/AAAAAAAAAGQ/DqXud12JsG0/s320/buku-ahmad-wahib.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 287px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 176px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Menulis catatan harian bukanlah sesuatu yang jamak dilakukan sebagian besar masyarakat Indonesia. Padahal banyak hal positif bisa didapat dari kebiasaan menulis catatan. Kondisi ini mungkin bagian dari gejala umum masih rendahnya tingkat membaca dan kebiasaan mendokumentasikan pikiran.Untung, di balik ketidakpopuleran tradisi menulis catatan harian itu masih ada yang mau melakukannya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Kita masih bisa menemukan pergolakan pemikiran mendalam dan serius dalam catatan harian Ahmad Wahib. Hal yang sama juga dilakukan oleh seorang anak muda lainnya, Soe Hok Gie. Dari keduanya potongan pemikiran tentang agama dan sejarah Indonesia dari pandangan seorang anak muda terekam dengan baik untuk kemudian bisa dibaca dan dinikmati. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost" style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Catatan harian, berbeda dengan karya tulis lainnya, adalah ekspresi jujur penulisnya. Dengan kata lain, tidak terdapat jarak antara penulis dengan catatan harian itu. Menurut Daniel Dhakidae dalam Catatan Seorang Demonstran-nya Hok Gie, catatan harian adalah potret dengan sinar rontgen dan penjelmaan diri paling dalam dari seseorang. Catatan harian adalah “aku yang lain” dari si penulis. Sebuah alter ego. Bukan sekedar goresan pensil belaka. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Wahib dan Hok Gie adalah dua sosok yang catatan hariannya diterbitkan setelah mereka wafat. Tentu banyak perbedaan catatan kedua sosok tersebut di sana-sini karena perbedaan latar belakang kehidupan pribadi mereka. Hok Gie cenderung menuliskan aktifitas, sementara Wahib lebih banyak menuliskan renungan. Tapi kesamaan yang tergambar tentang pribadi keduanya adalah bahwa mereka sama-sama merupakan anak muda yang resah, ingin melakukan perubahan sosial, sedang mencari makna dalam hidup dan memiliki keinginan untuk “bebas”, sementara mereka sendiri sedang berhadapan dengan realitas yang kadang lebih mirip “penjara”. Lahir di tahun sama, pada 1942, keduanya mati muda. Kehidupan mereka hanya sempat meninggalkan kenangan bahwa ada pikiran maju dan jiwa besar dalam sosok anak muda seperti mereka masa itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahib, menurut Djohan Effendi, dalam pendahuluan Pergolakan Pemikiran Islam, punya peran besar dalam kelompok pembaharuan Islam. Wahib adalah “aktor intelektual”. Sedangkan Soe Hok Gie, adalah ”aktor intelektual” dibalik demonstrasi jalanan mahasiswa angkatan 66.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harsja W Bahtiar sepertinya keliru belaka ketika menulis pengantar untuk buku Catatan Seorang Demonstran bahwa ia menyayangkan sosok Hok Gie harus mati dalam usia masih sangat muda. Justru itulah menariknya, karena berumur singkat Hok Gie maupun Wahib bisa dikenang, dikagumi, dipuja sebagai seorang anak muda pemberani, punya rasa penasaran tinggi tentang pencarian makna dan menginspirasi. Toh, kalaupun mereka berumur panjang dan sempat menjadi “kaum tua”, mungkin mereka tak akan terus dikagumi sebagai anak muda, bahkan mungkin juga akan seperti “kaum tua” yang sering mereka kritik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Daniel Dhakidae, Wahib dan Hok Gie saling mengisi. Dari dua titik berangkat yang berbeda, keduanya bertemu dalam satu titik yaitu membangun masyarakat baru yang bermoral, terbuka dan manusiawi. Wahib dan Hok Gie jeli melihat tantangan dan tanpa ragu-ragu secara tangguh menawarkan sikap yang harus diambil.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Potret Keresahan Seorang Pemikir Muda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hok Gie memang lebih “beruntung” dibanding Ahmad Wahib karena kehidupan pribadi dan bukunya telah difilmkan. Sosoknya jadi jauh lebih lebih populer dan dikenal publik dibanding Wahib. Juga pikirannya. Tapi esai ini tak akan membahas pemikiran Hok Gie karena akan lebih difokuskan pada Catatan Wahib serta bagaimana melihat pergolakan pemikiran dalam catatannya itu setelah kematiannya berjarak lebih dari tiga dekade pada saat ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak ada dua hal yang bisa dipotret untuk memahami catatan harian Wahib dan pergolakan pikirannya; Pertama, konteks sosial historis saat catatan harian itu ditulis. Kedua, konteks sosial historis masa kontemporer saat pikiran Wahib itu dibaca kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa di mana Wahib menikmati kehidupannya, kemungkinan untuk mengajukan banyak pertanyaan tentang pemahaman keagamaan yang sudah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;established&lt;/span&gt; sangat mungkin muncul karena masih terbatasnya referensi dan informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang pemahaman Islamnya Ahmad Wahib menulis, “Aku belum tahu apakah Islam itu sebenarnya. Aku baru tahu Islam menurut HAMKA, Islam menurut Natsir, Islam menurut Abduh, Islam menurut ulama-ulama kuno. Islam menurut Djohan, Islam menurut Subki, Islam menurut yang lain-lain. Dan terus-terang aku tidak puas. Yang kucari belum ketemu, belum terdapat, yaitu Islam menurut Allah, pembuatnya. Bagaimana? Langsung studi dari Quran dan Sunnah? Akan kucoba. Tapi orang-orang lain pun akan beranggapan bahwa apa yang kudapat ini adalah menurut aku sendiri. Tapi biar, yang penting adalah keyakinan dalam akal sehatku bahwa yang kupahami itu adalah Islam menurut Allah. Aku harus yakin itu !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Wahib tadi tentang apa Islam yang sebenarnya dan dipahaminya, cukup menjelaskan bahwa dia sedang terus berada dalam pencarian. Wahib bukanlah sosok yang mau menerima begitu saja tanpa mengkonfirmasi apa yang selama ini dia yakini atau imani. Dan dia mencoba cukup fair dalam keberimanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bagian yang lain Wahib mencatat, “Kita kaum intelektual harus senantiasa berhati-hati dalam menjaga sikap dasar kita yaitu: a posteriori dan single standard. Terutama bagi kita kaum intelektual yang pernah dibesarkan dalam lingkungan sosial-kultural Islam. Ketajaman kritik kita terhadap umat berhubung dengan general attitude-nya. Jangan sampai menjerumuskan kita pada sikap a priori salah dalam menghadapi suatu masalah, sebagaimana kita juga menjauhkan diri dari sikap a priori membenarkan mereka. Kita harus benar-benar bisa menjauhkan diri dari nilai ganda (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;double standard&lt;/span&gt;), nilai ganda yang memihak umat Islam ataupun nilai ganda yang memihak bukan Islam. Ada baiknya kita ingat bahwa mengucapkan assalamualaikum tidak terus berarti Islam; mengaji yang keras, sehingga didengar orang banyak tidak terus berarti Islam; menulis dengan huruf Arab tidak terus berarti Islam; sok ikhlas, sok khusyu tidak terus berarti Islam; mengobral ayat-ayat Alquran tidak terus berarti Islam; pidato pakai shalawat tidak terus berarti Islam. Demikian pula; menyerang gadis pakai kerudung tidak terus berarti modern; meremehkan pentingnya shalat tidak terus berarti modern; membela atheisme tidak terus berarti modern; menolak formalitas tidak terus berarti modern; mengkritik umat Islam tidak terus berarti modern; membela orang-orang berdansa tidak terus lalu berarti modern.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Wahib, sikap dasar yang tidak menerapkan standard ganda akan menjaga kaum intelektual dari sikap seolah-seolah islami dan modern. Dalam berlatih berpikir bebas, kaum intelektual harus berani membebaskan diri dari tirani yang berasal dari dalam diri berupa kesombongan dan ketakutan. “Kita harus berani membebaskan diri dari dua tirani yang berdempet. Pertama, tirani kesombongan: sok Islam tulen, sok ikhlas, sok modern, sok intelektual, sok moralis, sok suci, sok nuchter dan lain sebagainya. Kedua, tirani ketakutan: konservatif, atheis, kolot, kafir, mutazilah, disorientasi, lemah ideologi, imannya diragukan, sekularis, kebarat-baratan dan lain-lainnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran-pikiran Wahib di atas sangat kritis. Wahib punya modal cukup besar untuk menjadi pemikir. Ini merefleksikan bagaimana keresahan pribadinya memotret lingkungan sosial di mana dia hidup. Selain pengalaman pribadi berintegrasi dengan mereka yang berlainan iman di asrama mahasiswa Katholik, tak dapat disangkal bahwa kelompok diskusi adalah tempat di mana ide-ide pembaharuan Islam dan pikiran tentang kebebasan memenuhi ruang perenungan Wahib. Menurut Mukti Ali yang rumahnya dipakai sebagai tempat diskusi setiap Jumat sore, Wahib-lah yang memberikan nama Limited Group untuk kelompok diskusi itu. Rumah lainnya bagi pikiran Wahib adalah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Meskipun pada akhirnya ia harus keluar karena berbeda pandangan dengan beberapa pengurus besar HMI dan merasa sarannya tentang perbaikan HMI “tak digubris”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kritik Kaum Konservatif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Meski banyak mendapat respon positif terutama setelah LP3ES menerbitkan pertama kali hasil suntingan catatan hariannya, respon kontra terhadap pikiran bebas Wahib datang dari beberapa tokoh muslim yang gigih mengkampanyekan Islam untuk melawan sekularisme dan liberalisme. Penentangan ini jika diamati lebih jelas dalam konteksnya kini, tak punya cukup alasan kuat. Hanya berisi prasangka dan ketakutan tak berdasar. Ketidaktuntasan membaca perihal masalah urgensi sekularisasi dan liberalisme cenderung menjadikan dialog masalah ini penuh dengan retorika seperti pengaruh orientalisme dan klaim Islam sebagai agama sempurna yang sudah selesai. Sebuah kenyataan yang juga dihadapi dan diresahkan Wahib semasa hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buku pergolakan pemikiran Islam, Catatan Harian Ahmad Wahib yang disunting oleh Djohan Effendi dan Ismed Natsir, dengan pengantar H.A Mukti Ali, merupakan halaman yang suram dalam kehidupan Islam di zaman orde baru ini, buku tersebut dan buku Islam Dipandang Dari Berbagai Aspeknya, karangan Harun Nasution, bernada sama.” tulis HM Rasjidi, seorang guru besar IAIN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan H.M Rasjidi menyebutkan pula bahwa penerbitan catatan ini merupakan suatu tragedi. Bak pencekokan orientalis terhadap para mahasiswa. Beberapa alasannya menceritakan penerbitan buku ini sebagai gangguan terhadap Islam. Seperti saat Rasjidi meremehkan kapasitas Djohan Effendi karena belum pernah membaca karyanya. Apologi H.M Rasjidi bahwa responnya terhadap pikiran bebas anak muda seperti Nurcholish ataupun Wahib adalah untuk memperingatkan umat agar tidak terjerumus dalam pengaruh orientalis dan sekuleris barat malah terlihat sebagai marahnya seorang borjuis yang merasa terganggu oleh demonstrasi buruh proletar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Sumargono, seorang tokoh Islam lainnya, juga memberikan komentar skeptis terhadap pikiran Wahib yang dituangkannya dalam catatan harian itu dua belas tahun kemudian saat liputan tentang pemikiran Wahib muncul kembali.&lt;br /&gt;“Pada dasarnya, pemikiran seseorang dipengaruhi oleh latar belakang informasi-informasi yang diterimanya. Wahib juga mengakui bahwa ia sangat terpengaruh oleh pola pergaulan hidupnya saat kost di asrama mahasiswa Katolik Realino Yogyakarta. Di sini Wahib banyak mendapat pesan-pesan dari Bruder van Zon, Romo Stolk, Romo Willenborg dan Romo De Blot (semuanya Ordo Jesuit)” demikian tulis Ahmad Sumargono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pelopor Pembaharuan Islam &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Memotret pikiran Wahib di mana kebebasan berpikir masih belum begitu populer saat itu, kita bisa membayangkan posisi signifikan Wahib meskipun terkesan berada di belakang layar karena “kalah pamor” oleh tokoh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) lainnya yang disebutnya sebagai anti pluralis. Kita bisa membayangkan betapa keluarnya Wahib dari HMI cukup memberikan kesan bahwa ia adalah pionir dalam pembaharuan pemikiran Islam di kalangan kaum muda muslim terpelajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca rangkaian keresahan Wahib yang didapatnya dari banyak perenungan, terasa sekali keinginannya untuk menjadikan HMI sebagai organisasi mahasiswa independen yang tak terikat pada kekuatan politik mengatasnamakan Islam yang membuat mahasiswa muslim kehilangan kreatifitas untuk tidak mengatakan telah terjebak pada apa yang disebut Wahib sebagai simbol, formalisme dan pengulangan. Wahib sepertinya mampu melihat celah bahwa relasi Islam dan negara yang berada dalam krisis bisa diselesaikan dengan adanya pembaharuan dalam cita dan gerakan HMI sebagai bagian dari elite muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau saya menyaksikan pola berpikir aktifis HMI pada cabang-cabang kecil, maka seolah-olah lenyaplah harapan saya untuk menjadikan HMI ini sebagai kekuatan pembaharu. Mungkin sekali bila pimpinan HMI berhasil menjadikan HMI sebagai kekuatan pembaharu–independen-kreatif, maka berguguranlah anggotanya meninggalkan HMI. Orang yang akan masuk pun sedikit sekali dan dukungan umat akan kurang. Persoalannya, karya mana yang kira-kira lebih besar antara besar sebagai kekuatan retrogessif-reaksioner dengan kecil sebagai pembaharu pelopor.” tulis Wahib tentang pola berpikir aktifis HMI saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polemik seputar keluarnya Wahib dan Djohan Effendi dari HMI memang sedikit membukakan lembaran sejarah dinamika pembaharuan pemikiran Islam di kalangan mahasiswa muslim dan persentuhannya dengan kekuatan-kekuatan lain baik dari intern umat Islam maupun dari luar komunitas umat Islam. Rasanya kita sudah bisa dengan mudah menerka-nerka apa yang menjadi bahan pemicu pergolakan pemikiran dan keresahan Wahib dari krisis masa itu dan perannya sebagai bagian dari pionir pembaharuan pemikiran keislaman dan kebebasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika merunut kronologis respon terhadap catatan harian Wahib yang cukup menyita opini media, terdapat dua kali momentum diskursus tentang Wahib mencuat. Pertama, saat catatan hariannya pertama kali diterbitkan awal era delapan puluhan. Kedua, saat koran Republika kembali menampilkannya dalam dialog Jumat di pertengahan era sembilan puluhan. Wawancara wartawan Republika Ihsan Ali Fauzi dengan Bachtiar Effendi cukup mewakili dan membangkitkan kembali kenangan tentang peran Ahmad Wahib dalam pembaharuan Islam yang terjadi di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bachtiar Effendi rupanya cukup menyadari bahwa perhatian terhadap Ahmad Wahib masih amat kurang. “ Memang dan ini tidak fair. Keluhan pertama dikemukakan Djohan Effendi. Dan ini bisa dibenarkan, mengingat peran Wahib yang besar tadi. Di sini kita melihat dua gejala, pertama para peneliti sejauh ini tidak mengangkat Wahib. Kedua, kalaupun ada yang mengangkatnya, analisisnya malah salah. Mengenai yang pertama, menurut saya ada beberapa sebab. Mungkin karena pikiran Wahib bersifat lokal. Juga, pikiran-pikiran itu diekspresikan dalam bentuk percakapan pribadi, catatan harian. Kalau para peneliti tidak mengenal teman-teman Wahib atau tidak menjadikan mereka sebagai sumber, maka mereka tidak akan tahu mengenai Wahib. Selain itu, Wahib juga kan menyatakan diri keluar dari HMI, yang tentu membatasi eksposenya. Itulah sebabnya, fokus utama sejarah pembaharuan Islam di Indonesia mengarah ke Nurcholish Madjid (Cak Nur)” jawab Bachtiar terhadap pertanyaan yang diajukan Ihsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca kembali seputar peran Wahib dalam pembaharuan Islam dan mencari signifikansinya kini setelah lebih dari tiga dekade, jika kembali merujuk jawaban Bachtiar Effendi pada pertanyaan Ihsan Ali Fauzi di Republika adalah membaca bagaimana seorang anak muda mencurahkan pikirannya untuk merespon tantangan atau krisis yang tengah dihadapi umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost" style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Wahib di tengah Tokoh Pembaharuan lainnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Greg Barton, Indonesianis dari Deakin University itu menempatkan Ahmad Wahib sebagai salah satu peletak dasar dari pemikiran Neo-Modernisme di Indonesia. Bersama Nurcholsih Madjid, Abdurrahman Wahib, dan Djohan Effendi, Wahib dianggap sebagai salah satu peletak dasar Neo-Modernisme yang merupakan kelompok pembaharu yang memulai gerakannya sejak tahun 1970-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika merujuk pendapat Barton, Wahib memang ada di antara para peletak dasar dari pemikir Neo-modernisme Islam. Neo-modernisme bukan lagi seperti kelompok modernis seperti Ahmad Dahlan yang berkepentingan untuk menghapus Takhayul, Bid’ah dan Khurafat (TBC) yang praktikal, tapi masuk lebih dalam ke arah pembaharuan pemikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Barton, kritik kaum Neo-modernism jauh lebih beresiko dibandingkan dengan kelompok modernis yang lahir lebih awal dalam sejarah Islam Indonesia di Abad 20 Masehi. Karena menyangkut masalah keyakinan dan perubahan pemikiran yang tentu saja akan menimbulkan resistensi. Masalah sekulerisasi dan sosialisme demokrasi, begitu banyak disalahpahami dan dianggap datang dari Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang pada awalnya Wahib dan Djohan misalnya, tak hana menghadapi penentangan dari kaum tua seperti yang pernah dihadapi oleh Ahmad Dahlan atau Ahmad Surkati, tapi juga dari kelompok muda yang berafiliasi dengan kaum tua. Wahib dalam catatannya menuliskan bahwa independensi kaum muda (HMI) harus benar dijaga. Menurut Wahib kaum muda tidak harus terbelenggu pemihakan pada PNI, PSI ataupun NU. Hal ini menurutnya agar kaum muda dapat menentukan sendiri jalan pikiran, karena merekalah yang akan mewarisi masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya memang yang ingin dijelaskan Greg Barton adalah bahwa kelompok Neo-modernis menjadi tempat kelahiran baru untuk menyambut penyegaran yang terhenti dari kelompok modernis puritan seperti Muhamadiyah. Kritik dari Wahib dan kelompok pembaharu itu adalah bahwa pembaharu sebelumnya (Muhamadiyah, Alirsyad, dan Persis) telah gagal melakukan respon terhadap kebudayaan dan memang cenderung anti budaya. Karena itu Neo-modernisme melakukan beberapa revisi dalam gerakannya. Dalam hal ini Greg juga memberikan sinyalemen bahwa justru di saat gerakan modernis mulai mandul karena hanya bergerak pada isyu isyu praktis (fiqhiyah), maka gerakan tradisional malah mengalami peningkatan signifikan karena proses politik dan lahirnya generasi baru kaum muda progresif dari kalangan tradisional. Hal ini yang menandakan fondasi dari gerakan Neo-modernisme mulai terbentuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost" style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pikiran Bebas dan Masyarakat Pasca-Agama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Wahib telah mengukuhkan diri melalui catatannya sebagai pelopor pembaharuan pemikiran keislaman. Gerakan pembaharuan Islam sendiri boleh dibilang berhasil jika melihat dan merasakan sendiri kebebasan yang bisa kita rasakan kini. Meski masih ada riak seperti kasus terorisme dan kekerasan oleh kelompok preman berjubah -meminjam istilah A. Syafii Maarif- aroma kebebasan sangat dominan terasa kini. Apa yang menjadi keresahan Wahib dulu saat ini menjadi tak terlalu dramatis lagi. Tak ada lagi kamar gelap dalam mencari pengetahuan dan pencarian jawaban tentang Tuhan, agama dan hal-hal yang dulu dianggap tabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa yang kira-kira sedang kita hadapi sekarang? Di mana posisi agama? Untuk menjawab pertanyaan ini perlulah kita memetakan masalah-masalah yang relatif menyita perhatian masyarakat dan kemungkinan krisis yang sedang dihadapi dan menunggu untuk diakhiri.&lt;br /&gt;Dalam catatannya Wahib menuliskan tentang filsuf dan agama, “Seorang filsuf itu sebetulnya tidak perlu beragama dan tidak boleh beragama. Begitu dia beragama, begitu dia berhenti menjadi filsuf. Untuk masing-masing filsuf itu biarlah ada “agama” sendiri-sendiri yang langsung dia sendiri bicarakan dengan Tuhan. Saya pikir, agama-agama yang ada sebagai aturan-aturan sekarang ini adalah agama untuk orang-orang awam yang kurang berpikir atau yang telah merasa selesai dalam berpikir. Kasihannya, atau malah ini kehebatannya , filsuf adalah orang yang selalu berada dalam krisis. Dan demi kesejahteraan dunia, tidak perlu semua orang tenggelam dalam krisis yang abadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca pikiran Wahib tentang filsuf sebagai orang yang berpikir untuk merespon krisis abadi, masyarakat tradisional dan melihat fenomena yang terjadi di era sekarang kiranya perlu membandingkan pendapat Komarudin Hidayat, dalam pidato kebudayaannya pada Nurcholish Madjid Memorial Lecture di penghujung tahun 2007 di Paramadina. Komarudin menyebutkan istilah era pasca-agama (post-religion). Saat norma, kesadaran dan lembaga keagamaan tidak lagi menjadi pusat gravitasi. Menurutnya, agama hanya menjadi sebuah sub kultur, kadang maju dan terdesak ke pinggir, timbul tenggelam dalam budaya yang pluralistik dan virtualistik. Era pasca-agama akan menggusur dominasi dan hegemoni alam batin dan kondisi sosial dari sifatnya dulu yang serba religius. Kini bermunculan aktor-aktor dan pusat kekuatan baru yang sangat digjaya mempengaruhi kesadaran batin dan perilaku sosial kita. Aktor-aktor itu adalah negara, modal yang bergerak lintas bangsa dan agama, serta teknologi informatika ultra modern yang melahirkan virtual society. Keduanya membicarakan kebudayaan, posisi agama dan masyarakat. Dalam keresahannya, Wahib menyaksikan masyarakat yang stagnan. Agama dalam masyarakat seperti ini adalah lembaga yang beku yang hanya berisi aturan. Mereka yang masih mau dan mampu berpikir memerlukan agama atau teologi lain yang lebih membebaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pidatonya, Komarudin Hidayat membicarakan agama yang membeku itu telah ditinggalkan. Teknologi komunikasi dan informasi (ICT), media, internet dan pergeseran budaya masyarakat abad 21 telah memberikan gambaran jelas bahwa hampir tak ada informasi yang tak bisa diakses. Kondisi ini berkontribusi memberikan kebijaksanaan (wisdom) lebih besar untuk melihat yang lain (the others). Yang lain (the others) ini bisa berupa budaya, suku bangsa, agama, dan kecerdasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecepatan informasi yang tersebar pada detik dan menit ini juga di suatu kawasan di belahan dunia lain mempengaruhi tingkat kekritisan kita terhadap realitas. Kecepatan dan kemasifan bahkan banjir informasi itu menyadarkan bahwa terlalu banyak hal terjadi, bisa kita pelajari, renungi, nikmati dan kerjakan. Ada banyak pilihan untuk menyukai sesuatu di tengah dunia seperti ini. Agama yang hanya berisi larangan dan ancaman, tentu akan menjadi sesuatu yang sama sekali menjadi tidak menarik untuk dilihat dan dipelajari lebih dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebudayaan dan alam pikiran masyarakat kontemporer yang sudah memasuki tahap pasca-agama seperti disebutkan Komarudin, bukan menutup peluang sama sekali bagi pemikiran dan pembaharuan kembali pemahaman agama. Saat sebagian besar masyarakat sudah meninggalkan agama atau terjebak tak bisa membedakan antara yang profan dan yang sakral, mereka sebenarnya kembali dalam kondisi awal sebelum agama itu datang. Dengan pemahaman baru tentang mitos Tuhan baru atau agama baru, yang berupa mesin, mereka sebenarnya tetap saja membutuhkan agama sebagai pegangan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tantangan Berpikir Bebas ala Wahib&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berpikir bebas pada dasarnya adalah berpikir tentang sesuatu apapun tanpa merasa adanya tekanan. Berpikir bebas ala Wahib berarti mengajak merenungkan kembali arti dari kebebasan berpikir dan belajar menemukan kembali hakikat serta makna dari keberagamaan. Keberagamaan yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;taken for granted&lt;/span&gt; justru keberagamaan yang lemah karena tidak pernah diuji. Wahib sangat menekankan untuk menguji kembali keimanan dan memisahkan Islam yang sebenarnya sebagaimana dimaksud oleh si pembawa ajarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Era pasca agama tak hanya melahirkan masyarakat yang tercerabut dari pengaruh positif agama dan kebebasan berpikir, tapi juga menimbulkan resistensi dari kelompok yang merasa pemahaman keagamaan mereka terancam. Resistensi bisa terjadi karena sifat inferior dan prasangka. Literalisme seolah selalu menjadi batu sandungan untuk mencapai masyarakat yang terbuka, toleran, pluralis dan damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari tantangannya, berpikir bebas saat ini mendapatkan dua permasalahan yang memerlukan penyelesaian. Pertama, sejauh mana konsistensi untuk berpikir bebas itu bisa dipertahankan. Kedua, literalisme yang mengarah pada kekerasan dan terorisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaringan Islam liberal (JIL) misalnya, sebagai representasi kelompok yang berpikiran dan berpandangan bebas dalam melihat doktrin agama dan punya kepentingan untuk membawa pesan Islam yang mencerahkan dan membebaskan, seringkali harus berhadapan dengan resistensi dan permusuhan. Resistensi terhadap kelompok JIL misalnya terlihat dalam fatwa mati terhadap koordinatornya, Ulil Abshar Abdalla oleh Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI).&lt;br /&gt;Jika menganggap bahwa JIL adalah kelompok yang paling gigih memperjuangkan pluralisme dan kebebasan beragama serta pembaharuan pemikiran seperti yang dipikirkan Wahib dan merupakan generasi penerus pemikiran pembaharuan, paradoks sepertinya sedang terjadi. Di masa hidup Wahib saja yang orang tak banyak mendapatkan akses terhadap pustaka dan informasi resistensi tak mengarah pada kekerasan, justru di masa yang dimudahkan mendapatkan informasi ini resistensi itu mencapai titik ekstrem yang mengarah pada penghilangan nyawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun fatwa mati itu tak pernah ada yang menindaklanjuti, perkembangan resistensi dan prasangka keagamaan sepertinya mendapat suntikan dari fenomena terorisme internasional seperti Jamaah Islamiyah atau Alqaidah. Indonesia sendiri hingga akhir tahun 2007 baru bisa menyelesaikan problem terorisme yang berbasis tafsir terhadap pemahaman agama yang keliru. Kasus bom Bali yang mengorbankan ratusan orang tak berdosa memberi bukti bahwa ekstremitas telah membawa bencana bagi kemanusiaan. Memang faktor tafsir agama bukanlah sebab tunggal dari faktor pemicu terorisme. Faktor ekonomi politik juga memiliki peran. Tapi, tanpa tafsir keliru tentang pemahaman agama, bukankah terorisme tak harus ada. Terorisme sendiri adalah pengeksploitasian rasa takut dari publik untuk meraih tujuan tertentu. Teror terkait semua hal yang berhubungan dengan kekerasan. Kasus terorisme di Indonesia jelas tidak memiliki alasan cukup kuat untuk dikatakan sebagai aksi jihad karena hanya menimpa rakyat kecil yang tak berhubungan dengan kekuatan represif militer atau negara adidaya. Hal ini berbeda dengan motif terorisme di Irak atau Afghanistan yang ditujukan untuk melakukan mengusir tentara pendudukan Amerika. Kasus teror di Indonesia bisa saja disebut kecelakaan karena berada di tempat dan waktu yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan lainnya adalah bagaimana konsistensi dari berpikir bebas itu dapat mengejawantah dalam kultur kebebasan yang diusung oleh kaum pembaharu. Kebebasan sendiri menyertakan tanggungjawab. Wahib posisinya sangat jelas dalam catatannya tentang sikap dasar kaum intelektual Islam menyikapi kebebasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus pertentangan pemikiran di Indonesia menunjukkan perbedaan cara menyikapi perbedaan pendapat tersebut. Perbedaan pendapat masalah konsep negara di Mesir atau Pakistan sempat menewaskan Anwar Sadat dan ulama seperti Sayyid Qutb maupun Al Maududi. Sementara pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia tidak pernah melahirkan kekerasan dalam arti sesungguhnya untuk menyikapi perbedaan pemahaman keagamaan dalam intern umat beragama. Benturan antara kelompok-kelompok yang berbeda memahami hubungan Islam dan negara ataupun politik Islam tidak pernah melahirkan korban. Kelompok Islam baik yang konservatif ataupun yang liberal tidak pernah benar-benar meletupkan satu kerusuhan dengan berbasis dalil keagamaan. Hal ini merupakan sesautu yang patut disyukuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Persepsi Barat dan Globalisasi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sesama anak bangsa yang ada di dunia ketiga dan dalam perspektif Barat terbelakang, saya merasakan kebanggaan bahwa sosok seperti Wahib telah mampu melepaskan stereotif dan prasangka dari dan terhadap umat beragama lain yang berbeda. Paham kemanusiaan dan keterbukaan ini bahkan tak dimiliki oleh Samuel P Huntington misalnya, yang mentesiskan benturan peradaban barat dengan Islam (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Clash of Civilization&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Saiful Mujani dalam Muslim Demokrat, Huntington telah mempersepsikan bahwa orang Islam tak akan bisa memahami demokrasi karena bila usaha itu terjadi akan cenderung gagal karena Islam yang sangat berpengaruh dalam kehidupan mereka tidak mendukung demokrasi. Kegagalam demokrasi di negara-negara muslim antara lain disebabkan oleh watak budaya dan masyarakat Islam yang tidak ramah terhadap konsep-konsep liberalisme barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huntington meskipun mempercayai bahwa ada kelompok liberal dalam Islam tetap berpikiran bahwa mereka akan tetap memusuhi budaya politik Barat. Bagi Huntington, fundamentalisme Islam bukanlah faktor yang membangkitkan, kebangkitan Islam datang dari Islam itu sendiri. Kebangkitan Islam merujuk tidak hanya pada penekanan bahwa akan pentingnya Islam bagi kesalehan seseorang tetapi pada keyakinan bahwa Islam adalah solusi atas segala permasalahan kaum muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya Huntington, Elie Kedourie, seorang ahli Politik Islam menurut Mujani juga melihat Islam sebagai masyarakat yang ajaran agama, norma, kecenderungan dan pengalaman kesehariannya telah membentuk pandangan politik kaum muslim yang jauh dari modern. Kebanggaan orang Islam akan masa lalu mereka dan sifat tertutup dari dunia luar akan menghambat kaum muslim untuk belajar dari kemajuan politik dan dan sosial yang dicapai oleh peradaban lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahli lainnya, Bernard Lewis, menurut Mujani beranggapan bahwa ketakterpisahan kaum muslim dalam seluruh kehidupannya dari syariah, termasuk politik adalah ciri khas kaum muslim yang memisahkannya dari kelompok sosial lainnya. Sekularisme yang datang dari barat menurut Lewis akan mendapat tentangan dari Kaum Muslim akibat keyakinan mereka terhadap Islam sebagai agama sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mujani kemudian menyimpulkan bahwa ketiga ahli Islam ini dalam hubungannya dengan politik Islam memiliki pandangan sebagai berikut: pertama, Islam merupakan pandangan hidup total yang berlandaskan syariah yang mengatur seluruh aspek kehidupan individu dan masyarakat Islam. Kedua, pandangan hidup ini merupakan arus utama dalam pemikiran Islam. Ketiga, Islam adalah antagonis dari demokrasi. Demokrasi dalam masyarakat muslim tak akan tumbuh.&lt;br /&gt;Dengan demikian, Barat adalah pihak yang menaruh prasangka yang tidak menguntungkan Islam dan kaum muslim sama sekali. Sikap antipati ini seharusnya dicarikan jawabannya dengan menghadirkan pemikiran yang menegaskan visi kemanusiaan umat Islam dan doktrin sebenarnya dari agama ini. Selain itu kehadiran pemikir-pemikir ataupun sosok berkarakter yang mampu menepis strereotip barat tersebut mutlak diperlukan. Dengan demikian Wahib menempatkan dirinya sebagai seorang yang lain dari muslim yang mereka persepsikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain masalah masalah demokrasi yang menjadi ciri dari kebebasan dalam peradaban Barat sebagai pandangan hidup mereka, kata-kata rujukan lainnya adalah globalisasi. Jika keberpihakan pada demokrasi merupakan karakter dasar dari pandangan hidup, maka globalisasi adalah bagaimana mereka mempraktekkan kebebasan itu. Dalam banyak perspektif kita sulit mencari definisi yang pas bagi globalisasi, seperti dalam istilah ekonomi atau politik atau budaya. Dengan beragam kritik dan paradoksnya, Globalisasi tak bisa dihindari. Ia bisa menguntungkan sekaligus merugikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi individu yang tak siap dengan hilangnya sekat ruang dan waktu, globalisasi tentu menakutkan. Tapi inilah inti dari kebebasan. Globalisasi menawarkan banyak kemudahan dalam berhubungan dan memasarkan produk baik berupa barang material ataupun pikiran. Individu bebas tentu menyambut baik globalisasi karena memberikan kesempatan untuk bertukar ide dan gagasan serta keuntungan. Hanya individu yang takut bersaing yang merasa kalah dengan kehadiran globalisasi. Optimisme seperti ini layak dikedepankan untuk menunjukkan bahwa kebebasan juga membutuhkan kreatifitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Epilog&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sosok anak muda yang penuh gejolak untuk menemukan kebenaran dalam keberagamaan, Wahib layak terus dikenang. Hingga saat ini di mana masih terus terjadi pertarungan antara yang toleran dan sebaliknya, saat masih ada pertentangan antara kekritisan dan kekolotan, maka membaca catatan Wahib adalah seperti bercermin dir bahwa proses keberagamaan dan kehidupan sosial kita sering penuh dengan hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang kita persepsikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak memilih menjadi pemiir bebas dan selesai menunaikan kewajibannya melakukan kritik serta menawarkan sesuatu yang baru untuk publik, Wahib telah menancapkan tonggak peringatan bahwa kejumudan berpikir tak akan pernah mengantarkan kita pada pemahaman keagamaan yang sehat. Agama dan kebenaran berdiri sendiri dan kita baru sedang menatapnya untuk menyentuhnya. Bukan sesuatu yang sudah ada dalam diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekulerisasi dan kebebasan berpikir, yang menjadi konsen dari Wahib dan pembaharu lainnya seperti Cak Nur memang terus menjadi bahan diskusi hingga kini. Karena keduanya mengancam kemapanan dan pemahaman lama. Masih terlihat gelap dan sering salah dimengerti. Bahkan kadang jalan di tempat. Tapi cukup dinikmati. Ihsan Ali Fauzi, dalam catatan pengantarnya mengenai buku yang membahas teori sekulerisasi terbaru oleh Pippa Norris dan Ronald Inglehart menjelaskan bahwa memang telah terjadi gugat menggugat dalam ranah teori sekulerisasi terkait dengan meningkatnya pengaruh politik gerakan-gerakan keagamaan di banyak tempat, seperti Kristen kanan di Amerika Utara, fundamentalisme Yahudi di Israel, fundamentalisme Hindu di India dan fundamentalisme Islam di banya negara, termasuk Eropa. Hal itu juga terkait dengan makin meningkatnya minat orang kepada berbagai jenis spiritualitas, sperti new age, yang berbeda dari agama-agama formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kepentingan kita terhadap sekulerisasi dan hal yang menyita perhatian dari para pemikir bebas seperti Wahib menurut saya bukan pada bagaimana agama dipisahkan dari negara karena keduanya punya interest dan wilayah garapan yang berbeda. Tapi karena kepentingan kita untuk mendukung dan membaca pikiran bebas Wahib adalah agar kita juga bisa melakukan perenungan tentang proses keberagaman kita. Proses yang tidak melalui perenungan seperti yang diungkapkan Wahib pasti bukanlah keberagamaan yang sejati. Kita harus mengenal agama dari sang pembawanya sendiri. Bukan dari pemberian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, terlepas dari apakah kita semakin melihat proses sekulerisasi itu berlangsung seperti yang terdapat dalam teori-teori baik yang sudah atau yang belum direvisi, kita sepenuhnya harus mengamini Wahib bahwa kebebasan berpikir adalah sesuatu yang eksistensial. Sesuatu yang mesti kita miliki. Hak-hak dasar yang mesti kita perjuangkan. Kita makhluk berpikir dan memiliki kebebasan. Pelarangan dan ketakutan untuk tidak memaksimalkan keingintahuan adalah bukti dari ketidakberdayaan. (MH)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Ditulis untuk Sayembara Penulisan Esai Ahmad Wahib Award  (HIMAFA dan Forum Muda Paramadina) September 2008, hanya masuk 10 besar. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 85%; font-style: italic;"&gt;Hingga kini tidak diketahui penulis yang mendapatkan juara 1-5 dan berhak mendapatkan hadiah. Panitia membubarkan diri dengan alasan Freedom Institut yang menjadi sponsor bangkrut dan membatalkan sponsorship.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 85%; font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-6335000540615182364?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/6335000540615182364/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=6335000540615182364' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/6335000540615182364'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/6335000540615182364'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2009/03/catatan-wahib-jejak-jejak-sang-pemikir.html' title='Catatan Wahib, Jejak-jejak sang Pemikir Bebas'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/Sn6rtX7QXgI/AAAAAAAAAGQ/DqXud12JsG0/s72-c/buku-ahmad-wahib.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-1744937147582630320</id><published>2008-12-13T11:01:00.013+07:00</published><updated>2009-06-06T14:11:40.448+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>JILFEst 2008</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Bertambahlah kekagumanku semakin hari pada Abdul HAdi WM. Dalam diskusi sastra Indonesia di mata dunia, terlihat jelas dalam makalah panjangnya pada diskusi pagi itu, Jumat (12/12/2008),di hotel Batavia tentang "pengarang sufistik dan estetika 1970'an di Indonesia", bahwa Abdul Hadi unggul dalam penguasaan filsafat dan sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lontarannya tentang "perbualan" adalah sinisme untuk kritik sastrawan Bumipoetra terhadap Gunawan Muhamad dan komunitas Utan Kayu. Abdul Hadi bagiku adalah Sastrawan perenialis yang bisa jernih melihat persoalan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, kritik Jurnal Bumipoetra sangat tidak sehat. Kritik sastra mereka lebih ditujukan pada pribadi Gunawan Muhamad, bukan pada karyanya. Memang apa urusannya Wowok Hesti Prabowo dan kawan2nya kalau hari ini GM pake baju merah, besok pake baju hitam, atau lusa pake sandal jepit, penisnya kecil dan rambutnya agak botak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joke dengan ejekan pada unsur fisik dengan mengatakan penis Gunawan Muhamad bertambah kecil saat dicelupkan dalam slimming tea itu sangat memuakkan. Kalau tak suka GM dan berbeda pandangan, buatlah karya yang lebih bagus. Kalau award sastra semisal khatulistiwa literary award itu sudah dipolitisir untuk memenangkan kelompok tertentu semisal komunitas Utan Kayu, buat saja award lain dengan kategori berbeda. Kalau karya sastra utan kayu itu jelek, tunjukkan karya bumipoetra yang bagus. itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak ada urusan dengan GM, apalagi ingin jadi pembelanya. Tapi kalau aku jadi GM, akan kubilang pada Wowok bahwa penghinaan seperti itu tak pantas dimasukkan dalam jurnal atau buletin. Jadi ada baiknya untuk tak usah bicara sastra atau menumpang pada diskursus sastra, selesaikan saja secara adat antar laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;JIlFEST 2008 baru diselenggarakan pertama kali. Aku senang karena kelas pak Hadi yang dipindahkan ke hotel Batavia itu membuka wawasanku untuk semakin menghargai banyak penulis Indonesia. Aku memang menyukai tulisan Kuntowijoyo, Budi Darma dan Danarto. Sepertinya harus kutunda sejenak dalam beberapa bulan ini hasratku untuk membacai karya sastra penulis luar negeri untuk masuk ke dalam alam pikiran para pengarang sufistik dan estetika 70an itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu aku berterimakasih pada Komunitas Sastra Indonesia, pada pak Ahmadun Yosi Herfanda dan pak Maman S Mahayana, juga pak Abdul Hadi WM yang telah menumbuhkan kembali kecintaanku untuk membaca sastra Indonesia. Jilfest 2008 semoga akan berlangsung lagi pada 2010. Semoga juga, Jurnal Bumipoetra menuliskan kritiknya pada karya sastra, bukan pribadi pengarang seperti yang kutemui pada Jilfest 2008 kali ini. (MH)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Ditulis sebagai catatan harian setelah pulang dari hotel Batavia di kota tua tempat JILFEST 2008 dilangsungkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-1744937147582630320?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/1744937147582630320/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=1744937147582630320' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/1744937147582630320'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/1744937147582630320'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2008/12/jilfest-2008.html' title='JILFEst 2008'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-2570126525189234882</id><published>2008-11-07T11:37:00.022+07:00</published><updated>2009-06-06T14:19:33.603+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Urban'/><title type='text'>Surat Untuk Obama</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Salam. Aku tidak tahu harus memanggilmu apa. Pak atau Abang? Enak juga memanggilmu Abang karena kau muda. Terdengar lebih akrab. Hampir homofon dengan Bang Rhoma. Penyanyi yang suaranya telah merasuki alam bawah sadarku. Menelanjangi memori untuk kemudian membuatku berjalan lunglai lemas karena tubuhku yang pendosa. Tapi, seingatku senandungnya lebih sering menjadikan pinggulku bergetar membuat putaran laksana bor.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Lebih baik kupanggil kau pak Obama saja. Pak Obama, lebih mantap. Aku memilih kemantapan dibanding keakraban? ya. Entahlah, aku jadi dihantui pertanyaan serta definisi bahwa akrab itu bermakna casual informal dan mantap itu bermakna formal status quo. Begini pak Obama, Kemenanganmu kurasa menyita perhatian banyak orang hari ini di belahan dunia manapun. Kulihat saudara sekampungmu di Kenya menari dan meloncat-loncat. Sudah kuketahui itu kemarin saat aku masih membincangkan pesimisme dan optimisme dalam forum diskusi. Ketika aku mulai disuntikkan kembali optimisme oleh seorang Anis Baswedan untuk mulai lagi bekerja dan berproduksi.&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur pak Obama, aku benar-benar tak menyangka kemenangan itu akan kau raih. Pesimisme sudah mencapai titik terendah dalam otakku. Semua terkait banyak hal. Aku perlu istirahat dan rileks. Mencari makna di balik sekian banyak tanda yang berseliweran menghantam tubuh mudaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah menerbitkan koran. Tulisanku di koran itu bicara tentang kegilaan, schizoprenia. Sekelompok anak muda terkena kegilaan. Sekelompok politisi juga. Malah, orang jahil berbaju sorban lebih parah. Kutemukan dan kulihat banyak schizoprenik dengan hasrat berkuasa yang luar biasa besar dalam abad di mana tanda, petanda dan kebutuhan orang akan sesuatu yang bernilai semakin abstrak dan berganti cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah dunia yang sudah seperti satu lempeng saja ini aku berada di antara tumpukan manusia ultra modern di kiri, makhluk primitif berotak belum sempurna dan cacat di sisi kanan, serta kebun raya mesin tak berperasaan di depan atau belakang. Makin banyak kubaca manusia maka makin jeli aku melihat perwujudan manusia dalam bentuk kebinatangannya. Aku sering sedang merasa berada dalam rimba raya hutan dengan pohon beton dan binatang besi. Kegalauanku meradang melihat nasibku sebagai anak manusia dari bangsa dunia ketiga yang terjajah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dengan pengalaman dan segenap pengetahuanku benar-benar berada dalam tubir. Aku kadang bisa mengambil jarak dari kotak idiot bernama TV yang merusak syaraf otak itu. Tapi kau lihat keluargaku dan tetanggaku. Mereka tak bisa menghindar. Harapan tentangmu dari ku jelas ada. Yes we can or change we need selalu bergema dalam syaraf sadarku. Ini terkait perang melawan teror dan bagaimana mencari makna di balik kepemilikan mutlak dan kepelitan untuk berbagi sejumlah orang dari apa yang mereka namakan kekayaan dan kebenaran. Perang itu terjadi antar penguasa dan oposan yang frustasi terhadap kekuasaan yang tak kunjung bisa direbut.Keduanya sebenarnya berahi. Dan aku ingin kau menghentikan segera cerita tentang bajak laut yang menjadi moyangku. Aku ingin mereka berhenti bertempur melawan kaisar. Kurasa si Yahudi Chomsky sudah bercerita banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau lihat pak, bahwa mereka yang memiliki banyak kebenaran dalam pikirannya seringkali pelit berbagi. Dan kau tahu apa yang terjadi pak? Kebenaran itu akhirnya tak tersebar. Sehingga untuk memahami saja bahwa manusia Amerika itu tidak tunggal mereka masih genggam erat pengetahuan mereka yang sedikit. Sudah tak ada keinginan untuk membaca rupanya. Inilah paradoks dan kutukan kitab suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu pak Obama? Aku pernah menyambut Bill Clinton di Bogor di masa kecilku dan mengibarkan bendera Amerika dengan bangga. Dia bertamu dan datang dalam rombongan kereta besi Limousin-nya. Dan aku ingin juga melihatmu datang ke sini. Datang ke rumah kami seperti apa yang pernah dilakukan Clinton, presiden demokrat itu. Ingin aku melihatmu membawa selembar kertas berisi rekomendasi untuk sekolah di negerimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak, mereka yang memiliki kekayaan material telah begitu serakah untuk tidak lagi membayar pajak dan mencari celah atas nama inovasi produk finansial untuk mencari keuntungan maksimal. Mereka bermain-main dengan sesuatu yang tak terlihat dan abstrak. Ah, sebenarnya tak ada pertempuran sejati antara yang material dan immaterial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Indonesia, aku berbeda pandangan dengan pendapat analis luar negeri bahwa di partaimu begitu banyaknya aktivis HAM akan merecoki urusan dalam negeriku. Menurutku justru wajar karena negara ini memang jajahan Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, seperti kata OPrah, kemenanganmu adalah kemenangan harapan banyak orang. Kemenanganmu adalah kemenangan bangsa Indonesia juga.Pengalaman masa kecilmu di Indonesia pasti akan membuat simpatimu terhadap Indonesia jauh lebih besar. Sama seperti pengalaman masa kecilku dulu melihat Clinton yang juga membuatku bersimpati pada demokrat dan kemenanganmu. &lt;span&gt;Selamat bertugas presiden bumi manusia. [MH]&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Ditulis sebagai catatan harian 6 November 2008 usai membaca banyak informasi tentang Obama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-2570126525189234882?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/2570126525189234882/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=2570126525189234882' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/2570126525189234882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/2570126525189234882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2008/11/surat-untuk-obama_07.html' title='Surat Untuk Obama'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-8284154013449138960</id><published>2008-11-07T11:25:00.006+07:00</published><updated>2009-06-17T20:44:41.951+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Musik'/><title type='text'>KOnser Twilite Orchestra : Terima Kasih Pemuda Indonesia</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/SRPDjfUaLnI/AAAAAAAAAFI/QCMY8ILQ_zA/s1600-h/terima+kasih+pemuda+Indonesia.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5265767403796180594" style="margin: 0px auto 10px; display: block; width: 431px; height: 294px; text-align: center;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/SRPDjfUaLnI/AAAAAAAAAFI/QCMY8ILQ_zA/s320/terima+kasih+pemuda+Indonesia.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-8284154013449138960?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/8284154013449138960/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=8284154013449138960' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/8284154013449138960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/8284154013449138960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2008/11/terima-kasih-pemuda-indonesia.html' title='KOnser Twilite Orchestra : Terima Kasih Pemuda Indonesia'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/SRPDjfUaLnI/AAAAAAAAAFI/QCMY8ILQ_zA/s72-c/terima+kasih+pemuda+Indonesia.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-4748578807288372829</id><published>2008-11-04T16:47:00.014+07:00</published><updated>2009-07-21T10:54:30.871+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Warung Penajem dan Irasionalitas Masyarakat</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Membaca cerpen &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Warung Penajem&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ahmad Tohari,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; kita dihadapkan pada realitas sosial keseharian masyarakat tradisional yang masih mempercayai mistik. Kekuatan dukun atau orang pintar telah menjadi kekuatan tambahan (setiyar) untuk menjalani usaha atau meraih kesuksesan. Cerpen ini mendeskripsikan secara apik suasana sebuah kampung, serta bagaimana penduduknya menjalani kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layaknya orang kampung biasa, cita-cita mereka sederhana. Buka warung, membangun rumah tembok lalu membeli motor bebek. “Mungkin Jum berpendapat, hidup baginya tidak bisa berarti lain kecuali membuka warung. Dengan warung itu Jum terbukti mampu mengembangkan ekonomi keluarga” Tulis tohari tentang Jum, istri Kartawi. Jum dan Kartawi adalah lakon utama cerita pendek ini.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Keberhasilan cerpen ini menggambarkan realitas sosial masyarakat kecil di perkampungan yang kadang irasional dalam menjalani kehidupan sosial ekonomi, sangat terkait dengan kelokalan cerita ini. Hal ini misalnya terlihat dengan istilah "penajem" yang sangat Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di wilayah lain juga dikenal penajem, mungkin dengan istilah lain. Tapi dengan pola yang sama. Bandingkan misalnya dengan masyarakat kota yang mendasarkan keberhasilan ekonomi mereka dengan pola manajemen modern yang rasional. Walaupun misalnya untuk urusan mengambil hati partner bisnis kadang dilakukan juga metode yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Irasionalitas dalam meraih keberhasilan ekonomi adalah realitas sosial yang terlihat jelas dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Warung Penajem&lt;/span&gt;. Lihat alasan yang diberikan Jum Pada Kartawi; “Setiyar kang, supaya warung kita tetap laris. Kamu tahu kang, sekarang sudah banyak saingan. Apabila kita kurang setiyar kang, bisa-bisa warung kita kalah bersaing”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini bisa kita lihat dengan gamblang bahwa Jum masih melihat bahwa untuk meraih keberhasilan ekonomi dan memajukan usahanya, ia masih perlu untuk datang ke dukun seperti pak Koyor meski harus memberikan “sesaji”. Konflik yang akan terjadi dengan suaminya misalnya ia tanggapi dengan sederhana. “Oalah Kang, bedanya banyak. Lelaki memang bodoh. Lelaki tidak bisa membedakan mana pelayanan yang sungguhan dan mana yang pura-pura. Pantas banyak lelaki suka memperkosa karena bagi lelaki agaknya sama saja, memperkosa atau minta dengan baik-baik, yang penting bar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang akhirnya terjadi konflik. Kartawi marah. Ia akhirnya “jajan”. Kartawi merasa bahwa ia bisa melampiaskan dendamnya dan kedudukan menjadi satu-satu. Ia merasa harga dirinya direbut. Tapi cerita dari cerpen ini diselesaikan bahwa Kartawi kembali pulang pada hari keempat setelah mengamuk. Meski dengan dada remuk ketika teringat bahwa kesuksesan warungnya harus dibayar luar biasa dan mahal. “Dengan warung itu keluargaku bisa hidup wareg, anget, rapet”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Irasionalitas seperti ini sebenarnya bukan melulu milik masyarakat tradisional kampung, tapi juga milik masyarakat modern kota? [MH]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Tugas review cerpen mata kuliah Pengantar Ilmu sastra yang diampu oleh Ibu Mujizah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-4748578807288372829?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/4748578807288372829/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=4748578807288372829' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/4748578807288372829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/4748578807288372829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2008/11/warung-penajem-dan-realitas-sosial.html' title='Warung Penajem dan Irasionalitas Masyarakat'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-8299977104876611523</id><published>2008-09-23T10:42:00.018+07:00</published><updated>2010-08-11T11:53:23.690+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><title type='text'>Schizoprenik; Politikus yang Sakit Kepala</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/TGIsR6YtGvI/AAAAAAAAALI/N0esypGHmWo/s1600/bandits.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/TGIsR6YtGvI/AAAAAAAAALI/N0esypGHmWo/s400/bandits.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="left"&gt;&lt;td class="tr-caption"&gt;Khairul Anom&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Politikus muka lama yang terus &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;berebut kuasa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; di panggung politik , juga selebritis bergaya hidup mewah penuh gosip tapi minim prestasi, adalah wajah Indonesia paling dominan dan sering tampil saat ini. Sementara wajah lain dari Indonesia kontemporer, lebih sedikit terekam kamera (berita). Wajah lain ini adalah wajah mayoritas yang diam (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;silent majority&lt;/span&gt;). Meski “diam” dan lebih banyak menonton, inilah wajah keseharian Indonesia sebenarnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Mirip Indonesia, wajah Amerika pasca peristiwa 911 didominasi politikus seperti Bush dengan kegilaan fantasi perangnya. Demikian Yasraf Amir Piliang, dosen seni rupa ITB itu menuliskan (Kompas, 2003). Bush dikategorikannya sebagai salah seorang penguasa dan politikus sakit jiwa yang menderita Skizofrenia. Skizofrenia, penyakit kejiwaan ganda itu telah melambungkan alam pikiran Bush sehingga perang melawan teror baginya adalah usaha untuk menata dunia baru yang “damai”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam fantasinya menata suatu dunia baru, Alqaidah dan Saddam Hussein adalah setan yang harus diperangi karena telah menjadi pelaku teror global. Noam Chomsky kemudian memberi gambaran bahwa kampanye perang Bush melawan terorisme adalah ibarat kisah sang kaisar dan bajak laut. Kaisar tidaklah disebut perompak karena ia punya kekuasaan besar atas nama negara. Sementara bajak laut adalah teroris karena melakukan tindakan kriminal melawan negara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost" style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Sosok skizofrenik lainnya adalah tokoh kelompok teroris yang mengklaim melakukan pembunuhan itu atas perintah agama. Osama (Islam), serta Baruch Goldstein (Yahudi) adalah contoh pas dari sosok teroris skizofrenik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empati bisa saja diberikan akibat adanya ketidakadilan yang menyulut rasa frustasi mereka untuk melakukan “perlawanan”. Tapi rasa keadilan juga mengajak nalar dan akal sehat kita untuk mengecam tindakan terorisme mereka. Minimnya wawasan, pengetahuan dan pergaulan internasional serta doktrin agama yang dipahami secara sempit telah menjadikan para skizofrenik itu malah merasakan kebanggaan setelah melakukan teror dan menjadi teroris. Tidak seperti Bush yang menjual demokrasi, kelompok kedua ini menjual Tuhan demi memenuhi tuntutan dan hasrat kegilaan fantasi mereka tentang dunia “ideal”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta bahwa terorisme dengan motif bunuh diri sebenarnya lebih banyak terjadi terkait persoalan politik biasa yang “duniawiyah” dan ketidakadilan sosial, semakin memperkuat asumsi para psikoanalis seperti Sigmund Freud bahwa agama adalah ilusi. Doktrin agama hanya justifikasi belaka dalam banyak kasus terorisme yang terjadi. Apapun alasannya, spiritual atau material, para teroris atau bajak laut skizofrenik ini sedang melawan kekuasaan politik dominan negara adikuasa macam Amerika untuk merebutnya dan menggantinya dengan dominasi kekuatan politik baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kekuasaan itu -kalau mereka berhasil merebutnya- entah beraliansi dengan siapa dan pihak mana, toh mereka juga akan seperti Bush, yang bermaksud menata dunia baru seperti persepsi dalam alam pikirannya yang sudah terjangkit schizoprenia. Maka peradaban manusia kontemporer hanya akan berpindah dari “mulut buaya ke mulut harimau”. Pola ini juga akan terjadi dalam setiap perebutan kekuasaan di manapun. Percaya atau tidak, pertarungan antara mereka ini hanya terkait perebutan kekuasaan dan pengaruh belaka. Politik dagang sapi yang mereka lakukan adalah politik menjual Tuhan, agama, rakyat kecil, serta demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk konteks Indonesia, kegilaan fantasi akan “kekuasaan” melanda para politikus dan selebriti yang sering tampil itu. Seperti Bush dan Osama, mereka adalah sosok-sosok skizofrenik juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada politikus, kegilaan fantasi berkuasa ini terjadi pada para politikus tua yang penasaran karena masa kekuasaan yang digenggamnya terlalu singkat. Tak ada terlintas dalam pikiran mereka bahwa ada banyak kaum muda yang jauh lebih visioner pandangannya tentang bangsa dan lebih kapabel dari mereka untuk memimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada selebriti yang berasal dari dunia hiburan, kegilaan fantasi berkuasa muncul dalam bentuk banci tampil. Tak ada kerisihan muncul terhadap gosip kehidupan pribadi yang lebih banyak terungkap daripada prestasi oleh media. Keseringan tampil membuat para penguasa ini tak memiliki waktu untuk merenungkan kembali makna kekuasaan dan hakikat dari kekuasaan itu. Jika sempat membaca pandangan Michel Foucault tentang kekuasaan yang tersebar, pastilah mereka tak perlu serakus itu memandang kekuasaan karena kekuasan itu ada di mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dunia yang Flat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teknologi komunikasi dan informasi (ICT), media, internet dan pergeseran budaya masyarakat abad 21 telah memberikan gambaran jelas bahwa hampir tak ada informasi yang tak bisa diakses. Kondisi ini berkontribusi memberikan kebijaksanaan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;wisdom&lt;/span&gt;) lebih besar kepada kita untuk melihat yang lain (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;the others&lt;/span&gt;). Yang lain (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;the others&lt;/span&gt;) ini bisa berupa budaya, suku bangsa, agama, dan kecerdasan. Dunia yang telah menjadi kampung global dan flat-meminjam istilah Thomas L Friedman- memberikan kita kesempatan besar untuk mematut diri, bercermin dalam-dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecepatan informasi yang tersebar pada detik ini juga di suatu kawasan di belahan dunia lain mempengaruhi tingkat kekritisan kita terhadap realitas. Kecepatan dan kemasifan bahkan banjir informasi itu menyadarkan bahwa terlalu banyak hal menarik yang bisa kita pelajari, renungi, nikmati dan kerjakan. Di luar sana ada terlalu banyak orang cerdas, kreatif, dan berbakat. Ada begitu banyak pilihan untuk menyukai banyak hal di tengah dunia yang sudah seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia yang flat, kita membutuhkan pemimpin-pemimpin muda yang lahir dari semangat jaman ini. Yang tubuh dan aliran darahnya penuh gejolak zaman yang cepat berubah. Permasalahan masyarakat Indonesia abad 21 berbeda dengan masalah yang dihadapi era tahun 45-an sampai era 90-an lalu. Menurut Dino Pati Djalal, Jubir presiden SBY, di abad 21 ini kita membutuhkan pemimpin yang memiliki semboyan dan slogan baru. Slogan yang lebih sesuai dengan semangat jaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Entrepreneur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seorang skizofrenik menjalankan kekuasaannya tanpa rencana lain selain untuk menciptakan kehidupan yang ideal dan nyaman berdasarkan delusi. Delusi inilah yang kemudian dipasarkan kepada masyarakat. Kita jelas tak membutuhkan mereka dalam kehidupan keseharian kita. Apalagi untuk dijadikan pemimpin. Kita membutuhkan seorang entrepreneur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada perbedaan siginifikan dalam memandang kekuasaan dari seorang skizofrenik dan seorang entrepreneur. Seorang entrepreneur mempertahankan kekuasaan dan hegemoninya dengan menjual skill, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;trust&lt;/span&gt; dan integritas pribadi. Ia berkomitmen pada kepuasan pelanggan (publik) dengan tak mau menjual delusi agama, demokrasi, dan keberpihakan pada rakyat. Ia akan bekerja keras untuk menjaga komitmennya dan konsisten dengan visinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, saya percaya bahwa sosok entrepreneur akan memenangkan pertandingan melawan para skizofrenik di panggung jaman yang berubah cepat dan publik yang semakin kritis. Jiwa entrepeneur itu akan muncul pada para mahasiswa baru yang lebih kritis. Jiwa entrepreneur itu juga ada pada politisi muda yang kreatif dan cerdas. Jiwa entrepreneur itu juga akan muncul pada selebritis yang lebih mementingkan prestasi ketimbang gosip kehidupan pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entrepreneur dari kelas sosial apapun, saat ini dan di masa depan, cepat atau lambat akan menjadi wajah Indonesia yang lebih sering tampil dan populer menyingkirkan para politikus tua yang sekarang nampang di iklan maupun selebriti lama yang basi dan miskin ide. Michel Foucault benarlah belaka pendapatnya bahwa kekuasaan itu tersebar dan terbagi. Abad 21 adalah abad di mana para skizofrenik harus segera sadar dari kegilaan fantasinya. [MH]&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 85%; font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Ditulis untuk the pedas post&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-8299977104876611523?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/8299977104876611523/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=8299977104876611523' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/8299977104876611523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/8299977104876611523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2008/09/schizoprenik-penguasa-yang-sakit-kepala.html' title='Schizoprenik; Politikus yang Sakit Kepala'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/TGIsR6YtGvI/AAAAAAAAALI/N0esypGHmWo/s72-c/bandits.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-5747341685360604210</id><published>2008-09-23T10:33:00.020+07:00</published><updated>2009-11-27T23:27:40.347+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Urban'/><title type='text'>Cak Nur dan Anak Muda</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/SoFTr5Wz8VI/AAAAAAAAAIY/wKnKleXjM20/s1600-h/lowre.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/SoFTr5Wz8VI/AAAAAAAAAIY/wKnKleXjM20/s400/lowre.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368664244398322002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kacamata merah cerah dan baju casual, membuatnya tampil "fashion banget". Namanya Lowreyta Rahmawati. Mahasiswi Jurusan hubungan Internasional Paramadina. Prestasi akademiknya bagus. Dia jadi duta kampusnya untuk anugerah beasiswa Djarum. Sesekali dia menyempatkan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;kla&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;bing ke tempat party dengan gengnya. Lowreyta sering dipanggil miss Condee. Mungkin karena wajah Ambonnya mirip menlu AS Condoleezza Rice.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Chattra Mahotama adalah sosok lainnya. Sedikit chaos dalam berbusana. Ke kampus, ia sering gonta-ganti kendaraan. VW kodok tua atau sebuah motor antik bergiliran ditunggangi. Ia vokalis band indie The Doplers. Tak ada yang menyangsikan penampilan panggungnya. Hobby fotografi dan menggambar, Chattra memilih jurusan desain komunikasi visual.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Nama selanjutnya adalah Priyo Utomo. Sebagian anak muda mungkin masih sulit mengidentifikasikan diri jika tidak disebut sekedar mengikuti tren gaya hidup popular. Priyo adalah anomali. Menu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;rutnya dia seorang Punk Philosopher. Cara berdandannya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;nyent&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;rik laiknya Bob Dylan. Bisa jadi ini karena koleksi buku dan filmnya yang melimpah, plu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;s pengalaman sempat dua tahun kuliah di New Zealand. Analisisnya tentang musik, film dan buda&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;ya pop sering jadi rujukan lagi terpercaya. Priyo munyukai berlatih teater dan ingin berbisnis setelah lulus. Dia memilih jurusan falsafah dan agama, mungkin karena ia pernah naik haji.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Lowreyta, Chattra dan Priyo adalah mahasiswa &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;di universitas Paramadina. Hobby, minat, dan latar belakang mereka berbeda ibarat pelangi, berwarna warni dan kaya, begitu plural. Persepsi mereka juga berbeda terhadap Nurcholish Madjid atau Cak Nur, pendiri Paramadina, tempat mereka belajar dan menghabiskan waktu luang. Lowreyta misalnya, mengaku hanya tau bahwa Cak Nur itu adalah orang baik. Ia memang belum banyak membaca karya-karya Cak Nur dan pemikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Generasi Post-Religion&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada di situasi dan era era manakah manusia-manusia baru yang sedang disemai dalam sistem pendidikan Paramadina seperti Lowreyta, Chattra, Priyo?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komarudin Hidayat, dalam pidato kebudayaannya pada Nurcholish Madjid Memorial Lecture (September 2007) menyebutkan istilah era post-religion. Era ini menurutnya adalah sebuah era ketika norma, kesadaran dan lembaga keagamaan tidak lagi menjadi pusat gravitasi. Agama hanya menjadi sebuah subkultur, kadang maju dan terdesak ke pinggir, timbul tenggelam dalam dalam budaya yang pluralistik dan virtualistik. Era post-religion akan menggusur dominasi dan hegemoni alam batin dan kondisi sosial dari sifatnya dulu yang serba religius. Kini bermunculan aktor-aktor dan pusat kekuatan baru yang yang sangat digjaya mempengaruhi kesadaran batin dan perilaku sosial kita. Aktor-aktor itu adalah negara, modal yang bergerak lintas bangsa dan agama, serta teknologi informatika ultra modern yang melahirkan virtual society.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika menyebut aktor dalam era ini yang mempunyai kekuatan digjaya karena penguasaannya atas negara superpower bermodal besar-meminjam istilah Yasraf Amir Piliang (kompas,2003), maka ancaman akan datang dari para pemimpin Schizoprenik yang suka mengobarkan Schizo-War model George W Bush. Manusia-manusia baru yang disemai dalam sistem pendidikan Paramadina dan menjadi generasi post-religion tengah menghadapi tantangan dan dipaksa melawan fantasi liar pemimpin Schizoprenik yang berusaha mengacaubalaukan tanda dan makna. Penanda dan petanda ini oleh pemimpin schizoprenik diaduk-aduk dan diputar balik dalam bahasa komunikasi perang. Kata “kemanusiaan” digunakan untuk menjelaskan realitas “pembantaian”, dan kata “pencerahan” digunakan untuk menjelaskan sebuah realitas “penjajahan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Komarudin juga menyampaikan optimismenya untuk menyongsong era post-religion ini dengan penuh keyakinan. Evolusi dan metamorfosis peradaban menurutnya bergerak maju dan menyesuaikan diri. Krisis ibarat musim gugur yang akan diganti musim semi dengan tunas dan daun baru yang segar. Identifikasi benih dan dorongan bagi percepatan gerakan akan melahirkan revolusi. Masih ada kesempatan bagi generasi post-religion untuk menggelorakan kesadaran dan gerakan global bagi perdamaian, pluralisme, kemanusiaan yang beradab, dan solidaritas, serta penolakan atas segala bentuk kekerasan, perang, dan ketidakadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cak Nur mewariskan dan melembagakan pikiran-pikirannya melalui Paramadina. Dan Paramadina telah menjadi bidan yang baik bagi kelahiran generasi post-religion. Kemerdekaan dan kebebasan untuk berekspresi melalui Paramadina dihargai. Sebagai seorang penganjur sekulerisasi objektif, pandangan keagamaan serta cara melihat diri dan lingkungan, di Paramadina berangsur-angsur lahir dan meluas melalui suatu proses kesadaran. Paramadina telah berhasil mendesain terjadinya melting pot, bertemunya pikiran-pikiran kreatif serta ragam aktifitas yang menjadi basis lahirnya sebuah peradaban baru yang lebih humanis dan tercerahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ruang Baru Bagi Gagasan Cak Nur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keindonesiaan, Keislaman dan Kemodernan, adalah tiga isu yang menjadi konsen Almarhum Cak Nur. Dalam konteks ini pikiran-pikiran Cak Nur masih menginspirasi. Gagasannya boleh dikatakan melambung ke depan, melampaui zamannya. Sebagai seorang yang biasa menelurkan visi-visi besar, ruh, spirit, dan pikirannya akan terus membayangi. Sebagai seorang scholar muslim, ia telah menggali dan menunjukkan Islam yang universal. Cak Nur menunjukan bahwa penemuan-penemuan manusia modern, sebenarnya tidak asing di dalam khazanah Islam dan memiliki akarnya dalam tradisi Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang menarik dan bisa dijadikan alasan mengapa Cak Nur dan pikirannya masih relevan untuk diikuti selain sifat gagasannya yang visioner adalah integritas pribadi dan kesalehan. Saat teknologi informasi semakin memberikan pilihan yang terbuka terhadap ragam pengetahuan, gagasan, pemahaman, pemikiran, dan ideologi untuk diikuti, otoritas menjadi penting. Integritas pribadi dan ketajaman visi akhirnya menjadi basis bagi trust dan magnet bagi pikiran-pikirannya untuk dibaca dan diikuti. Cak Nur dan Paramadina adalah ensiklopedi, sebuah rujukan utama untuk mencari representasi kelas sosial muslim Indonesia modern yang beradab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman dan sejawat Cak Nur sebagai kelompok yang terlibat langsung pengimplementasian gagasan-gagasan Cak Nur, adalah generasi pertama yang cukup apresiatif serta berhasil menjadikan Cak Nur manusia ensklopedis dan melembagakan Paramadina menjadi sebuah institusi pendidikan yang representatif. Sebaliknya, generasi post-religion adalah generasi pasca Cak Nur yang hanya menikmati materialisasi gagasan-gagasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana menjadikan potensi yang dimiliki generasi ini sebagai kekuatan untuk menjaga dan mewariskan pikiran-pikirannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya adalah dengan mengenali karakteristik generasi post-religion yang mengakrabi teknologi informasi ultra modern, cara belajar yang lebih visualistik, dan model hubungan pertemanan yang bersifat jejaring, maka gagasan-gagasan Cak Nur harus ditempatkan dan diartikulasikan dalam bahasa-bahasa serta ruang imajinasi keseharian mereka. [MH]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Ditulis untuk koran &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;the pedas post&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-5747341685360604210?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/5747341685360604210/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=5747341685360604210' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/5747341685360604210'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/5747341685360604210'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2008/09/kacamata-berwarna-merah-cerah-pilihan.html' title='Cak Nur dan Anak Muda'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/SoFTr5Wz8VI/AAAAAAAAAIY/wKnKleXjM20/s72-c/lowre.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-5433710659051123526</id><published>2008-08-14T22:14:00.007+07:00</published><updated>2010-08-11T12:09:01.396+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><title type='text'>Negara, Etika dan Pemerintahan  Dalam Pandangan Alquran</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/TGIv_nSWy3I/AAAAAAAAALg/bj0W6TaYN1k/s1600/indonesia+turki.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://1.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/TGIv_nSWy3I/AAAAAAAAALg/bj0W6TaYN1k/s400/indonesia+turki.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="right"&gt;&lt;td class="tr-caption"&gt;foto misbah&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Secara umum, dalam sistem hukum dunia hanya terdapat dua sistem hukum dominan, yakni hukum sipil (civil law) yang berasal dari tradisi Romawi kuno atau Eropa Kontinental dan sistem hukum Anglo Saxon Inggris (common law). Kedua sistem hukum ini melandasi sistem hukum yang berlaku di sebagian besar negara-negara dunia meskipun masih terdapat sistem hukum lainnya seperti hukum agama, hukum adat, dan hukum negara blok timur (Sosialis). Setiap negara mengembangkan sistemnya sendiri dengan merujuk salah satu atau memadukan unsur-unsur lainnya dari ragam sistem hukum tersebut ke dalam sistemnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Bagaimana dengan sistem hukum negara Indonesia? Indonesia sendiri menggunakan perpaduan dari ragam sistem hukum tersebut. Hukum agama dan adat dalam sistem hukum Indonesia juga memiliki peran dalam membentuk sistem hukum yang berlaku di Indonesia. Sebagian ahli berpendapat bahwa sistem hukum di Indonesia banyak dipengaruhi oleh sistem hukum Eropa Kontinental (civil law). Namun, sejak akhir 70-an, sistem hukum Anglo Saxon banyak diadopsi dalam sistem hukum Indonesia. Selain sistem hukum pidana, hukum perdata dan hukum ekonomi banyak berkiblat pada perkembangan hukum Anglo Saxon. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost" style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Pasca amandemen UUD 1945, Indonesia mengalami beberapa perubahan konstitusi yang menyangkut perubahan sistem ketatanegaraan dan sistem hukum yang berlaku. Agak sulit untuk mengetahui dan menentukan dengan tepat mengenai sistem ketatanegaraan Indonesia bila tidak menelusuri bagaimana review terhadap konstitusi Indonesia itu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makalah ini akan menyoroti masalah bagaimana istilah negara, etika dan pemerintahan dalam dunia Islam dan bagaimana penerapannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta pandangan Alquran dalam masalah ini. Perspektif Alquran ini diperlukan untuk melihat sejauhmana interaksi terjadi dan menyebabkan adanya kesesuaian atau saling adopsi antara teori negara dan pemerintahan modern sekuler dengan prinsip-prinsip atau ajaran yang terdapat dalam kitab suci. Jika ditarik ke wilayah yang lebih sempit Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar bisa kita jadikan objek kajian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Etika dan Pemerintahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagai negara, Indonesia mutlak memerlukan sebuah peraturan mengenai etika pemerintahan. Hal ini untuk memperjelas bagaimana seorang pejabat negara, dan publik dapat dikontrol secara luas Sehingga memperkecil penyalahgunaan jabatan maupun korupsi. Menurut para pengamat politik dan pemerintahan, aturan etika pemerintahan itu dapat menjadi ukuran sejauh mana pejabat negara dan pemerintahan, semua aktivitasnya, dapat dikontrol publik. Itu termasuk pengeluaran yang dilakukan pejabat, ketika menggunakan uang negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu contoh mengenai penerapan etika dalam pemerintahan yang pernah dicatat dalam sejarah kekuasaan Islam adalah Surat Imam Ali kepada Malik Asytar An-Nakha'iy ketika mengangkatnya sebagai walikota Mesir dan sekitarnya (Nahjul Balaghah) :&lt;br /&gt;”Bismillaahirrahmaanirrahiim. Surat perintah hamba Allah, Ali Amir Al-Mukminin, kepada Malik bin Haarits Al-Asytar pada saat mengangkatnya sebagai Wali Negeri Mesir dengan tugas mengumpulkan (Segala pendapatan negara seperti pajak dan zakat), memerangi musuh, mengurus kepentingan penduduk dan membangun daerahnya. Hendaknya ia sungguh-sungguh bertakwa kepada Allah SWT, mendahulukan ketaatan kepada-Nya dan mengikuti segala yang diperintahkan dalam Kitab-Nya, yang wajib dan yang dianjurkan, yang tidak seorang pun akan beroleh kebahagiaan kecuali dengan mengikutinya, dan tidak akan menderita kecuali dengan mengingkari dan melalaikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaknya ia membela Allah SWT dengan hati, tangan serta lidahnya. Sebab Allah telah menjanjikan kemenangan bagi siapa yang membela-Nya, dan kemuliaan bagi siapa yang memuliakan-Nya. Hendaknya ia mematahkan syahwat nafsunya serta mengendalikannya bila ia menunjukkan kebinalannya. Sebab nafsu manusia cenderung melakukan kejahatan, kecuali pada mereka yang dirahmati Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian bunyi surat yang isinya merupakan instruksi dari seorang kepala negara kepada bawahannya dalam menerapkan etika. Nahjul Balaghah mencatat lebih banyak lagi perihal bagaimana seorang pejabat negara atau pemerintahan harus menjalankan kekuasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sistem Politik dalam Alquran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menurut Abdul Muin Salim, seorang sarjana muslim yang mendalami studi Alquran, Istilah kekuasan politik dalam Alquran relevan dengan istilah al hukm. Dalam Alquran, terdapat 210 buah kata Al hukm beserta derivasinya. Diantaranya terdapat kata kerja dengan pola hakama 45 kali. Artinya menutuskan perkara, membuat keputusan. Terdapat pula kata yang menggunakan pola ahkama yang artinya mengokohkan sebanyak 2 kali. Serta tahakama yang artinya berhakimkan atau mengikuti keputusan seseorang sebanyak 1 kali. Kata Al hukm sendiri merupakan masdar dari kata kerja hakama-yahkumu-hukman dipergunakan sebanyak 30 kali .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara etimologis, kata yang mengandung huruf Kaf Ha Mim mempunyai arti mencegah. Secara leksikal dapat diartikan sebagai menyelesaikan atau memutuskan suatu perkara, memberi kekang, dan mencegah seseorang dari apa yang diingininya. Dalam bahasa indonesia sendiri kata ini telah diadopsi menjadi kata hukum yang berarti peraturan, ketentuan atau putusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Alquran terdapat beberapa ayat yang berkaitan dengan kata kerja hakama yahkumu. Yakni surat Alqalam, 68/2:36,39 dan 48:&lt;br /&gt;”Ada apa padamu? Bagaimana kamu memutuskan? Ataukah kamu mempunyai kitab di dalamnya kamu mempelajari. Bahwa sesungguhnya kamu memiliki alasan untuk apa yang kamu pilih. Ataukah kamu memperoleh janji tanggungan kami yang sampai ke hari kiamat. (membenarkan bahwa sesungguhnya kamu memiliki alasan terhadap yang kamu putuskan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”maka bersabarlah terhadap hukum Tuhanmu dan jangan seperti orang yang berada dalam perut ikan (Yunus) ketika ia berdoa sedang ia dalam penderitaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat lain yang membahas masalah ini ditemukan dalam surah Almaidah, 5/112 : 50 dan 95 berikut:&lt;br /&gt;”Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan siapakah yang lebih baik daripada Allah dalam menetapkn hukum bagi orang-orang yang yakin”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh buruan sedang kamu dalam keadaaan ihram. Dan barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja maka pembalasannya adalah bintang ternak seperti yang ia bunuh yang diputuskan oleh dua orang adil di antara kamu....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat-ayat di atas terlihat bahwa kata hukm tidak hanya disandarkan pada Tuhan, tetapi juga disandarkan kepada manusia. Hal ini menandakan bahwa terdapat dua jenis huum yakni hukum Tuhan dan hukum manusia. Penyandaran kata kerja hakama pada hukum Tuhan terdapat 17 kali dari jumlah total 45 kali penyebutan kata hukm. Dalam literatur Islam juga dikenal istilah sulthan dan almulk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Diskursus Negara Agama dan Negara Sekular &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah Islam, kita mengenal beberapa model kepemimpinan, yakni bentuk pemerintahan khulafaur rasyidin, imamah, dinasti dan kesultanan. Sejarah dunia Islam modern mengenalkan kita pada bentuk republik Islam dan kerajaan Islam. Kita kemudian mengenal adanya republik Islam pakistan dan Republik Islam Iran. Di samping kedua negara ini yang dengan tegas mencantumkan bahwa Islam (agama) sebagai dasar negara mereka, juga terdapat beberapa negara yang berstatus monarki Islam seperti Saudi Arabia. Indonesia sendiri sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar tidak secara tegas mencantumkan bahwa negara ini adalah negara agama, tetapi negara hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia polemik tentang negara hukum dan negara agama ini sudah dimulai dari sejak proklamasi kemerdekaan. Polemik ini terkadang pecah dalam bentuk pemberontakan dan kerusuhan. Dari proses perancangan UUD negara 1945, demokrasi liberal era multi partai, polemik awal orde baru tentang Islam yes partai Islam No oleh Nurcholish Madjid hingga periode bermunculannya perda syariat pada era reformasi. Menurut Azyumardi Azra, Kompleksitas historis dan politis negara-bangsa Indonesia menjadikan masih sangat sulit mencari format yang tepat dan acceptable bagi banyak pihak dalam reposisi hubungan agama dan negara . Namun agaknya melihat kembali bahwa hal yang menjadi landasan bernegara adalah konstitusi sebuah negara adalah konstitusi, maka dapat disimpulkan bahwa negara kita adalah negara hukum yang membasiskan moral dan etika pada banyak sekali ajaran agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, formalisasi etika agama menjadi konstitusi akan membawa kebaikan bagi negara sepanjang etika agama yang diturunkan menjadi konstitusi itu berkaitan dengan masalah keadilan dan kesejahteraan rakyat. Tapi formalisasi etika agama yang berkaitan dengan syariat (fiqh) menjadi konstititusi ditengah matinya ijtihad dan pemahaman keagamaan yang literalis hanya akan menjadi bencana bagi kemanusiaan. Agama akan menjadi alat penguasa untuk melegitimasi kekuasaan yang korup dan menindas. Dan sejarah peradaban Islam banyak memberikan pelajaran mengenai hal ini. [MH]&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 85%; font-weight: bold;"&gt;Referensi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;br /&gt;- Alquran Alkarim&lt;br /&gt;- Ali bin abi Thalib, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mutiara Nahjul Balaghah&lt;/span&gt;, terjemah. Bandung, Mizan 2001&lt;br /&gt;- Azyumardi Azra, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Reposisi hubungan Agama dan Negara,&lt;/span&gt; Jakarta, Kompas 2002&lt;br /&gt;- Abdul Muin Salim, Fiqh Siyasah: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Konsepsi Kekuasaan Politik Dalam Alquran&lt;/span&gt;. Jakarta, Rajawali Press 1995&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost" style="font-family: trebuchet ms; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Ditulis untuk mata kuliah Falsafah Alquran yang diampu A Moqsith Ghazalie&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-5433710659051123526?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/5433710659051123526/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=5433710659051123526' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/5433710659051123526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/5433710659051123526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2008/08/negara-etika-dan-pemerintahan-dalam.html' title='Negara, Etika dan Pemerintahan  Dalam Pandangan Alquran'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/TGIv_nSWy3I/AAAAAAAAALg/bj0W6TaYN1k/s72-c/indonesia+turki.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-60317778618069879</id><published>2008-08-14T21:07:00.006+07:00</published><updated>2010-08-11T12:11:22.005+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><title type='text'>Hermeneutika Gadamer</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/TGIwsTHuFqI/AAAAAAAAALo/E13f-XuJEpA/s1600/gadamer-1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/TGIwsTHuFqI/AAAAAAAAALo/E13f-XuJEpA/s320/gadamer-1.jpg" width="244" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;http://www.wenzel-orf.de/html/gadamer.html&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Semakin maju dan berkembangnya informasi menjadikan manusia ada dalam sebuah ruang sempit bernama dunia. Kejadian patahnya kaki striker Arsenal Eduardo da Silva oleh tackling Martin Taylor di liga premier Inggris bisa disaksikan langsung oleh penggemar bola di pelosok Jawa. Kejadian betapa berdesakannya umat muslim yang sedang melakukan thawaf di Mekkah serta berkumpulnya umat kristen di tengah hujan deras untuk mendengarkan wasiat Paus di peringatan hari Paskah bisa diakses secara langsung oleh mereka yang merasa berkepentingan terhadap kejadian tersebut adalah sekedar ilustrasi jika dunia telah menyempit dan hampir tak ada kejadian yang tak tervisualisasikan oleh teknologi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Bertubi-tubinya informasi yang masuk sebagai pengetahuan dalam individu yang mendapatkan akses informasi menjadikan banyaknya pilihan dari ide tentang kebenaran dan keuniversalan suatu pemahaman semisal agama. Setiap klaim ataupun gagasan yang menawarkan kebenaran akhirnya bisa saling bertabrakan ataupun saling memberikan kritik. Proses perbenturan ini memungkinkan lahirnya bentuk kesadaran akan keniscayaan pluralisme. Penafsiran terhadap pemahaman teologis yang muncul dari ajaran agama atau ragam kepercayaan lainnya terhadap apa yang literer dan kontekstual akhirnya melahirkan metode untuk mendapatkan bentuk tafsir baru. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost" style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hermeneutika&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Secara etimologis kata ’hermeneutika’ berasal dari bahasa Yunani ’hermeneuin’ yang artinya ’menafsirkan ’. Secara harfiah dapat kita artikan sebagai sebagai penafsiran atau interpretasi. Hermeneutika berkaitan dengan penafsiran atau interpretasi terhadap teks secara khusus dan interpretasi terhadap bahasa secara umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mitologi Yunani, dewa Hermes adalah pembawa berita para dewa. Wujudnya adalah seorang lelaki yang mempunyai kaki yang bersayap. Dalam bahasa Latin ia lebih dikenal dengan Merkurius. Tugasnya adalah menafsirkan kehendak dewa Jupiter kepada Manusia. Hermes diperintahkan Jupiter menerjemahkan pesannya di gunung Olympus agar dimengerti oleh umat manusia. Posisinya cukup penting karena bila terjadi kesalahpahaman akan berakibat fatal bagi seluruh umat manusia. Hermes harus mampu menginterpretasikan pesan agar sampai kepada para pendengarnya. (Sumaryono, 1999)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan hermeneutika adalah menetapkan pedoman dan aturan- aturan interpretasi. Saat ini hermeneutika telah berkembang menjadi ilmu yang teknis dan rumit. Dokumen tertulis mana saja adalah subjek salah tafsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sumaryono, Hermeneutik menegaskan bahwa manusia autentik selalu dilihat dalam ruang dan waktu di mana manusia sendiri mengalami atau menghayatinya. Untuk memahami Das Sein kita tak bisa lepas dari konteks, sebab di luar itu adalah sesuatu yang semu atau Pseudo atau artifisial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hans-Georg Gadamer&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gadamer lahir di kota Marburg, bagian selatan Jerman. Ia adalah anak kedua dari pasangan Emma Caroline Johanna Gewiese dan Johannes Gadamer. Saat berumur dua tahun ia mengikuti orang tuanya pindah ke kota Breslau di Polandia (sekarang kota Wroclau) karena ayahnya diminta jadi profesor luar biasa di Universitas Breslau. Ibunya adalah adalah seorang ibu rumah tangga biasa yang taat pada aturan-aturan Protestan. Ibunya meninggal pada saat ia berusia empat tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadamer menempuh pendidikan dasar dan menengah di Holy Gost School ¬(1907-1918). Berbeda dengan ayahnya yang ilmuwan eksakta, Gadamer lebih tertarik ilmu Humaniora terutama sastra dan filologi. Gadamer kemudian melanjutkan studi di Universitas Breslau jurusan filologi klasik. Di kampus inilah ia berkenalan dengan Martin Heidegger, sejawat ayahnya. Tak sampai setahun di Breslau, ia mengikuti ayahnya yang pindah ke Univeritas Marburg. di kampus ini ia menyelesaikan kesarjanaan dengan disertasi ”the nature of pleasure according to Platos’s dialogues” di bawah bimbingan filosof Paul Natorp. (Muzir, 2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadamer banyak mempublikasikan karyanya dalam berbagai bahasa. Truth dan method adalah karya terbesarnya. Keseluruhan karyanya telah dikumpulkan dalam 10 jilid dalam sebuah edisi khusus dan dikenal sebagai Gesammelte Werke (the Complete Works).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam truth and method, kepadatan, keluasan, dan kedalaman analisisnya menjadikan buku ini buku yang berat. Gadamer berangkat dari pertanyaan perihal epistemologi Geisteswissenschaaften, lalu menyusuri wilayah seni, sejarah, dan berakhir di analisis tentang bahasa; dari tradisi filsafat barat secara keseluruhan lalu berhenti dalam ontologi universal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelahiran truth dan method bisa dibilang terlambat karena Gadamer mesti menunda penerbitannya selama beberapa puluh tahun. Hal ini kibat dari situasi ekonomi dan politik serta persoalan pribadi Gadamer sendiri. Draft ini diselesaikan tahun 1957 ketika ia mengambil cuti mengajar. Awalnya karya ini dinamai Gadamer Grunzuge einer Philosophischen Hermeneutik (foundation of a Philosophical Hermeneutics). Nama ini ditolak penerbit Mohr Siebeck karena saat itu istilah Hermeneutika belum populer. Nama lain adalah Verstehen und Geschehen (understanding and events), namun nama ini menurut Istrinya terlalu identik dengan judul karya Bultmann Glauben und Verstehen (Faith and understanding). Akhirnya dipilih nama Wahrheit und Methode yang terinspirasi dari karya Goethe Dichtung und Wahrheit (Poetry and Truth). Istilah Grunzuge einer Philosophischen Hermeneutik kemudian dijadikan sub judul. Edisi Kedua buku ini terbit dengan Apendiks yang berisi tanggapan Gadamer atas kritik dari Betti tentang historisisme (Muzir, 2008). **&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ditulis untuk mata kuliah Hermeneutika yang diampu Prof.Abdul Hadi WM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Referensi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- Grondin, Jean, 2007, Sejarah Hermeneutika(terj Inyiak Ridwan Muzir), Yogyakarta : Arruzz Media&lt;br /&gt;- Muzir, Inyiak Ridwan,2008, Hermeneutika Filosofis Hans-Georg Gadamer, Yogyakarta : Arruzz Media&lt;br /&gt;- Sumaryono, E, 1999, Hermeneutika, Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta : Penerbit Kanisius&lt;br /&gt;- Suratno, 2005, Pluralisme Agama Dalam Hermeneutika Paul Ricoer, dalam Jurnal Universitas Paramadina, vol 4, no 1, Juli 2005, Jakarta : Universitas Paramadina&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-60317778618069879?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/60317778618069879/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=60317778618069879' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/60317778618069879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/60317778618069879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2008/08/hermeneutika-gadamer.html' title='Hermeneutika Gadamer'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/TGIwsTHuFqI/AAAAAAAAALo/E13f-XuJEpA/s72-c/gadamer-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-3304413567233618137</id><published>2008-08-13T14:52:00.014+07:00</published><updated>2010-08-11T12:26:56.655+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><title type='text'>Kebahagiaan Dalam Pandangan Utilitarianisme Jeremy Bentham</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/TGI0M8IXThI/AAAAAAAAALw/py_ae8cz5-E/s1600/bentham.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="230" src="http://3.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/TGI0M8IXThI/AAAAAAAAALw/py_ae8cz5-E/s400/bentham.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;http://www.btinternet.com/~glynhughes/squashed/bentham.jpg&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Dalam pembahasan etika atau filsafat moral, terdapat beberapa aliran besar yang masing-masing memiliki perbedaan cara pandang terhadap sesuatu yang baik, benar, indah, adil, dan bahagia. Para filsuf mulai dari Plato hingga kini masih terus berkutat terhadap masalah apakah yang paling baik dan benar dan hal-hal yang utama lainnya yang disukai manusia. Beberapa aliran filsafat itu adalah hedonisme, eudomonisme, deontologi dan utilitarianisme. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Paham hedonisme disebarkan oleh Epicurus (341-270 SM), filsuf Yunani kuno. Hedonisme memahami kenikmatan sebagai tujuan etis manusia. Menurut pemahaman aliran ini, kodratnya manusia mengusahakan kenikmatan. Kenikmatan tidak selalu berbentuk atau bersifat fisik/jasmani. Etika Hedonisme berpandangan bahwa manusia akan menjadi bahagia kalau ia mengejar kenikmatan dan menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost" style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nichomachean Ethics&lt;/span&gt; Aristoteles, tujuan utama hidup manusia adalah Eudomonia, artinya kebahagiaan. Eudomonisme adalah aliran yang menekankan suasana batiniah yang berarti”bahagia”. Hakekatnya kodrat manusia adalah mengusahakan kebahagiaan.Tapi apabila semua orang mudah menyepakati kebahagiaan sebagai tujuan akhir hidup manusia, itu belum memecahkan semua kesulitan, karena dengan kebahagiaan mereka mengerti banyak hal yang berbeda-beda. Ada yang mengatakan bahwa kesenangan adalah kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan deontologi, perbuatan moral semata-mata tidak didasarkan lagi pada hasil suatu perbuatan dan tidak menyoroti tujuan yang dipilih dari perbuatan itu, melainkan dari wajib atau tidaknya perbuatan dan keputusan moral tersebut. Bagi manusia prinsip-prinsip obyektif bukan merupakan keniscayaan sehingga manusia dengan sendirinya selalu mau memenuhi kewajibannya melainkan perintah (imperatif). Imperative itu oleh Kant dibedakan menjadi dua macam yaitu imperatif hipotesis dan imperati kategoris. Imperative hipotesis adalah perintah bersyarat. Dengan iperatif hipotesis, prinsip-prinsip obyektif dipersyaratkan dengan tujuan-tujuan tertentu yang mau dicapai. Artinya prinsip-prinsip itu akan dituruti, jika dengannya ia dapat mencapai tujuan yang diinginkannya. Sedangkan imperative kategoris adalah perintah yang “menunjukan sautu tindakan yang secara obyektif mutlak perlu pada dirinya sendiri terlepas dari kaitannya dengan tujuan lebih lanjut”. Imperative kategoris berlaku mutlak dan tanpa kecuali karena apa yang diperintahkan olehnya merupakan kewajiban pada dirinya sendiri, tidak tergantung dari suatu tujuan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utilitarianisme, mazhab etik lainnya, punya cara untuk menunjukkan sesuatu yang paling utama bagi manusia. Menurut teori ini, bahwa kita harus bertindak sedemikian rupa sehingga menghasilkan akibat-akibat sebanyak mungkin dan sedapat dapatnya mengelakan akibat-akibat buruk. Kebahagiaan tercapai jika ia memiliki kesenangan dan bebas dari kesusahan. Suatu perbuatan dapat dinilai baik ataa buruk sejauh dapat meningkatkan atau mengurangi kebahagiaan sebanyak mungkin orang. Menurut prinsip utilitarian Bentham: kebahagiaan terbesar dari jumlah orang terbesar. Prinsip kegunaan harus diterapkan secara kuantitatif, karena kualitas kesenangan selalu sama sedangkan aspek kuantitasnya dapat berbeda-beda. Dalam pandangan utilitarisme klasik, prinsip utilitas adalah kebahagiaan terbesar dari jumlah jumlah terbesar&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(the greatest happiness of the greatest number)&lt;/span&gt;. Menurut Bentham prinsip kegunaan tadi harus diterapkan secara kuantitatif belaka..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Riwayat Singkat Jeremy Bentham&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jeremy Bentham lahir Houndsditch, London 15 February, 1748. Keluarganya adalah ahli hukum. Bentham hidup selama masa perubahan sosial, politik dan ekonomi. Revolusi industrial (dengan perubahan sosial dan ekonomi yang masif yang membuatnya bangkit, juga revolusi di prancis dan America semua merefleksikan pikiran Bentham. Tahun 1760, Bentham masuk Queen's College, Oxford dan lulus tahun 1764, belajar hukum. Meskipun cukup qulified, ia tidak mempraktekkan ilmu hukummnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentham menghabiskan waktunya dengan belajar, sering menulis 6-8 jam perhari. Bentham tidak menulis single text. Teori kerjanya yang paling penting adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;the Introduction to the Principles of Morals and Legislation&lt;/span&gt; (1789), dimana banyak teori moralnya –yang dia sebut. "the greatest happiness principle"—digambarkan dan dikembangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1781, Bentham menjadi associated Earl of Shelburne dan melalui dia, mendapat kontak dan jaringan. Meskipun begitu hanya sebagian saja yang sangat menghargai karyanya. Ide-ide Bentham masih kurang dihargai. Tahun 1785, menemui kakaknya Samuel di Russia. Pada tahun 1791, Bentham membuat usulan "aneh" yakni sebuah desain gedung penjara yang diberi nama Panopticon yang berarti "melihat semuanya". Panopticon terdiri dari sel-sel yang disusun secara melingkar dengan pintu sel menghadap ke dalam inti lingkaran tersebut. Dinding antarsel dibuat tebal agar komunikasi antarpenghuni sel tidak terjadi. Di bagian belakang sel dipasang jendela kecil agar cahaya dapat masuk menerangi isi sel. Di pusat lingkaran sel-sel tersebut dibangun sebuah menara pengawas dengan jendela penutup. Dengan konfigurasi seperti ini, si penjaga dapat melihat semua penghuni sel sementara penghuni sel tidak dapat melihat si penjaga.&lt;br /&gt;Saat meninggal di London, 6 Juni 1832, Bentham meninggalkan puluhan ribu halaman—beberapa diantaranya hanya berupa sketsa, yang sedang digagasnya untuk diterbitkan. Dia juga meninggalkan rumah besar, yang digunakan untuk membiayai Newly University College, London.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pandangan Bentham Tentang Kebahagiaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga karakteristik utama dari basis filsafat moral dan politik Bentham: the greatest happiness principle, universal egoism dan the artificial identification of one's interests with those of others. Semua karakteristik ini disebutkan dalam karya-karyanya. Terutama dalam Introduction to the Principles of Morals and Legislation, dimana Bentham berfokus pada pengartikulasian prinsip rasional yang akan menunjukkan sebuah basis dan petunjuk untuk reformasi hukum, sosial dan moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filsafat moral Bentham merefleksikan apa yang ia sebut pada waktu berbeda sebagai "the greatest happiness principle" atau "prinsip utilitas"—sebuah istilah yang dipnjamnya dari Hume. Meskipun berhubungan dengan prinsip ini ia tidak hanya mengacu pada kegunaan benda-benda atau tindakan, tapi lebih jauh lagi pada benda atau tindakan yang membawa kebahagiaan umum. Khususnya kewajiban moral yang menghasilkan the greatest amount of happiness for the greatest number of people, kebahagiaan yang ditentukan dengan adanya kenikmatan dan hilankanya kesakitan. Selanjutnya, Bentham menulis, "By the principle of utility is meant that principle which approves or disapproves of every action whatsoever, according to the tendency which it appears to have to augment or diminish the happiness of the party whose interest is in question: or, what is the same thing in other words, to promote or to oppose that happiness." Dan Bentham menunjukkan bahwa hal ini berlaku untuk "setiap tindakan secara keseluruhan" yang tidak memaksimalkan the greatest happiness (seperti pengorbanan yang menyebabkan kesengsaraan ) secara moral adalah tindakan yang salah.(tak seperti usaha pengartikulasian pada hedonisme universal, pendekatan Benthamis lebih naturalistik.)&lt;br /&gt;Filsafat moral Bentham, secaa jelas merefleksikan pandangan psikologis bahwa motivator utama dalam diri manusia adalah kenikmatan dan kesengsaraan. Bentham menerima bahwa versinya dari prinsip utilitarian adalah sesuatu yang tidak memasukkan bukti langsung, tapi dia mencatat bahwa hal tersbut bukanlah sebuah masalah sebagaimana prinsip penjelasan tak menunjukkan penjelasan apapun dan semua penjelaan harus dimulai pada suatu tempat. Tapi karena itulah tidak menjelaskan mengapa kebahagiaan lain –atau kebahagiaan umum—harus dihitung. Dan pada faktanya dia menyediakan sejumlah saran yang dapat disebut sebagai jawaban terhadap pertanyaan mengapa kita harus peduli dengan kebahagiaan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, menurut Bentham, prinsip utilitarianisme adalah sesuatu yang individu, dalam bertindak, mengacu pada eksplisitas dan implisitas, dan ini sesuatu yang dapat ditentukan dan dikonfirmasikan dengan observasi sederhana. Tentunya, Bentham berpegangan bahwa semua sistem moralitas yang ada dapat “direduksi pada the principles of sympathy and antipathy," yang pastinya mampu mendefinisikan utilitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argumen kedua Bentham adalah, jika kenikmatan adalah sesuatu yang baik, kemudian kebaikannya menggangu kesenangan orang lain. Meskipun, sebuah halangan moral untuk mengiuti atau memaksimalkan kesenangan telah mendorong secara independen dari interest tertentu dari tindakan manusia. Bentham juga menyarankan bahwa individual akan secara beralasan mencari kebahagiaan umum dengan mudah karena hasrat dari orang lain adalah dikepung oleh mereka sendiri, meskipun ia tahu bahwa hal ini adalah mudah bagi bahwa hal tersebut mudah bagi individu untuk dilupakan. Bahkan, Bentham membayangkan sebuah solusi terhadap hal ini secara baik. Secara khusus, dia mengajukan bahwa hal itu membuat identifikasi hasrat yang jelas, ketika dibutuhkan, membawa hasrat berbeda bersama yang akan menjadi tanggungjawab penegak hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, Bentham mengatakan bahwa keuntungan bagi sebuah filsafat moral berdasarkan prinsip utilitarian. Mulai dari prinsip utilitarian adalah bersih (dibandingkan dengan prinsip-prinsip moral lainnya), memungkinkan bagi sasaran dan diskusi publik, dan memungkinkan keputusan dibuat untuk dimana terlihat konflik (prima facie) keinginan yang legitimate. Selanjutnya, dalam menghitung kenikmatan dan penderitaan terlibat dalam membawa sebuah masalah aksi (the "hedonic calculus"), ada sebuah komitmen fundamental terhadap persamaan derajat manusia. Prinsip utilitarian mengandaikan bahwa "one man is worth just the same as another man" ada garansi bahwa dalam menghitung the greatest happiness "setiap orang dihitung satu dan tak lebih dari sekali"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap mana yang baik dan mana yang buruk, serta membahagiakan dibandingkan dengan pandangan Imanuel Kant, pandangan Jeremy Bentham sangat berbeda, dan dia beragumentasi bahwa jangan terburu-buru menilai mana yang baik dan mana yang salah, karena semuanya itu harus ditetapkan dan bertujuan untuk memberikan kebaikan pada orang yang paling banyak. Dengan kata lain, Kant menempatkan benar terlebih dahulu, baru yang baik, sedangkan Bentham menempatkan baik terlebih dahulu, baru benar. Model atau mahzab yang menganut Kant disebut Kantian, sedangkan model atau mahzab yang dianut Bentham disebut Utilitarianis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, apakah berbohong itu benar dan baik? Jawabannya sudah pasti tidak benar dan tidak baik. Bagaimana berbohong untuk menyelamatkan nyawa orang lain ? Kant mengambil contoh cerita sebagai berikut : Dalam suatu peristiwa, seorang pemuda yang menyembunyikan rekannya dari kejaran seorang pembunuh, ditanya oleh pembunuh tersebut, apakah ia tahu dimana teman itu berada. Apa yang harus dilakukan oleh pemuda tersebut ? Berbohong (dengan begitu menyelamatkan kawannya) atau mengatakan kebenaran (dengan akibat : temannya tewas). Dalam kasus ini, seorang Kantian akan memahami dan menjalankan kebenaran, yaitu tidak bohong, dan itu yang paling penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi seorang Utilitarianis, dia akan melakukan pembohongan, dengan alasan menyelamatkan nyawa lebih penting, dan apakah berbohong itu salah, Utilitarianis akan mengatakan iya itu salah, tetapi menyelamatkan nyawa adalah hal yang baik untuk dilakukan. Dalam hal inilah, baik dan benar ternyata tidak selalu seiring dan sejalan. ( MH)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ditulis untuk mata kuliah filsafat moral barat yang diampu oleh DR. Lutfie Assyaukani&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Referensi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- Bertens, K. 1994. Etika. Jakarta: Penerbit Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt;- Magnis Suseno, F .2005. Pijar-pijar Filsafat. Yogyakarta. Kanisius&lt;br /&gt;- http://en.wikipedia.org/wiki/Jeremy_Bentham&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-3304413567233618137?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/3304413567233618137/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=3304413567233618137' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/3304413567233618137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/3304413567233618137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2008/08/kebahagiaan-dalam-pandangan.html' title='Kebahagiaan Dalam Pandangan Utilitarianisme Jeremy Bentham'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/TGI0M8IXThI/AAAAAAAAALw/py_ae8cz5-E/s72-c/bentham.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-1379282822006972437</id><published>2008-07-17T16:27:00.019+07:00</published><updated>2009-10-20T06:43:08.311+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Seperti Cermin Dari Cina</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="font-family: trebuchet ms;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/Sn7fwLnYgrI/AAAAAAAAAHg/7YnbdFqSTXw/s1600-h/cermin+dari++china.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 132px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/Sn7fwLnYgrI/AAAAAAAAAHg/7YnbdFqSTXw/s200/cermin+dari++china.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5367973824716898994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;Dan Damai Di Bumi! -&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;&lt;br /&gt;Kapok Jadi Nonpri&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;&lt;br /&gt;Para Superkaya Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;Peranakan Idealis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;Cermin dari Cina&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tahun 1998 hidup di Jakarta seperti berada di atas tungku. Inilah jam-jam terpanjang dari titik sesar sebuah gelombang bernama Reformasi. Kata-kata itu bisa ditemui di mana saja. Mulai dari sobekan koran sisa pembungkus kacang rebus sampai pidato presiden di istana. Mulai dari obrolan ringan di televisi, sampai umpatan marah orang-orang demonstrasi. Tapi rupanya “marah” juga yang menjadi yang dominan di Jakarta tahun itu. Di Bulan Mei, tungku panas itu meledak. Massa berhamburan ke jalan dan pusat-pusat perbelanjaan, kerusuhan terjadi di mana-mana. Orang mengambil apa saja yang bisa diangkut dan dibawa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Di bulan itu orang yang berlabel Cina, apalagi yang punya toko seperti mangga ranum di tengah lapang. Siapapun bisa datang “memetik”. Mei 1998 bagi warga keturunan Cina adalah kenangan tentang penjarahan, pembakaran sekaligus pemerkosaan. Peristiwa itu sekaligus telah mengisi daftar panjang kekerasan di Indonesia yang berbau rasialisme. Prasangka, dari rangkaian peristiwa dan kasus itu telah berperan besar mengorbankan hak-hak dasar kelompok, golongan, agama, etnis, dan bangsa lain yang dianggap tidak mempunyai kebijaksanaan oleh kelompok yang lebih kuat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dan Damai di Bumi!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Karl May, penulis cerita petualangan itu berhasil dengan cemerlang mengambarkan dalam novel &lt;i&gt;Dan Damai di Bumi!&lt;/i&gt; bahwa prasangka telah menghilanglan sikap toleran dan bijaksana kita dalam menyikapi perbedaan ras, budaya, bahkan agama. Pendongeng ulung kelas dunia ini sukses menghadirkan karakter-karakter istimewa berwawasan luas nan bijaksana dari tradisi Arab, Eropa, Amerika, Cina dan Melayu. Juga mengajak kita melihat lebih dekat sisi kelam kolonialisme. &lt;i&gt;Dan Damai di Bumi! (Und Friede Auf Erden!) &lt;/i&gt;ditulis berdasarkan catatan perjalanan Karl May saat melancong ke Bumi Timur, mulai Mesir, Pakistan, Srilangka, Sumatra, Semenanjung Melayu sampai negeri Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang orang Cina, Karl may menampilkan sosok dua orang anak beranak (Fu dan Tsi) yang berasal dari kalangan berpendidikan dari tradisi Konghucu. Tentang orang Arab, Karl May menghadirkan sosok Sejjid Omar, seseorang yang masih memiliki silsilah dengan Nabi Muhammad SAW, anak muda gembala keledai yang baik budi, berperawakan bagus dan kekar. Sosoknya menarik perhatian, serius dan berwibawa. Tentang sosok orang Eropa, Karl May menghadirkannya dalam sosok Rafley dan Charley (sepertinya Karl May sendiri). Tentang orang Amerika, kita akan menemukan sosok Pendeta Waller dan anaknya Mary.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku ini, Karl Maya menulis latar belakang tradisi Barat bangsa Amerika dengan menghadirkan karakter Waller yang percaya diri, optimis. Dalam percakapan dengan anaknya Mary, perempuan muda berwajah menawan dengan mata bening dan berkilau;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“engkau tukang mimpi, persis seperti ibumu dahulu! Kenyataan-nya berbeda jauh dengan angan-anganmu. Negeri Timurlah yang membuat kita kehilangan taman Firdaus. Negeri Timur pula yang menyalib sang penebus dan hingga hari ini tidak mau menyambut perdamaian yang dibutuhkannya. Dan sekarang kita datang sebagai utusan Ilahi untuk menawarkannya kembali. Jika tawaran kita diterima, maka Negeri Timur akan damai; tetapi jika ditolak, maka segala upaya kita takkan mampu menyelamatkannya.pandanglah ke bawah dan lihatlah apa yang terhampar di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;! Segala suatu yang berasal dari peradaban Timur nyaris hilang ditelan debu. Tetapi segala sesuatu yang baru, yang praktis, yang baik, diperoleh negeri ini dari Barat. Biasanya saya tak ada urusan dengan Karl May-mu, tetapi kali ini dia benar. Kalau negeri Timur memang pangeran Dongeng seperti yang saya sebutkan tadi, hanya kita para utusan Ilahi yang dapat membangunkannya dari tidur. Hanya kita yang dapat membebaskannya, kita berpijak di dunia nyata, “ Puteri Negeri Barat” hanyalah buah daya khayal. “ (hal 14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus tentang Melayu, pemuka adat dari salah satu suku Melayu di Sumatra dihadirkan Karl May untuk mewakili kearifan dan keluhuran bangsa ini. Bangsa Melayu disebutkan sebagai bangsa terbaik yang gagah, cerdas, bertenggang rasa, lembut, pemaaf, tidak egois, adil dan terutama ramah. Bangsa Melayu juga disebutkan sebagai bangsa yang sudah maju dan menguasai hukum laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca &lt;i&gt;Dan Damai di Bumi!&lt;/i&gt;-nya Karl May membawa fantasi tentang setiap bangsa di atas bumi yang memiliki keragaman untuk bisa dipelajari. Kita diajak memasuki dunia Timur yang eksotik. Novel ini mengajak belajar tentang karakter-karakter khas, etos, serta budaya beragam bangsa. Mengapa tak menjadi anggota perkumpulan Shen saja? perkumpulan seperti yang disebutkan penulis novel ini. Hidup damai bersama di bumi saling menghargai, memahami, belajar dari kekurangan dan kelebihan bangsa lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca novel ini akan membuka wawasan dan sedikit menghapus pandangan stereotif tentang etnis Cina yang oportunis, licik, serakah, hanya memikirkan duit, suka makan babi, menjalin hubungan sosial hanya berdasarkan bisnis, pelit, asosial dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kapok Jadi Nonpri&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kapok jadi nonpri&lt;/i&gt;, adalah satu dari sejumlah kecil buku tentang Cina yang kebetulan saya jumpai di Pasar Kwitang di antara sekian banyak tumpukan buku loakan. Di jalan Kwitang, kawasan Senen, orang riuh berburu buku murah. Meskipun jika dibandingkan dengan pasar buku Palasari di Bandung, pasar buku ini masih kalah luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang berisi kumpulan tulisan dan wawancara di media masa tentang etnis Cina di Indonesia ini, di dalamnya seolah tertulis guman, keluh kesah dan curhat para tokoh terhadap kasus kekerasan yang menimpa etnis Cina. Penjarahan, pembakaran toko, pemerkosaan terhadap para perempuan Cina adalah rentetan peristiwa tragis yang harus dialami oleh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari gumanan mereka sedikit terurai bentangan kasus politik rasialis Indonesia yang akut. Buku ini cukup lengkap mewakili suara beragam kalangan untuk bicara tentang masalah etnis Cina di Indonesia. Kwik Kian Gie, Arief Budiman, Ariel Haryanto, Debra Yanti, dan Sofjan Wanandi, adalah sebagian nama-nama yang bisa dibaca pikiran-pikirannya melalui buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amien Rais menyampaikan rintihan warga keturunan Cina yang mengirimkan kepadanya. Juga Karlina Laksono Supelli yang berpandangan bahwa kasus-kasus perkosaan ini adalah teror yang disebarkan oleh mereka yang bernafsu berkuasa. Isu rasial dan kesenjangan sosial menurutnya bukanlah penyebab timbulnya kerusuhan tapi kerusuhan itu dirancang oleh kelompok orang yang tak dikenal yang datang ke tempat kejadian dan membakar kebencian terhadap orang-orang Cina dan kemudian pergi setelah memancing amuk. Pembakaran gedung-gedung itu dilakukan dengan sengaja oleh mereka yang tak dikenal oleh penduduk sekitar kejadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Nurcholis Madjid (Cak Nur), mengajak kita untuk menatap masa depan. Cak Nur mengajak mawas diri dan mencamkan dalam-dalam pertanyaan seorang jurnalis dari sebuah media massa internasional yang menuduh bangsa Indonesia yang menurutnya sama sekali tidak mengenal prinsip &lt;i&gt;people’s power&lt;/i&gt;. Jurnalis itu menuduh bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang biadab dan primitif. Jurnalis itu membanding-bandingkan Indonesia dengan Philipina, menyuruh belajar pada perjuangan Gandhi. Bab pertama buku ini rupanya mengungkap rasa malu yang dimiliki bangsa Indonesia. Seperti judul babnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan Murbandono HS juga menarik untuk dicermati tentang kejadian besar Mei 1998 ini. Menurutnya rasialisme itu adalah kedunguan jika dilihat dari akal sehat universal. Rasialisme telah menodai Afrika Selatan dengan kisah Apartheid-nya, AS dengan Klux Klux Klan, dan Eropa Barat dengan Neo-Nazi. Baginya, mengaitkan fenomena ekonomi apapun nilai dan krusialitasnya dengan soal “pri-nonpri” sangat mengganggu akal sehat, sebab tak memiliki pondasi. Pri dan nonpri adalah mitos. Peristilahan itu lahir dari utopia yang rasialistik, buta sejarah, picik dan menodai peradaban nusantara yang toleran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penting untuk dicatat keterangannya mengenai tidak adanya jenis manusia Indonesia asli. Karena dalam konteks bangsa, jenis manusia Indonesia asli mengacu kepada status kewarganegaraan Indonesia yang belum final sebagai realitas kultural antropologis. Indonesia adalah konsep negara. Secara kultural, Indonesia belumlah berusia dua abad. Secara antropologis tidak ada di antara warga negara RI bisa membuktikan ia seorang Indonesia tulen. Lalu ras apakah yang dimaksud ras Indonesia tulen?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa persepsi tentang etnis Cina di Indonesia saat ini masih tersekat? Data sejarah mencatat tentang kebijakan politik kolonial yang mulai sejak VOC abad ke-17 yang membagi masyarakat menjadi masyarakat Eropa sebagai masyarakat kelas satu, masyarakat Timur Asing seperti Cina, Arab, India sebagai masyarakat kelas dua, dan inlander (pribumi) sebagai masyarakat kelas kambing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini cukup akurat dalam menyampaikan maksud editor untuk merangkum wacana yang berkembang dan mengendalikan substansi permasalahan yang terkait etnis Cina di Indonesia. Saya pun tak ragu menggunakan istilah Cina ketimbang Tionghoa sepanjang tulisan ini karena mengikuti pandangan Amir Sidharta. Menurutnya, termasuk teman-temannya yang tergolong muda, dia cenderung memilih Cina ketimbang Tionghoa. Kemudahan berbahasa alasannya. Dan tak ada alasan lagi sekarang untuk menganggap istilah Cina sebagai kata yang merujuk kepada pelecehan etnis tersebut yang dimulai dari seminar ABRI di Bandung tahun 1966. Berpikir dua kali untuk memilih istilah Cina ketimbang Tionghoa justru rasialis. Karena itu tak terjadi ketika kita ingin menyebutkan etnis Sunda, Jawa, Bugis, Batak dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Epilog buku ini berisi uraian dan pertanyaan tentang sebab dari kerusuhan selama ini. Mempertanyakan kembali apakah benar bahwa masyarakat yang lapar dapat menjadi begitu biadab dengan melakukan penjarahan, atau menurut bahasa penulis menjadi tawanan sembako. Kesenjangan sosial bagi penulis bukanlah penyebab utama kerusuhan massa dan yang menjadi akar persoalan. Tetapi ketidakadilan dalam sistem ekonomi politik. Lokal maupun global. Pandangan ini kiranya sukses mengantarkan buku ini sebagai buku yang jeli dalam melihat dan memberikan pandangan tentang substansi permasalahan tentang kisruh etnis Cina. Pandangan yang menjadikan buku ini layak dijadikan referensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Para Superkaya Indonesia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Konon, ada beberapa tokoh superkaya di negara ini. Mereka diberitakan mempunyai banyak kekayaan, saham, dan beragam perusahaan. Bisnisnya menggurita. Dari hulu sampai ke hilir. Nama mereka berjajar bersama nama-nama dunia seperti Bill Gates yang berada di urutan pertama, Sam Walton dari AS, Lee Sheu Kee dari Hongkong, dan seterusnya. Tak pernah sepanjang sejarah bangsa Indonesia, ada pengusaha yang bisa meraih jumlah aset dan kekayaan sedemikian besar seperti saat di mana rezim orde baru telah memasuki dasawarsa ketiga dari kekuasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika menilik lebih jauh gaya hidup mereka dengan jumlah kekayaan demikian besar, dana itu sering dihabiskan untuk membiayai pesta, belanja ke luar negeri, membuat lapangan golf, menambah koleksi mobil mewah, beli jet pribadi, kuda pacu atau juga pulau kecil untuk mengisi &lt;i&gt;leisure time&lt;/i&gt; atau sekedar bikin &lt;span style="font-style: italic;"&gt;barbeque party&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku &lt;i&gt;Para Superkaya Indonesia&lt;/i&gt;, yang memuat dokumentasi gaya hidup kelompok masyarakat ini (ditulis oleh Veven SP Wardhana dan Herry Barrus), layak dibaca untuk tahu fakta-fakta seputar kehidupan mereka. Ternyata, nama-nama yang tercatat sebagai tokoh superkaya Indonesia itu rata-rata adalah anak-anak pejabat Orde Baru dan penguasa yang (kebetulan) beretnis Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengantar buku itu Goenawan Muhammad menulis: “ Jika kita memasuki ke Plaza Senayan, atau duduk di warung tenda yang bertaburan di malam hari, atau menyaksikan orang-orang berpergian dengan kapal terbang atau kereta api eksekutif, kita bisa sampai pada kesimpulan bahwa krisis moneter hanya ada dalam analisis para ahli ekonomi. Tentu saja ini sebuah ilusi. Cukup dari kendaraan anda dapat melihat bahwa pengangguran di jalan-jalan di kota-kota besar secara dramatis bertambah. Mereka mengambil bentuk seperti pengamen, pembersih kaca mobil, pengatur lalu lintas di tikungan, pengemis lalu entah apalagi. Tetapi memang benar, banyak orang-orang mungkin tidak sampai jutaan seakan tak kenal goncangan. Dari sini bisa diduga bahwa jarak antara yang terkena krisis dan yang praktis kebal krisis di Indonesia memang amat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melukiskan jarak itu bisa dilakukan berbagai cara. Ada yang memakai angka-angka pembelanjaan, ada yang melihat angka konsumsi untuk hal-hal pokok dan mewah, dan sebagainya. Buku ini membuat gambaran tentang orang yang kami anggap “superkaya”. Istilah ini memang sangat menyederhanakan sebuah soal yang komplek. Kami tak mendefinisikan sikapnya secara persis dalam angka-angka, terutama angka-angka penghasilan. Bintang film Marlene Dietrich punya kalimat yang bagus untuk hal ini: “ada beda sangat besar antara menjadi kaya dan memperoleh uang amat banyak”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para superkaya ini, sebelumnya sama saja seperti masyarakat lainnya. Namun. Saat masyarakat lainnya masih terus terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan disebabkan mereka lahir dan hidup di negara dunia ketiga pasca kolonial, mereka adalah kelompok yang “beruntung”. Para superkaya ini berhasil menempati kelas teratas dalam masyarakat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca buku ini membuat pembicaraan masalah etos kerja yang harus dimiliki masyarakat Indonesia untuk menjadi makmur dan sejahtera menjadi sama sekali tidak menarik. Seperti omong kosong, basa basi. Membicarakan masalah kebersamaan sebagai warga negara dari sebuah bangsa, justru jauh lebih penting dan perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca informasi dan gaya hidup mereka mengarah kepada pertanyaan tentang bagaimana mereka bisa seperti seperti sekarang ini. &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, apakah mereka mendapatkan kekayaan sebesar itu dengan cara normatif seperti menggunakan saran atau teori ahli-ahli marketing, kerja keras dan halal?. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, apakah dengan merekayasa percepatan menjadi kaya dan sukses itu melalui memonopoli sistem distribusi, mengemplang atau mengutang dana negara dalam jumlah besar, melakukan kejahatan korupsi, kolusi, juga nepotisme?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu, bagi warga negara Indonesia yang negaranya punya sumber daya alam melimpah, kesejahteraan dan kemakmuran bisa didapat hanya dari usaha pengerukan gunung emas, penggalian batu bara, timah, gas alam, dan minyak bumi, penebangan hasil hutan dan ekplorasi hasil laut Indonesia, juga pinjaman luar negeri dari negera-negara donor CGI dan Bank Dunia. Kesejahteraan itu juga diperoleh berkat hasil tetasan keringat dan banting tulang para buruh. Juga dari kenekadan para TKW bekerja di luar negeri yang menjadikan mereka (TKW) sebagai pahlawan devisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang strategi pembangunan ekonomi orde baru dengan teori &lt;i&gt;trickle down effect &lt;/i&gt;itu gagal memberikan kesejahteraan. Kue pembangunan nasional yang diterima pertama kali oleh para superkaya itu “tak dibagi adil” dan kurang dirasakan berpihak oleh kelompok masyarakat lainnya. Hanya bertumpuk di gedung –gedung pencakar langit &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; atau kadang berbentuk rumah-rumah supermewah di beberapa kawasan elit baru. Tak menyebar rata ke seluruh bagian wilayah Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan alasan pembangunan dan akibat ketundukan kepada tekanan negara-negara inti dalam sistem kapitalisme global, para intelektual Berkeley yang kabarnya bak mafia kemudian diakomodir sebagai kelompok yang bisa memberikan basis pemikiran dan mengurusi praktek ekonomi-politik Indonesia. Demi percepatan pembangunan dan kemakmuran, ini argumentasinya. Sistem ekonomi koperasi berwawasan kerakyatan hasil pemikiran intelektual dan Bapak Bangsa seperti Bung Hatta pun akhirnya tak dijadikan referensi utama untuk mensejahterakan manusia Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguasa perancang strategi pembangunan orde baru rupanya keliru memahami sejatinya manusia dalam menerapkan teori ekonomi dan praktek politiknya. Lalu menyerahkan nasib dan kesejahteraan 200-an konglomerat saja. Bahwa manusia tak tak melulu bisa diukur berdasarkan hitungan-hitungan materil, bahwa penegakan hukum yang akan melindungi masyarakat dari kriminalitas dan menjaga keutuhan sebuah negara bangsa bisa dimanupulasi dan dipermainkan oleh keserakahan manusia adalah hal yang tak diperhitungkan, mungkin dilupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyoal tokoh-tokoh superkaya itu dan apa yang terjadi dengan mereka sehubungan dengan fenomena krisis dan kerusuhan massal, Sofjan Wanandi memberikan jawaban menarik dalam sebuah wawancara dengan majalah Tajuk (No. 11, Agustus 1998), tentang keberadaan Liem Sioe Liong di Singapura saat kerusuhan tahun 1998. “Kalau ada yang tanya apakah Om Liem pulang ke Indonesia, saya pikir tidak usah. Nikmati saja masa tuanya setelah berusaha 40 tahun lebih. Daripada nanti pulang ke sini dikejar-kejar orang, kan belum tentu bisa lari”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari apakah pribadi superkaya punya gaya hidup mewah atau sederhana, ada pertanyaan tentang apakah menikmati kemewahan bagi warga negara ini adalah sesuatu yang bermoral, halal dan baik di tengah nasib warga negara lain yang hanya menikmati fasilitas hidup di bawah standar kemiskinan? Apakah hidup mewah itu memang “layak” kita nikmati sesudah kita bekerja keras?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dipersoalkan bahwa kemewahan itu sesuatu yang relatif, dan gaya hidup orang-orang super kaya itu wajar-wajar saja karena sesuai dengan tingkat penghasilan mereka, ada pertanyaan tentang apakah untuk sekedar tidur dan beristirahat manusia membutuhkan rumah seluas 10.000 meter persegi berharga ratusan milyar berfasilitas wah seperti dimiliki oleh Sudwikatmono? bukankah manusia cuma membutuhan kantuk untuk sekedar menikmati tidur? manusia cuma membutuhkan haus untuk minum? membutuhkan rasa lapar untuk makan? dan capek untuk istirahat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah tidur itu bisa beralaskan tikar, kasur kapuk, atau springbed adalah masalah gaya hidup. Minum untuk menghilangkan rasa haus itu bisa berupa minum air putih, Coca Cola atau Jus Alpukat, juga bagian gaya hidup. Dan istirahat dengan mandi air hangat di rumah atau pergi ke panti pijat dan sauna untuk relaksasi -sekali lagi- adalah murni masalah gaya hidup. Jadi, merelatifkan kemewahan tak punya dasar yang kuat. Tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran tentang adanya ketidakadilan, hasrat mempertahankan status quo, serta timpangnya perbedaan gaya hidup dalam kelas-kelas masyarakat akan selalu memicu konflik. Ini substansi dari bisa timbulnya “kerusuhan” yang bisa bermula dan dipicu dari isu etnis, ras, budaya, agama, serta masalah pinggiran (pheri-pheri) lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Peranakan Idealis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Manusia lahir, tumbuh remaja, dewasa, jadi tua. Menjalani berbagai fase kehidupan. Memiliki pandangan tentang dunia berdasarkan pengetahuan dan pengalaman. Memaknai hidupnya dengan dengan prinsip-prinsip dan gaya. Dan membaca kehidupan anak bangsa dengan prinsip dan gaya hidup berbeda adalah kebutuhan untuk menemukan pribadi-pribadi berkarakter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Peranakan idealis: Dari Lie Eng Hok sampai Teguh Karya&lt;/i&gt;, karya H. Junus Yahya berisi tentang riwayat hidup “orang-orang tua” yang telah mewariskan banyak hal besar untuk Indonesia. Tak lengkap rasanya belajar sejarah tokoh WNI keturunan sebelum membaca buku ini. Peranakan berarti anak negeri. Menurut penulisnya, P.K. Ojong yang juga pendiri harian Kompas, lebih sreg mengidentifikasi warga keturunan Cina di Indonesia dengan istilah peranakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Pengantar, Harry Tjan Silalahi menulis bahwa H. Junus Yahya telah menggali “makam” yang menyebarkan Gondo arum-bau wangi. Dan benar bahwa para peranakan idealis yang penulisan riwayat hidup mereka ini terinspirasi dari penulisan buku &lt;i&gt;In Memoriam: Mengenang Yang Wafat&lt;/i&gt; karya Rosihan Anwar, seperti H Junus Yahya misalnya, adalah anak-anak negeri yang berkarakter, mempunyai idealisme dan mencintai negeri ini, pernah punya jasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lie Eng Hok (perintis Kemerdekaan) TanTjeng Bok (pencetus ide asimilasi total), H. Karim Oei (sahabat Bung Karno), Tan Tjeng Bok ( seniman tiga zaman), dan Jhon Lie (perwira angkatan laut) adalah sedikit nama dari 25 sosok yang dinarasikan riwayat hidup singkatnya di buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tentang Soe Hok Gie mIsalnya, sosok populer dari dunia mahasiswa 1960-an yang kehidupannya sudah difilmkan, H. Junus Yahya bertutur:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;“Saya berkenalan dengan Soe Hok Gie pada awal 1960, sewaktu baru kembali dari studi di Rotterdam, Belanda, melalui Tan Hong Gie/Siswandhi, wartawan Star weekly yang juga belajar di UI dan kemudian menjadi dosen Arkeologi di Almamaternya. Hong Gie maupun Hok Gie aktif pula dalam gerakan asimilasi/perbauran, bahkan Hok Gie menjadi peminpin redaksi Bara Eka, bulanan LPKB (Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa) pada 1963 LPKB diterima oleh Bung Karno. Dalam buku &lt;i&gt;Cacatan Seorang WNI: catatan renungan dan harapan&lt;/i&gt;,1988, saya menulis : pada audiensi ke Bung Karno di Istana Negara Jakarta 22 Februari 1963 itu, disamping Sindhunata, Anis Ibrahim dan saya ada beberapa teman lain termasuk Soe Hok Gie yang masih muda sekali (21 tahun), lengan baju jasnya kepanjangan (karena dapat pinjam) dan berwajah “baby face”. Tapi Hok Gie kalau ngomong dimana saja dan kapan saja sangat memukau, begitupun presiden pertama kita terheran-heran menjumpai anak muda Hok Gie ini. Lalu kami yang lebih tua ini diantara delengasi LPKB. Dianggap tidak ada lagi oleh Bung Karno. Dan beliau mengajak Hok Gie ke pojok lain Istana untuk bicara berdua berjam-jam. Saya tanya Hok Gie apa saja yang diobrolkannya. Macam-macam katanya, umumnya soal sejarah termasuk sejarah kaum Komunis. Sebab Soe Hok Gie yang sangat anti komunis memang seorang ahli di bidang itu dan kalau tidak salah membuat skripsi mengenai sosialisme atau marxisme! Hok Gie walaupun masih muda kemudian pernah ditawari Bung Karno menjabat suatu posisi tinggi di bidang penelitian sejarah. Tetapi Gestapu keburu meletus dan Hok Gie memilih menjadi seorang demonstran…”&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Demikianlah, buku ini menjadi terasa penting dibaca oleh masyarakat Indonesia yang ingin lebih dalam memaknai arti kebersamaan sesama warga bangsa. Buku yang menampilkan sosok alternatif dari para tokoh sejarah yang kiprah perjuangan mereka mampu memberikan informasi patriotisme. Buku yang harus dibaca oleh mereka –yang meski sedikit saja- masih menyisakan dalam pikirannya persepsi tentang etnis Cina sebagai etnis yang a-sosial dan a-nasional.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Cermin Dari Cina&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dalam buku pelajaran sejarah di sekolah menengah, disebutkan enam kebudayaan dari peradaban kuno yang pernah berjaya. Peradaban Mesopotamia di lembah Sungai Efrat dan Tigris, lembah Sungai Nil (Mesir Kuno), Yunani dan Romawi kuno, Maya dan Aztec serta Inka di Amerika, Lembah Sungai Kuning (Cina Kuno) dan Lembah Sungai Gangga di India. Dari semua peradaban kuno yang telah berlangsung 5000 tahun lebih itu, hanya Bangsa Cina yang kini masih bertahan, juga masih dominan. Yang lainnya “tenggelam”, digantikan peradaban kontemporer yang merujuk kepada tiga kelompok bangsa; bangsa-bangsa Eropa, Amerika dan Cina. Namun Eropa dan Amerika kini adalah bangsa-bangsa “baru” yang telah “berjarak” dengan leluhur mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Apakah bangsa Cina bisa terus bertahan karena ada berkah dari para leluhur yang terus “menjaga” anak cucunya seperti kepercayaan tradisi Konghucu? Karl May sudah menceritakannya, lalu bangsa Jawa,Makassar, Sunda, Melayu, Betawi itu bangsa apa? Dari mana leluhurnya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Bangsa Cina kini menaklukkan dunia. Simbol kemajuan itu tampak jelas dengan dikirimkannya Taikonot sebutan untuk astronot Cina, melalui pesawat ulang alik Shenzhou VI dari pangkalannya di gurun pasir Propinsi Guangzhu tahun 2005 lalu. Cina adalah raksasa ekonomi yang berlari cepat, dengan kaki berupa pondasi ekonomi makro yang kokoh. Di Cina semua serba raksasa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sejak kunjungan Deng Xioping ke Selatan (Singapura, Bangkok, Kuala Lumpur) tahun 1978 yang terkenal, yang membuka mata Deng tentang gagalnya komunisme membawa kesejahteraan. Cina telah merasakan hasil perubahan kebijakan itu sekarang ini. Reformasi sistem ekonomi Cina yang terbuka terhadap sistem ekonomi kapitalis, telah merubah Cina dari negara miskin tertinggal menjadi negara kapitalis besar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Cermin dari Cina, memuat tulisan-tulisan yang memberikan gambaran tentang sejauh mana perkembangan dan kemajuan yang dicapai Cina dalam iklim globalisasi ekonomi. Buku ini disusun dari laporan khusus harian Kompas tentang Cina yang menjadi fenomena. Buku ini berisi tulisan tentang seperti apa birokrasi Cina. Fakta-fakta seputar fenomena ekonomi Cina, kebijakan pemerintah dalam masalah pendidikan dan IPTEK, serta kebijakan hubungan luar negeri Cina. Judulnya cukup mewakili isinya. Pembaca disuruh bercermin sering-sering. Indonesia seolah tidak ada apa-apanya dan begitu tertinggal melihat pemaparan data-data dan perbandingan dengan banyaknya hal baik di Cina. Yang menarik dalam rangka mengingat kembali fenomena kasus &lt;/span&gt;&lt;i face="trebuchet ms"&gt;capital flight&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; serta informasi tentang orang-orang superkaya Indonesia yang menanamkan modalnya di negeri ini juga bisa kita baca.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Bukankah modernisasi dan keberpihakan kepada sistem ekonomi kapitalisme juga akan membawa bencana kemanusiaan sama parahnya dengan komunisme? &lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Cermin Dari Cina&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;, yang menuturkan geliat sang naga di era globalisasi ini juga mencantumkan permasalahan-permasalahan di balik pesatnya pertumbuhan ekonomi Cina.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Lingkungan hidup yang rusak sebagai dampak industrialisasi, munculnya penyakit pernapasan di beberapa kota besar, kemiskinan absolut di beberapa tempat, ketimpangan penghasilan antar warga yang makin memburuk, kegelisahan dan tuntutan perbaikan gaji para buruh yang dilarang keras melakukan protes, juga kasus-kasus pencaplokan lahan serta penyalahgunaan kekuasaan demi kepentingan-kepentingan pribadi pemegang kekuasaan, adalah sejumlah masalah yang merupakan gunung es masalah-masalah pembangunan Cina.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sesuai judulnya, buku ini memberikan kita banyak pelajaran, kita seperti diberikan Cermin dari Cina. [MH]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ditulis untuk majalah Independensia (PB HMI)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;, edisi juli 2006&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-1379282822006972437?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/1379282822006972437/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=1379282822006972437' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/1379282822006972437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/1379282822006972437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2008/07/seperti-cermin-dari-china.html' title='Seperti Cermin Dari Cina'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/Sn7fwLnYgrI/AAAAAAAAAHg/7YnbdFqSTXw/s72-c/cermin+dari++china.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-6245077448670369593</id><published>2008-05-25T21:24:00.014+07:00</published><updated>2010-08-11T12:45:30.960+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><title type='text'>Kompromi Agama dan Filsafat dalam Perspektif Ibnu Rusyd</title><content type='html'>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/TGI4OjihgmI/AAAAAAAAAMc/guLsbnXJdwI/s1600/rushd.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="232" src="http://4.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/TGI4OjihgmI/AAAAAAAAAMc/guLsbnXJdwI/s400/rushd.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="left"&gt;&lt;td class="tr-caption"&gt;http://www.alshindagah.com/marapr2006/rushd.j&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Agama adalah sistem nilai berupa perintah dan larangan untuk manusia yang mendasarkan doktrinnya pada ajaran kitab suci yang dibawa oleh para nabi. Agama merupakan produk ”langit” dan firman Tuhan. Kitab suci sering dianggap sebagai sumber kebenaran utama, bahkan satu-satunya. Sementara filsafat, adalah sebaliknya. Ia adalah produk spekulatif pikiran manusia di bumi. Namun, filsafat juga dianggap sebagai sumber kebenaran, sama seperti kitab suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemikir perenialis seperti Fritjchop Schuon dan Seyd Husain Nasr beranggapan bahwa agama dan filsafat berasal dari satu sumber, Tuhan yang Esa. Pandangan pemikir Perenialis melihat kesatuan dan kesinambungan antara ajaran kitab suci dan pemikiran filosofis. Keduanya adalah merupakan sumber kebenaran. Dalam pikiran kaum Perenialis, Hermes yang menjadi sang pembawa pesan Zeus, dewa terbesar dalam mitologi Yunani, adalah Idris dalam tradisi Islam. Tak ada pemisahan antara ajaran agama (wahyu) dan pemikiran filosofis (akal) manusia di bumi. Keduanya adalah sumber mata air yang menghilangkan dahaga keingintahuan manusia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Jika mengamati bagaimana perkembangan tradisi pemikiran filsafat di kalangan muslim, bisalah digambarkan bahwa baru pada beberapa dekade terakhir inilah beriringan dengan maraknya isu HAM, demokrasi, dan kemudahan akses informasi, kesempatan untuk mempelajari apa saja terbuka lebar. Sebelumnya, terlalu banyak larangan dan perdebatan antara mana boleh dan mana yang dilarang dipelajari. Namun, hingga saat ini, masih ada sebagian kalangan dalam Sunni Islam yang mengkhawatirkan kesesatan pemikiran filsafat. Pikiran akan kesesatan pemikiran filsafat ini ini bisa dirunut dalam sejarah panjang persinggungan doktrin agama sebagai wahyu ilahiah dan rasio kritis spekulatif filsafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyelami seperti apa persinggungan dan apakah keduanya bisa berkompromi? perlulah ditelusuri argumen yang mendasarinya. Demi relevansi dengan realitas di Indonesia dan simplifikasi, dua nama yang sering disebut mengenai masalah ini adalah Al Ghazali dan Ibnu Rusyd. Keduanya memberikan pengaruh besar terhadap pemikiran keagamaan dan filsafat di kemudian hari. Al Ghazali, dengan banyak karya, memiliki posisi khusus di kalangan muslim Sunni. Ihya Ulumuddin (menghidupkan ilmu-ilmu agama) adalah karya besarnya yang merupakan rintisan bagi tasawuf syariah. Karya ini memberikan tuntutan bagi muslim untuk mempraktekkan doktrin-doktrin agama. Dan khusus mengenai filsafat, karyanya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tahafut al falasifah&lt;/span&gt; (kesesatan para filsuf) yang berisi kritik terhadap beberapa pandangan para filsuf mendapatkan banyak tafsiran yang pada akhirnya ”mematikan” tradisi filsafat di kalangan muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, Ibnu Rusyd, khusus mengenai filsafat, memberikan kritik balik terhadap al Ghazali dalam karyanya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tahafut-tahafut&lt;/span&gt;. Jika al Ghazali mendapati gelar hujjatul Islam di dunia muslim, maka pengaruh Ibnu Rusyd adalah sebaliknya. Karya Ibnu Rusyd mendapatkan perlakuan berupa pembakaran. Akhirnya, pemikirannya malah berkembang di dunia Latin dan Yahudi. Karya Ibnu Rusyd lainnya yang berkenaan langsung dengan masalah adanya kesesuaian wahyu dan akal (agama dan filsafat) adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fasl al maqal&lt;/span&gt;. Tulisan ini diarahkan untuk menyelami lebih dalam seperti apa pemikiran Ibnu Rusyd perihal kompromi agama dan filsafat dan apa saja yang diurai ibnu rusyd dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fasl al maqal&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Perkenalan Ibnu Rusyd dengan Aristoteles &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Rusyd, dikenal di dunia latin sebagai Averroes (1126-1198 M), berasal dari komunitas Islam yang berkembang di spanyol setelah penyerbuan orang muslim (pada awal abad ke delapan). seperti Ibnu Sina, ia termasyhur di berbagai bidang pengetahuan, termasuk bidang kedokteran dan hukum. Walaupun sebagian hidupnya ia makmur, ia mati dalam pengasingan, setelah dituduh tidak ortodoks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakeknya yang memiliki nama sama dengan Ibnu Rusyd, Abu al Walid Muhamad adalah Qadhi kota Kordoba. Perannya cukup signifikan dalam perlawanan kota Kordoba terhadap dinasti al Murabithun meskipun gagal. Karya teoritisnya memperlihatkan bahwa ia adalah seorang ahli Ushul Fiqh dan dalam studi atas berbagai pendapat yang ditawarkan oleh beberapa mazhab besar fiqh (ikhtilaf). Ini menghubungkannya dengan gagasan pembaruan fiqh Maliki yang menganjurkan penginterasian penalaran analogis (qiyas). Ayahnya bernama Abu al Qasim Ahmad menduduki posisi sama dari tahun 1137 M hingga Spanyol (Andalusia) diduduki oleh dinasti al Muwahiddun 1145-6 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Rusyd lahir pada 1126, tahun yang sama dengan meninggalnya kakeknya. Ia belajar agama, dan hadis dari ayahnya. Kesenangannya mempelajari ilmu hukum kemudian menjadikannya lebih dikenal sebagai faqih ketimbang sarjana dan filsuf. Studi lain yang dipelajarinya adalah fiqh, bahasa dan sastra Arab dipelajarinya secara lisan dari seorang ahli (’alim). Ia ikut merevisi kitab referensi mazhab Maliki al Muwatha bersama ayahnya dan menghafalnya. Ibnu Rusyd juga belajar matematika, fisika, astronomi, logika filsafat dan ilmu pengobatan. Guru-gurunya tidak terkenal, tapi secara keseluruhan Kordoba terkenal sebagai pusat studi filsafat. Kordoba saat itu menjadi saingan Damaskus, Baghdad, Kairo dan kota besar di Timur lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Rusyd hidup dalam masa politik yang sedang berkecamuk. Pemerintahan al Murabithun di Kordoba ditaklukkan oleh golongan al Muwahidun tahun 1147 M. Gerakan al Muwahidun ini digagas oleh Ibnu Tumart yang menyebut dirinya al Mahdi. Ia terpengaruh dinasti Fathimiyah di Mesir dalam filsafat. Ibnu Rusyd kemudian bekerja pada tiga pewarisnya, Abdul Mukmin, Abu Yaqub dan Abu Yusuf. Saat Abu Yaqub (al Mansur) menjadi gubernur Seville, Ibnu Rusyd diperintahkan untuk mengulas karya-karya Aristoteles. Hal ini karena Ibnu Tufail yang sudah tua terlalu sibuk dan sang walikota tak kunjung mengerti apa isi tulisan Aristoteles. Pekerjaan sebagai ”komentator” inilah yang kemudian membuat Ibnu Rusyd begitu dikenal sebagai ”&lt;span style="font-style: italic;"&gt;the Great Commentator&lt;/span&gt;” oleh masyarakat Eropa abad pertengahan. Dante menyebutkan julukan Ibnu Rusyd ini dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;divine comedy&lt;/span&gt; bersama nama Euclid, Ptolemeus, Hippocrates dan Ibnu Sina serta Galen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisannya yang berbentuk komentar-komentar terhadap Aristoteles, dibagi ke dalam tiga&lt;br /&gt;ulasan: besar, menengah dan kecil. Ulasan besar disebut tafsir. Tulisan ini mengikuti pola penafsiran al Quran. Mengutip satu dua paragraf lalu memberikan ulasan. Ulasan tentang Metafisika Aristoteles adalah yang termasuk dalam kelompok ini. Jenis ulasan menengah dapat dilihat dalam “categories”. Sementara bentuk ketiga ulasannya sering disebut sebagai talkis (rangkuman). Isinya tak melulu pikiran Aristoteles, tapi pikiran Ibnu Rusyd sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Fasl al Maqal &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pertentangan yang sudah lama terjadi antara para ahli fiqh status quo di Andalusia dengan Ibnu Rusyd sebagai Qadhi memungkinkan terjadinya persekongkolan antara penguasa dengan salah satu pihak ini. Ibnu Rusyd adalah pihak yang kalah. Ia sempat diasingkan di Lucena . Dibuangnya Ibnu Rusyd ke Lucena yang berada di kepulauan Atlantik pada 1195 bersamaan dengan dibakarnya buku-bukunya di depan umum, ajarannya tentang filsafat dan sains, kecuali kedokteran dan astronomi dilarang disebarkan. Kondisi kisruh dan peperangan menjadikan penguasa lebih memilih ahli fiqh karena membutuhkan dukungan untuk menopang kekuasaannya. Namun, Abu Yusuf kemudian memanggilnya kembali dan memperbaiki nama Ibnu Rusyd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti telah disebutkan di awal tulisan ini bahwa serangan al Ghazali terhadap para filsuf (Al Farabi dan Ibnu Sina) terutama berpengaruh pada hubungan agama dan filsafat. Dari ketiga karangan Ibnu Rusyd di bidang filsafat- &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tahafut-tahafut&lt;/span&gt; (kerancuan buku kerancuan filsafat), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fasl al maqal&lt;/span&gt; (pernyataan yang jelas dan lugas) dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kasyf an Manahijul Adillah&lt;/span&gt; (uraian tentang metode pembuktian)- &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fasl al maqal&lt;/span&gt;, ditulis tahun 1180 M agaknya merupakan karya yang paling relevan untuk membahas lebih dalam letak di mana agama dan filsafat memiliki kesesuaian dan bagaimana Ibnu Rusyd mengemukakan perspektifnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuduhan al Ghazali bahwa bahwa para filsuf berbuat bidah, kufr dan tidak beragama bagi seorang ahli hukum seperti Ibnu Rusyd akan berakibat hukuman mati, kecuali kalau mereka mau melepaskan filsafatnya dan dengan membuat penyataan di depan umum bahwa mereka tidak percaya pada ajaran filsafat mereka. Karena itu perlulah para filsuf perlu melakukan pembelaan diri. Ibnu Rusyd membuka risalahnya dengan mengajukan pertanyaan mengenai keabsahan filsafat dalam perspektif syariah (Islam). Filsafat menurutnya sesuai syariah dan sangat dianjurkan. Sebab fungsi filsafat hanya membuat spekulasi atas yang maujud dan memikirkannya selama membawa pengetahuan akan sang pencipta. Menurut Ibnu Rusyd, perintah berpikir (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;i’tibar&lt;/span&gt;) dalam al Quran merupakan suatu ungkapan qurani yang berarti lebih dari sekedar berspekulasi atau refleksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengartikan perintah berpikir dalam alQuran secara logika, tak lebih dari mengetahui yang ghaib dari yang diketahui lewat pengambilan kesimpulan. Cara ini disebut deduksi, di mana pemaparan (burhan) merupakan bentuk paling baik. Dan karena Tuhan memerintahkan manusia untuk mengenalnya lewat pemaparan tersebut, maka orang harus mulai belajar tentang bagaimana membedakan antara deduksi dialektis, retoris dan sofistikis. Pemaparan merupakan alat yang dapat digunakan oleh seseorang untuk mendapatkan pengetahuan tentang Tuhan. Ini merupakan metode pemikiran yang logis yang membawa kepada kepastian. Jadi al Quran memerintahkan manusia untuk belajar filsafat karena manusia harus membuat spekulasi atas alam ini dan merenungkan bermacam-macam kemaujudan. Sasaran agama secara filsofos adalah bahwa agama adalah untuk mencapai teori yang benar dan praktek yang benar. Seperti Alkindi, Ibnu Rusyd menyepakati bahwa pengetahuan yang sejati adalah pengetahuan tentang Tuhan, tentang kemaujudan lainnya, dan tentang kebahagiaan dan kesengsaraan di akhirat. Dua cara untuk mencapai pengetahuan adalah pencerapan dan persesuaian. Persesuaian bisa bersifat demonstratif, dialektis atau retoris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Rusyd meyakini adanya tiga kelompok manusia. Para filosof, para teolog, dan orang awam (jumhur). Filsuf adalah kelompok yang menggunakan dalil demonstratif, teolog adalah yang menggunakan nalar dialektis dan bukan dari kebenaran ilmiah. Sementara orang awam hanya bisa mencerap sesuatu dari contoh-contoh dan pemikiran puitis. Dalam hal ini ia meyakini konsep takwil (alegori) terhadap ayat al Quran yang bertingkat yang terdiri dari yang tersurat dan tersirat. Saat itu para ulama fuqaha mengelak karena takut mengacaukan pemikiran kaum awam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bidang fiqh Ibnu Rusyd membandingkan metode logika dengan metode tardisional fiqh, atau ushul fiqh berpijak pada empat sumber : al Quran, hadis, ijma (konsensus), dan qiyas (silogisme). Bagi dia agama mempunyai tiga aspek : eksistensi, kenabian dan kebangkitan. Tiga ini adalah masalah pokok agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Ibnu Rusyd, semua kontroversi yang melibatkan para teolog dan para filsuf pada hakikatnya bermula dari penafsiran ayat-ayat mutasyabihat. Kaum awam berpegang pada arti literal surat tersebut. Kaum Asy'ariah mencoba menafsirkan ambiguitas ayat-ayat tersebut apa adanya, tidak beda jauh dari arti tersuratnya. Menurut Ibnu Rusyd, pertentangan ini adalah bersifat verbal dan semantik belaka. Misalnya soal ”keabadian alam” sebagai fokus. Dari ketiga masalah yang menjadi perdebatan, yakni Tuhan, objek-objek partikular dan alam semesta, hanya masalah yang ketiga-lah yang terjadi pertentangan. Ini tidaklah terlalu mendasar sehingga tidaklah layak untuk saling mengkafirkan. Jika menelaah lebih lebih lanjut pikiran Aristoteles dan pengikut muslimnya, akan ditemukan bahwa kekekalan alam semesta tidaklah sama dengan kekekalan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Epilog&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;Dalam komentarnya tentang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Republik&lt;/span&gt; Plato, Ibnu Rusyd mengulas masalah ”kesempurnaan terbaik” bagi para filsuf adalah turut serta dalam masyarakat yang menghargai orang yang seperti itu. Para pemimpin tercerahkan seperti itu adalah tanda nabi. Dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fasl al maqal&lt;/span&gt; Ibnu Rusyd mengungkap dengan gamblang bahwa hukum mewajibkan orang yang mampu mempelajari filsafat dan mengingat hukum untuk menjamin kesejahteraan anggota masyarakat, termasuk yang bukan filsuf memerlukan pengajaran, kewajiban mempelajari filsafat harus mendorong penerapan praktisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Rusyd begitu penting karena tak seperti Plato, ia begitu berhasrat untuk membumikan kajian filsafat dalam bidang hukum. Karena terikat hukum, sang filosof hidup seperti seorang nabi di tengah-tengah manusia, dan karena keunggulannya dalam kebijaksanaan falsafi ia wajib memegang kekuasaan. Plato melihat politik dan filsafat tidak serasi, sebaliknya dengan Ibnu Rusyd yang melihat keserasian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin tak terlalu tepat bila disebut bahwa al Ghazali memiliki trilogi buku (maqasidul , tahafut dan misykat) yang membahas dan mengkritik kesalahan para filsuf dan Ibnu Rusyd juga mendedikasikan tiga bukunya (tahafut-tahafut, kasyf dan fasl al maqal). Namun kita bisa melihat spirit yang terlihat dalam ketiga buku itu sebagai pembelaan yang gigih oleh Ibnu Rusyd terhadap pemikiran filsafat dan menjelaskan kesesuaiannya dengan kitab suci. ( MH)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 85%; font-style: italic;"&gt;Ditulis untuk mata kuliah Falsafah Alquran di Universitas Paramadina &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 85%; font-style: italic;"&gt;yang diampu oleh Dr. Abdul Moqsith Ghazali&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Referensi &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;- Nasr, S.H dan Leaman, O, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam&lt;/span&gt; (buku pertama), diterjemahkan oleh tim penerjemah Mizan, Bandung, Mizan, 2003.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;- Nasr, S.H dan Leaman, O, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam &lt;/span&gt;(buku kedua), diterjemahkan oleh tim penerjemah tim penerj Mizan, Bandung, Mizan, 2003.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;- Fakhry, M. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sejarah Filsafat Islam : Sebuah Peta Kronologis&lt;/span&gt;, diterjemahkan oleh Zaimul Am, Bandung, Mizan, 2002.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;- _________. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sejarah Filsafat Islam&lt;/span&gt;, diterjemahkan oleh Mulyadhi Kertanegara, Jakarta, Pustaka Jaya, 1987&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;- Leaman, O. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pengantar Filsafat Islam : Sebuah Pendekatan Tematis&lt;/span&gt;, diterjemahkan oleh Musa Kazim dan Arif Mulyadi, Bandung, Mizan, 2002.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;- Solomon F.C dan Higgins K.M. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sejarah Filsafat&lt;/span&gt;. Diterjemahkan oleh Saut Pasaribu. Yogyakarta, Bentang Budaya, 2002.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;- Syarif, M.M. (Ed) &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Para Filosof Muslim&lt;/span&gt;.diterjemahkan Oleh Rahmani Astuti, Bandung, Mizan, 1992.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-6245077448670369593?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/6245077448670369593/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=6245077448670369593' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/6245077448670369593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/6245077448670369593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2008/05/kompromi-agama-dan-filsafat-dalam.html' title='Kompromi Agama dan Filsafat dalam Perspektif Ibnu Rusyd'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/TGI4OjihgmI/AAAAAAAAAMc/guLsbnXJdwI/s72-c/rushd.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-2667746530351268276</id><published>2008-04-22T18:24:00.009+07:00</published><updated>2009-06-06T15:47:25.771+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><title type='text'>Ketuhanan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Permasalahan ketuhanan memang akan selalu menarik untuk dibahas dan dikaji. Para pengarang dan penulis sepertinya tak pernah jemu dan berhenti untuk menuliskan berbagai sudut pandang dan pemikiran tentang bagaimana manusia seharusnya memandang (memposisikan) dzat yang menciptakannya (Tuhan). Sering kita dengar, sebagian orang kemudian rela dan sepakat untuk berperang gara-gara mempertahankan keyakinannya terhadap Tuhan (berebut Tuhan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ali, saudara sepupunya nabi muhamad itu pernah mengungkapkan bahwa awal dari keberagamaan adalah mengenal Tuhan (Allah);“awaluddin ma’rifatullah”. Ungkapan ini menunjukkan bahwa keberagamaan seseorang meniscayakan dia harus mengenal terlebih dahulu pandangan tentang pokok ajaran yang menjadi dasar segala ibadah agamanya. Jika tidak, mustahil ibadah dan keimanannya terhadap agama tersebut bisa diterima. Dengan kata lain, ia harus mau mempelajari ilmu tentang masalah ketuhanan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Lalu adakah perspektif atau konsepsi yang paling kokoh dan benar (obyektif) untuk mengenal Tuhan di antara sekian banyaknya agama di tengah umat manusia ini? Teori atau pandangan mana yang bisa kita yakini mampu memberikan petunjuk yang benar bagi kita untuk mengimani Tuhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tauhid&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Islam memberikan pandangan sebagaimana terdapat dalam Alquran yang menegaskan bahwasanya manusia diperintahkan untuk bertauhid, menyembah hanya kepada Tuhan yang Esa. Islam mengajarkan bahwa itulah kebenaran dan jalan yang lurus yang manusia bisa selamat dengan mengikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah swt berfirman ; “Dan kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS. Alanbiyaa : 25).Di ayat yang lain Allah swt berfirman: “Katakanlah : Dialah Allah yang Maha Esa, Allahlah tempat bergantungnya segala sesuatu, Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada yang serupa dengan Dia.” (QS Al Ikhlas :1-4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua ayat Alquran ini cukuplah menggambarkan konsep ketuhanan dalam Islam yang disebut Tauhid, suatu paham tentang kemahaesa-an dzat Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam, setiap aktifitas apapun berakhir (berujung) pada perkara tauhid. Salah satu contoh yang menarik adalah kisah perang Jamal. Di mana datang seorang Arab Badui kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dan ingin bertanya (berdiskusi) tentang masalah ketuhanan. Para sahabat lainnya memprotes dan menganggap pembicaraan (diskusi) tentang masalah ketuhanan saat perang seperti itu bukanlah pada tempatnya. Tetapi, Imam Ali kemudian menjelaskan bahwa perang yang mereka lakukan sebenarnya adalah karena perkara yang ditanyakan orang Badui tersebut, karena itulah perang untuk sementara dihentikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini sangat populer dalam buku-buku keislaman yang membahas masalah tauhid. Hal ini menjadi semacam indikasi bahwa masalah tauhid itu sedemikian pentingnya dan menjadi akar seluruh keimanan. Orang yang beriman memang dianjurkan untuk mempunyai pengetahuan dan memahami konsep yang kokoh dan benar tentang masalah tauhid ini. Seperti perumpamaan yang diisyaratkan Allah swt dalam Alquran : “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan kalimat yang baik, seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit.” (QS Ibrahim : 24).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alquran mengumpamakan keberimanan seseorang terhadap kalimah thoyyibah (la illaha illallah) dengan Assyajarah Atthayyibah (pohon yang baik) yang akan menghasilkan buah yang baik pula sepanjang musimnya. Sementara ketidakyakinan/kemusyrikan digambarkan sebagai pohon buruk yang akarnya tidak kokoh dan cabangnya tidaklah dapat tegak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dzat, Sifat dan Perbuatan Tuhan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Para teolog atau kaum mutakalimin banyak membuat rumusan-rumusan mengenai dzat, sifat, dan perbuatan Tuhan berdasarkan Alquran dan Hadits. Sehingga, kalau membuka buku-buku mereka kita akan mengenal berbagai istilah seperti tauhid uluhiyah, tauhid ubudiyah, asma wa sifat dsb yang masing-masing mereka terkadang berbeda konsepnya.Pada masa awal Islam itu, tak jarang terjadi saling kafir-mengkafirkan di antara kaum mutakallimin. Bahkan perseteruan ini sampai pada kondisi saling bunuh-membunuh karena perbedaan pandangan dalam memahami Tauhid tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari konsep yang beragam terhadap bagaimana bertauhid dengan benar dan memahaminya, kita umat Islam saat ini relatif mempunyai keleluasaan untuk membandingkan dan mengkaji secara kritis rumusan-rumusan para ulama’ kalam tersebut. Banyak dari pendapat sebagian mereka yang kemudian terbukti benar, tapi tidak sedikit pula di antara pendapat sebagian mereka yang keliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini umpamanya berkenaan pemberian sifat kepada Allah yang menjadikan Allah serupa dengan makhlukNya. Seperti Allah mempunyai betis, jari-jari, muka, kaki, tangan dsb. Hal ini misalnya dapat kita temukan dalam terjemah atau tafsir ayat-ayat yang berhubungan dengan masalah Tauhid yang tentu saja harus di tolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, pemberian sifat apa pun oleh manusia tidak akan pernah mampu mendeskripsikan wujud Allah swt yang sesungguhnya, karena Dia maha suci dari apa yang orang serupakan terhadapNya. Manusia yang berada dan terikat pada alam material tentulah mustahil mensifati Tuhan yang terbebas dari pengaruh alam material (ruang dan waktu). Tuhan yang maha suci tersebut tentulah tak mampu didekati atau dijangkau oleh sesuatu yang rendah (alam materi). Ucapan berupa takbir “Allahu Akbar” pun misalnya, haruslah diyakini tak sepadan atau mampu menggambarkan kemahabesaran Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana Kita Memandang Tuhan?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bagi para teolog Yahudi atau Nasrani, banyaknya kekeliruan yang dibuat oleh sebagian ulama’ ahli kalam (mutakalimin) dalam mentafsirkan wujud Tuhan seperti misalnya beberapa ayat yang terdapat dalam Alquran, sering dijadikan sasaran tembak untuk menyerang akidah dan keyakinan umat Islam. Oleh karena itu sudah sewajarnyalah mereka yang ingin memperbaiki keimanan dan ketakwaannya kepada Allah swt mencari pengetahuan dan konsep yang benar (haq) tentang Tauhid. Allah swt berfirman : “Dia tidak dapat dicapai dengan penglihatan, dan Dia dapat menyaksikan (semua) yang terlihat; Dia Mahahalus, Maha Mengetahui.” (QS Surat Al Anam : 103). Allah swt hendaklah dipandang bukanlah sebagai suatu wujud fisik, karena dia tidak menempati ruang dan waktu, tidak berpindah atau berada di suatu tempat tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana seharusnya muslim memandang Allah swt, mungkin bisa tergambar dalam ucapan yang di sampaikan Imam Ali kepada kaum muslimin berikut ketika menyerukan jihad melawan kaum munafiq :&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“ Segala puji bagi Allah, satu-satunya Tuhan yang dicari oleh semua makhluk, Zat Yang Unik yang tidak diciptakan dari sesuatu pun yang tidak ada, atau Dia tidak menciptakan sesuatu dari sesuatu. Melalui kekuasaanNya, Dia memanifestasikan DiriNya sendiri, dan melalui kekuasaanNyalah sesuatu memanifestasikan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak satupun dari sifatNya bisa sepenuhnya dipahami. Dia tidak mempunyai ukuran apa pun di mana Dia bisa dibandingkan. Lidah dalam bahasa mana pun terlalu kelu untuk menggambarkan sifat-sifatNya. Pembicaraan yang bertele-tele mengenai sifatNya tidak mengarah kemana pun selain kepada jalan nan buta. Akal-akal yang tajam terlalu bingung untuk memahami kerajaanNya. Tabir-tabir misterius menghalangi pemahaman aras-aras terendah dari pengetahuan yang tersembunyiNya, dan wawasan-wawasan paling dalam sepenuhnya raib dalam pemahaman yang kebanyakan (tampaknya) dangkal dari kelembutanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maha suci Allah yang tidak dijangkau oleh kehendak-kehendak paling ambisius. Maha Mulia Dia yang bagiNya tidak ada batasan waktu, atau tempo yang ditetapkan, atau pun deskripsi yang ditentukan. ... ...................”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;(lanjutannya masih sangat panjang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh luar biasa penggambaran oleh Imam Ali tersebut tentang bagaimana kita seharusnya memandang Tuhan. Allah swt berfirman : “katakanlah, kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh, habislah lautan itu sebelum habis ditulis kalimat tsb, meskipun kami datangkan lagi sebanyak itu.” (QS Maryam : 109)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari cara pandang Tauhid yang benarlah umat Islam kemudian diharapkan mampu mengaktualisasikannya dalam kehidupan nyata. Sehingga keyakinan agama nantinya akan menjadi kekuatan yang membawa perubahan baik bagi individu, maupun bagi masyarakat. (Misbah,01/2004)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;Ditulis untuk materi Training Revolusi Kesadaran di HMI Cabang Bandung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-2667746530351268276?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/2667746530351268276/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=2667746530351268276' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/2667746530351268276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/2667746530351268276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2008/04/ketuhanan.html' title='Ketuhanan'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-7887463585804188366</id><published>2008-04-22T17:41:00.006+07:00</published><updated>2009-06-06T15:53:29.205+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><title type='text'>Kenabian</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Setelah pembahasan ketuhanan, bab kenabian merupakan bagian selanjutnya dari dasar-dasar agama (ushuludin) yang utama. Keyakinan terhadap keberadaan Tuhan menjadikan seseorang harus menerima konsekuensi keberadaan nabi (wahyu) yang menjadi pembawa risalah (firman) dari Tuhan. Permasalahannya kemudian adalah keyakinan terhadap nabi seperti apa yang seharusnya (sebaiknya) kita pilih dan jalani untuk mendapatkan kebenaran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan kepada kenabian meniscayakan keberadaan suatu sosok yang mempunyai banyak kelebihan dibandingkan manusia biasa dikarenakan kedudukannya yang begitu dekat dengan Tuhan di antara manusia-manusia lainnya. Keyakinan tentang nabi yang benar akan menjadikan keberagamaan dan ibadah seseorang benar pula. Begitu juga sebaliknya, proses pemerolehan keyakinan yang salah, akan menjadikan seseorang hanya sekedar mengaku-ngaku saja menjadi pengikut seorang nabi, tanpa mau meneladani (mengikuti) apa yang dilakukan nabi tersebut semasa hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Untuk setiap bangsa, tentulah diutus seorang nabi. Nabi tersebut berperan sebagai pembimbing bagi mereka. Ia menyerukan untuk taat pada kebenaran dan fitrah kemanusiaan. Ia berperan menjadi bukti atau hujjah Tuhan yang berasal dari luar diri manusia. Hal ini tidak lain karena adanya kecenderungan menyimpang dari kebenaran, suatu sifat manusia yang muncul akibat pengaruh dari unsur buruk hawa nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan data sejarah dan kitab suci, manusia kemudian mengenal banyak nabi. Seperti nabi Luth untuk bangsa Sodom, nabi Daud, Musa dan Isa untuk untuk bangsa Israel, maupun nabi Muhamad yang berdasarkan berita kitab suci yang dibawanya (Alquran), dikenal sebagai nabi bagi seluruh umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Nahjul Balaghah, Imam Ali bin Abi Thalib mengungkapkan hikmah di balik pengutusan nabi bahwa nabi dikirim untuk meminta pertanggung jawaban perjanjian fitrahNya dan mengingatkan manusia atas nikmat yang telah diberikan tapi dilupakan, menuntut umat manusia dengan tabligh (seruan), menggalikan khazanah-khazanah akal untuk manusia dan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang nabi pastilah juga seorang manusia biasa yang melakukan aktifitas selayaknya umat/kaum yang dibimbingnya. Kalau manusia diketahui sebagai sosok yang mempunyai dimensi jasmani dan ruhani, maka yang membedakan seorang nabi dari seorang manusia biasa adalah dimensi ruhaninya atau yang dalam bahasa agama dikenal dengan istilah derajat takwa (maqom spiritual). Nabi dalam hal derajat taqwa, jauh mengungguli manusia biasa disebabkan usahanya yang gigih sekali untuk mencapai kedudukan (tingkatan) tsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, membicarakan masalah kenabian (pribadi nabi) adalah membicarakan sisi ruhaninya, bukan unsur jasmani. Karena secara jasmani, mereka tak berbeda sama sekali dengan manusia lainnya, Makan makanan yang sama, minum, tidur, istirahat ataupun berhubungan seksual. Walaupun sebenarnya, kalau membaca sejarah nabi-nabi tersebut, kita juga akan menemukan beberapa keunggulan fisik. Nabi Musa misalnya, ia dikhabarkan sebagai nabi yang mempunyai tubuh yang kuat. Nabi Yusuf, konon katanya, mempunyai paras yang tampan. Begitu pula nabi Daud, yang menurut berita kitab suci, mempunyai suara yang sangat merdu. Tapi itu bukanlah sesuatu yang utama. Dimensi ruhani lebih berperan menjadikan mereka pantas untuk di sebut seorang nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nabi Dalam Alquran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Wahai manusia, Kami ciptakan kalian dari laki-laki dan perrempuan, dan Kami jadikan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, agar kalian saling kenal-mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian adalah yang paling bertaqwa.” (Qs Al hujurat 13). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Allah mengangkat orang-orang yang beriman dan berpengetahuan di antara kalian beberapa derajat.” (Qs.Al Mujadalah : 11).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua ayat ini cukup memberi gambaran bahwa orang-orang yang menjadi nabi, atau berhak mendapat predikat nabi adalah mereka yang tinggi derajat ketaqwaaannya serta berpengetahuan. Derajat tersebut mereka dapatkan berkat kesungguhan perjuangan dan ibadahnya sehingga Tuhan pun akhirnya berkenan memilih mereka untuk menjadi rasulNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mengapa Harus Ada Nabi?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Manusia dalam hal mencari dan meraih kesempurnaan, diberikan karunia akal, hati dan indera sebagai sumber pengetahuan. Ketiga sumber pengetahuan internal (yang ada dalam diri manusia) tersebut sebenarnya mampu memahami dan menerima hakikat tentang keharusan adanya sang Pencipta atas keberadaan dan keteraturan alam semesta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya, terkadang ketiga alat yang menjadi sumber pengetahuan tersebut tidak dapat berfungsi secara maksimal, sehingga manusia tak mampu memahami hakikat penciptaan atas makhluk (termasuk dirinya). Terkadang hawa nafsu buruk (syaithoniyah) menguasainya begitu rupa sehingga menjauhkan dirinya dari jalan yang lurus (agama tauhid).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itulah, harus ada para nabi yang mengajak (menyerukan) agar manusia kembali kepada agama dan bertauhid kepadaNya. Para nabi adalah sumber pengetahuan bagi manusia yang berasal dari luar dirinya. Tidak hanya itu saja, mereka juga mengajarkan tata cara (tertib) yang benar dalam hal menyembahNya (beribadah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah sebenarnya salah satu fungsi terbesar dari kehadiran para nabi di tengah umat manusia, yakni mengajarkan ibadah (penyembahan). Manusia bisa saja mengaku beriman kepada Tuhan, tapi keimanan (pengakuan) saja tidak cukup. Manusia juga dituntut untuk mempraktekkan apa yang sudah diakuinya tersebut dalam aksi (amal) yang nyata. Ibadahnya tentu tidak boleh sekehendak hatinya saja, tetapi harus sesuai dengan apa yang dikehendaki (diatur) oleh Tuhan yang maha pencipta dan yang kesemuanya itu tentulah untuk kebahagiaan manusia itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para nabi kemudian memberikan contoh kepada manusia tentang bagaimana seharusnya beribadah yang benar. Tak hanya ibadah yang sifatnya ritual pribadi (hubungan kepada Allah) tapi juga tentang bagaimana ibadah sosial (hubungan dengan sesama manusia dan lingkungan). Inilah kiranya yang dapat menjadi jawaban atas pertanyaan di atas tentang mengapa harus ada nabi di tengah umat manusia. Bahwa selain mengajak kepada tauhid, para nabi juga mengajarkan tata cara bagaimana mempraktekkan pemahaman tauhid itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Nabi Muhamad saww&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan berita sejarah yang obyektif, penuturan dari orang-orang yang bisa dipercaya (otoritas) dan dalil kitab suci yang dibawanya, maupun pertimbangan akal rasional, semua manusia niscaya akan mempercayai kenabian dari nabi Muhamad saww. Kepribadiannya yang mulia sejak dari masa kanak-kanaknya, isi dari ajaran yang disampaikannya, serta pengakuannya sendiri tentang ihwal kenabian dan kerasulannya, menjadikan dia sosok yang memang layak untuk mengemban misi kenabian dan kerasulan penutup tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia biasa yang rendah tingkat spiritualnya tentu tak akan mampu menilai siapa sebenarnya Rasulullah saww. Tapi, untuk mengetahui posisi dan bagaimana serta siapa sebenarnya dia, ada beberapa ayat Alquran yang mungkin bisa menggambarkan sosok beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Katakanlah : “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang.” (Qs Ali Imran : 31). Di ayat lain,“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharapkan (ridha) Allah dan hari akhirat, serta banyak berdzikir (mengingat Allah).” (Qs Al Ahzab : 21). Dari dua kutipan ayat tersebut, cukup jelas sosok nabi Muhamad dan posisinya dalam pandangan Allah swt.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi adalah orang yang begitu berat penderitaannya dalam menyampaikan agama tauhid. Orang yang telah ditawari gunung emas dan harta yang melimpah serta kedudukan yang terhormat di antara kaumnya, tapi ditolaknya hanya demi tegaknya agama semesta. Dialah pemimpin bagi kaum mustadhafin dan sang pembebas bagi perbudakan atas kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, kita dihadapkan pada dua pilihan; meyakini sosok nabi yang terjamin dari dosa karena ketinggian derajat taqwanya, atau ; memilih sosok ‘nabi’ yang hanya seorang manusia biasa, bisa salah, bisa bermuka masam terhadap orang buta umpamanya. Disinilah kemudian kekokohan akidah kita dipertanyakan. Mau memilih sosok nabi yang mana beserta konsekuensi-konsekuensi yang menyertainya. &lt;strong&gt;(Misbah,01/2004)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: normal;"&gt;Ditulis untuk materi Training Revolusi Kesadaran di HMI Cabang Bandung&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-7887463585804188366?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/7887463585804188366/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=7887463585804188366' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/7887463585804188366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/7887463585804188366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2008/04/setelah-pembahasan-ketuhanan-bab.html' title='Kenabian'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-8650225750999327689</id><published>2008-04-22T17:31:00.013+07:00</published><updated>2010-08-11T11:39:33.409+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='film'/><title type='text'>Memahami Alam Semesta</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/TGIpLxjgDvI/AAAAAAAAALA/-2eMQcLlit4/s1600/40153317.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/TGIpLxjgDvI/AAAAAAAAALA/-2eMQcLlit4/s320/40153317.jpg" width="224" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Pertanyaan sederhana dan mendasar yang sering diajukan seorang anak tentang hidup adalah di mana kita hidup? Siapa kita sebenarnya? Dari mana kita berasal? Adakah kehidupan lain selain kehidupan kita ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah pertanyaan itu membawa kita pada studi untuk memahami semesta. Discovery Channel (DC) yang merupakan televisi pelopor pengetahuan ilmiah mendokumentasikan sepenggal jawaban untuk masalah-masalah dalam studi ini. Melalui seri &lt;i&gt;Assignment Discovery&lt;/i&gt;, DC membuat film yang dapat membantu kalangan akademisi mengerti lebih baik bagaimana studi tentang alam semesta atau kosmologi bisa dipelajari.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Film ini dimulai dengan sejumlah pertanyaan tentang apa yang penting dari perubahan warna spektra suatu galaksi? Bagian apa dari spektra selain dari sinar yang terlihat yang penting bagi astronom dalam mempelajari semesta? Mengapa sebagian ilmuwan tidak setuju dengan ide yang memuai? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini menjadi plot dari dokumenter &lt;i&gt;Understanding the Universe&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, para ilmuwan percaya bahwa alam semesta itu berumur sangat tua. Namun teori terkini mengatakan bahwa alam semesta itu masih sangat muda dari apa yang terlihat. Dengan pengukuran dengan skala yang lebih besar, benda menjadi sangat kecil. Skala itu adalah 1 per 10 juta dari triliun dari triliun dari triliun dari detik (10 -42 ). Dengan menggunakan skala yang lebih besar seperti itu kita dapat dengan mudah menghitung jarak matahari adalah 93 juta mil dari bumi. Sedang bintang terdekat berjarak sejauh 25 triliun mil. Bintang terdekat itu, yang dinamai Proxima Centauri dapat dicapai dengan waktu 4 tahun 4 bulan (4 1/3 tahun cahaya). Dengan menggunakan skala kita juga bisa mengetahui bahwa lebar galaksi Bima Sakti adalah 100.000 tahun cahaya dan merupakan 1 galaksi dari sekitar 50 milyar galaksi. Jarak Bima dari galaksi terdekat adalah 1 milyar tahun cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhir abad ke-16 orang masih percaya bahwa bumi adalah pusat semesta. Adalah Nicolas Copernicus yang kemudian mengemukakan teori bahwa matahari adalah pusat, sementara bumi mengelilingi matahari (teori Heliosentris). Galileo Galilei seabad kemudian pada tahun 1608 mencipatakan teleskop yang disempurnakannya pada tahun 1610 untuk membutikan bahwa bumi bukanlah pusat semesta. Lompatan berikutnya baru terjadi tahun 1924 saat Edwin Hubble dengan teleskop astronominya yang memiliki cermin dan lensa mempelajari variabel Cepheid. Hubble mengemukakan teori baru mengenai semesta yang memuai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori ini mengejutkan banyak orang. Hal ini menegaskan bahwa semesta memiliki awal. Teori ini kemudian dikenal dengan nama teori ledakan besar (&lt;i&gt;big bang theory&lt;/i&gt;). Ledakan itu terjadi sekitar 15-20 milyar tahun lalu. Sebelumnya, seorang fisikawan lainnya, Alexander Friedman juga telah menghitung secara eksak bahwa jagad raya memuai dan semakin meluas. Penelitian dua fisikawan dari Bell Telephone, Arno Penzias dan Robert Wilson juga kemudian menemukan suara derau yang tidak berasal dari arah tertentu. Akhirnya diketahui bahwa gelombang mikro yang menghasilkan suara derau itu adalah suara derau yang berasal dari gema ledakan. Penemuan ini mendukung apa yang ditemukan Hubble bahwa semesta terus berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari teori ledakan besar dan semesta yang memuailah dapat dijawab pertanyaan tentang perubahan warna merah pada spektra cahaya. Spektra cahaya yang terus berubah warna merahnya itu menjelaskan bahwa panas cahaya galaksi itu terus menurun karena jarak yang galaksi yang terus menjauh dan ini menegaskan bahwa semesta ini juga membesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian banyak suntingan gambar dan pemaparan, film yang dibagi menjadi dua bagian ini berhasil menjelaskan dan menjawab pertanyaan yang dimunculkan pada awal film. Studi tentang kosmologi menjadi lebih deskriptif karena kita bisa melihat secara visual objek-objek yang selama ini dibahas dan dipersoalkan dalam tulisan-tulisan seputar kosmologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran selanjutnya yang disampaikan adalah bagaimana pendapat para ilmuwan mengenai apa penyebab pergerakan bintang yang berada hampir di ujung semesta? Mengapa bintang bintang itu berada pada posisi equilibrium hampir seumur hidupnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengkajian lebih mendalam tentang semesta memang menyisakan beberapa hal. Bergeraknya galaksi pastilah ada sesuatu yang menggerakkan. Pasti ada sekelompok galaksi di dekat kita. Jika dua fisikawan Bell telephone menyatakan bahwa ada satu gelombang mikro yang menyebar. Penemuan selanjutnya menyatakan bahwa gugusan galaksi itu tidak tersebar merata. Bahwa membentuk serat, kelompok dan gugusan galaksi. Persebaran tak merata ini meninggalkan ruang kosong. Tapi variasi halus persebaran energi ini yang ditinggalkan dari masa penciptaan ditemukan tahun 1992. Dan alam semesta kembali terlihat masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun semesta yang besar ini masih menyisakan banyak misteri. Bahkan menurut para peneliti dari Harvard yang mempelopori studi ini hanya 10 % saja dari alam semesta yang baru dipelajari. Persoalan WIMP, MICA, materi yang gelap serta lubang hitam (&lt;i&gt;black hole&lt;/i&gt;) adalah fenomena semesta lainnya yang menunggu jawaban. Film fiksi ilmiah seperti Star Trek juga menyinggung tentang lubang cacing ini. Tapi kenyataannya tentu saja berbeda dengan yang digambarkan fiksi ilmiah. Sebuah lubang hitam yang bisa menarik debu bahwa material yang lebih besar seperti bintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya film &lt;i&gt;Undertanding the Universe &lt;/i&gt;banyak memberikan wawasan pengetahuan secara visual tentang bagaimana alam semesta terbentuk. Namun tetap saja film ini agak susah dipahami bila kita tidak mengakrabi terma-terma seputar masalah kosmologi. Tetapi justru di sinilah sebenarnya assignment atau tugas bagi peminat kosmologi untuk belajar lebih banyak mengenai apa saja implikasi dari pengandaian-pengandaian yang muncul dalam studi kosmologi. (MH/02/08)&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditulis sebagai resensi atas film Understanding the Universe (Discovery Channel) untuk keperluan mata kuliah kosmologi yang diampu oleh Eko Wijayanto &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-8650225750999327689?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/8650225750999327689/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=8650225750999327689' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/8650225750999327689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/8650225750999327689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2008/04/memahami-alam-semesta.html' title='Memahami Alam Semesta'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/TGIpLxjgDvI/AAAAAAAAALA/-2eMQcLlit4/s72-c/40153317.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-3974037803636001839</id><published>2008-04-22T16:58:00.007+07:00</published><updated>2009-05-22T06:54:56.746+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Mengenal Tuhan Melalui Filsafat</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Judul buku : Rasionalisme dan Alam Pemikiran Filsafat dalam Islam &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Hasan Abu Ammar&lt;br /&gt;Penerbit : Yayasan Mulla Shadra&lt;br /&gt;Cetakan : 11 Mei 2002&lt;br /&gt;Tebal : 333 + X Halaman &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;color:#ff6600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_5x6xzmW8Ogk/SA28PoYgIFI/AAAAAAAAAC4/MPQ-_6DR2lI/s1600-h/buku+filsafat.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5192012922152296530" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 164px; CURSOR: hand; HEIGHT: 214px" height="177" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_5x6xzmW8Ogk/SA28PoYgIFI/AAAAAAAAAC4/MPQ-_6DR2lI/s200/buku+filsafat.JPG" width="141" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Apa media yang dapat digunakan oleh seorang muslim untuk membuktikan kebenaran agamanya? Di mana posisi kitab suci? Mana yang harus diimani terlebih dahulu, dzat pemilik kitab suci ata&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_5x6xzmW8Ogk/SA27moYgIEI/AAAAAAAAACw/fK6fWj-rR5o/s1600-h/buku+filsafat.JPG"&gt;&lt;/a&gt;u kitab sucinya? Dari mana orang Islam membuktikan Tuhan itu hanya satu, tidak dua atau tiga, atau malah sebaliknya, - Tuhan itu tidak ada?”&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_5x6xzmW8Ogk/SA26YYYgIDI/AAAAAAAAACo/hEoQYkNeS_8/s1600-h/buku+filsafat.JPG"&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kalau jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas dijawab dengan menggunakan dalil kitab suci, ternyata klaim kebenaran tersebut juga terdapat dalam kitab suci agama yang lain. Ketika banyak &lt;em&gt;truth claim&lt;/em&gt; yang dimunculkan, kebenaran agama akhirnya menjadi relatif. Padahal tidaklah seperti itu sebenarnya fungsi kitab suci, dia tidak boleh menjadi korban pelarian untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sebetulnya sederhana, karena ada media yang sifatnya lebih universal dan netral, yang harus kita gunakan lebih dulu, yaitu dalil aqliyah. Dalil kitab suci hanyalah sebagai penguat saja atas keimanan kita setelah memahami dalil-dalil aqliyah, bukanlah mengulang-ulang pernyataan bahwa akal itu terbatas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Berdasarkan prinsip-prinsip logis, orang akan dihadapkan pada keniscayaan pilihan bahwa hanya ada satu agama saja yang paling benar. Agama yang paling benar itu adalah yang paling sesuai dengan fitrah kemanusiaan (humanis). Dengan kata lain, ketika Islam punya klaim kebenaran, maka Islam harus mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan logis dan filosofis manusia tentang keberadaan Tuhan, hakikat manusia, dan alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku karangan Hasan Abu Ammar, filosof kelahiran Madura, yang mendalami filsafat di Qum Iran ini dengan cemerlang menjelaskan bagaimana posisi akal dan pemikiran filsafat dalam memahami keberadaan Tuhan dan bertauhid kepada-Nya. Dalam pengantar penulis, buku Rasionalisme dan Alam Pemikiran Filsafat dalam Islam ini adalah buku akidah yang diperuntukkan bagi mereka yang ingin mencari kebenaran telanjang (tanpa basa-basi) tentang ketuhanan. Sebuah buku ajaran tauhid yang penuh dengan nafas filsafat dan jabaran-jabaran logika sebagai sebuah cara untuk “menatap” Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara garis besarnya, buku ini dibagi ke dalam beberapa bagian yang merupakan tahapan-tahapan yang mengarahkan pembaca untuk mencerna dan meyakini kebenaran agama.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, diawali dengan dialog seorang ahli agama dengan seorang kafir yang bernama Zaranggi. Penulis menyebut bagian ini dengan “sebuah cerita yang perlu renungan terbuka”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, pembahasan masalah ushuludin yang mempunyai pengertian dasar-dasar agama atau pokok-pokok syariat. Urgensi kepahaman tentang ushuludin walaupun tidak menjamin keimanan seseorang, wajib diketahui dan tidak boleh bertaklid. Karena dengan mengetahui dan memahami ushuludin-lah, orang akan mempunyai keyakinan penuh dan kemantapan dalam beribadah dan mampu memberikan kekhusyuan sebagai syarat diterimanya ibadah selain dari keistiqomahan (konsistensi). Kewajiban untuk mengetahui dan mempelajari ushuludin ini dikuatkan oleh dalil yang bersifat aqliyah maupun dalil nakliyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan bagian ketiga dan terakhir membahas masalah ketauhidan dan keesaan Tuhan. Tauhid di sini diuraikan melalui dua tahap; Pertama melalui pembuktian kewujudan-Nya.&lt;br /&gt;(Kemestian adanya Tuhan) dan keesaan-Nya (ketunggalan Tuhan). Dalil pembuktian wujud Tuhan ditempuh melalui dua sudut pandang, melalui keberadaan makhluk sebagai cermin Tuhan maupun keberadaan Tuhan melalui wujud Tuhan itu sendiri (argumen Shiddiqin). Untuk memahami argumen shiddiqin inilah baik yang Shadraiyah maupun Sinaiyah, pembaca awam mungkin akan mengernyitkan dahi untuk sedikit berpikir. Perlu pengantar atau mukadimah untuk memahaminya selain background pengetahuhan logika dan filsafat yang sudah ada sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah referensi bagi masyarakat kita yang tidak terbiasa mendalami Islam melalui filsafat, buku ini penting sekali dan sangat membantu memberikan pemahaman Islam. Salah satu kelebihan yang membuat buku ini mudah dipahami adalah faktor bahasa ibu dari penulis, mengingat buku semacam ini biasanya ditulis oleh penulis luar yang bahasa pertamanya bukan bahasa Indonesia, namun bahasa Inggris, Arab atau Persia, yang tentu saja telah tereduksi dalam proses penerjemahan ke versi Indonesia. Hasan Abu Ammar melalui buku ini telah membuktikan, bahwa Islam mampu menjelaskan argumentasi rasional tentang keberadaan agama, bahwa mengenal Tuhan sangat bisa ditempuh melalui jalan filsafat. (MH/07/2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-3974037803636001839?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/3974037803636001839/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=3974037803636001839' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/3974037803636001839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/3974037803636001839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2008/04/mengenal-tuhan-melalui-filsafat.html' title='Mengenal Tuhan Melalui Filsafat'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_5x6xzmW8Ogk/SA28PoYgIFI/AAAAAAAAAC4/MPQ-_6DR2lI/s72-c/buku+filsafat.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-5653595714405036645</id><published>2008-04-21T14:07:00.005+07:00</published><updated>2009-10-20T06:54:04.986+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><title type='text'>Mitos Masyarakat Kampus?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Plato, filsuf Yunani kuno, pendiri sekolah yang disebut akademi, mengatakan bahwa seorang penguasa haruslah seorang filsuf, dan seorang filsuf haruslah penguasa . Maksud ungkapan Plato tersebut adalah bahwa para penguasa haruslah orang-orang yang berpengetahuan (masyarakat intelektual) karena masalah urus-mengurus negara, organisasi, perusahaan, atau pemerintahan, memang memerlukan penguasa yang visioner, adil dan luas pengetahuan. Bila kaum intelektual tidak menjadi penguasa, kekuasaan itu pasti akan dipegang oleh penguasa yang bukan dari kaum intelektual. Kekuasaan yang dipegang oleh penguasa seperti itu dipastikan dapat membawa bencana kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat intelektual tak boleh membiarkan kebangkrutan suatu negara atau organisasi terjadi. Ketidakadilan dan penindasan yang diakibatkan oleh kedzaliman penguasa, tentu bukanlah nasib yang harus diterima begitu saja oleh masyarakat suatu negara atau organisasi tersebut. Masyarakat intelektual tentu saja harus berontak, harus merasa tidak nyaman, harus anti terhadap kemapanan yang didapat penguasa yang bukan dari kaum mereka.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;Masyarakat Intelektual&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Konon, masyarakat kampuslah yang diidentikkan orang dengan masyarakat intelektual. Hal ini disebabkan kampus yang banyak melahirkan kaum intelektual dan punya kapasitas untuk menjadi penguasa. Sayang, kenyataannya dari masyarakat kampus yang jumlahnya sedikit, tak semuanya masuk dalam kriteria masyarakat intelektual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat intelektual bukanlah doktor gadungan yang mendapatkan gelarnya dengan membelinya seharga enam juta rupiah tanpa perlu menulis disertasi atau karya ilmiah. Tapi mereka, para Doktor yang tulisannya menyebar di berbagai jurnal dan surat kabar, atau diterbitkan dalam bentuk buku. Masyarakat intelektual bukanlah para dosen yang (pura-pura) bisa menjawab semua pertanyaan mahasiswanya. Tapi mereka, para dosen yang berani jujur dan berani mengatakan belum tahu ketika ada pertanyaan mahasiswa yang tak bisa dijawabnya, menjadi teman diskusi yang hangat dan terbuka bagi mahasiswa. Masyarakat intelektual bukanlah mahasiswa hedonis. Tapi mereka, mahasiswa yang peduli lingkungan hidup, terjun di LSM membina anak jalanan dan tidak mampu, mengajar di pengajian masjid di sekitas tempat kostnya, aktif di organisasi kemahasiswaan ataupun UKM, juga nilai akademiknya bagus. Masyarakat intelektual juga bukan mahasiswa yang kebingungan cari kerja setelah lulus kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat intelektual tentu saja punya tugas dan tanggung jawab, yakni mencitakan sebuah “masyarakat sadar” sebagai akhir dari sejarah kemanusiaan. Masyarakat intelektual berperan sebagai penggerak revolusi kemanusiaan dari jaman penindasan dan kebodohan menuju sebuah masyarakat berkesadaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Masyarakat Sadar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Utopiskah berpikir tentang masyarakat sadar, atau yang sering disebut orang dengan civil society, masyarakat madani dsb, dan mencitakan terwujudnya masyarakat seperti itu? Adakah rumusan ideologis filosofis dan sosiologis pembentukannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya adalah tidak, masyarakat sadar bukanlah sebuah utopia seperti digambarkan dalam negeri Ikaria-nya Etienne Cabet, atau masyarakat komunalnya Karl Marx. Masyarakat sadar membasiskan kekuasaan pada pengetahuan. Seperti kata Francis Bacon, "&lt;em&gt;knowledge is power"&lt;/em&gt;. Masyarakat sadar adalah masyarakat hasil sebuah produk pendidikan yang benar dari masyarakat intelektual, yang sadar akan tanggung jawab pribadi dan sosial, sadar akan rasa keadilan, cinta dan kebenaran. Dengan moral politik yang baik, gerakannya bukanlah sekedar gerakan massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses bangkitnya gerakan masyarakat intelektual ke masyarakat sadar itulah kemudian yang harus menjadi fokus setiap gerakan mahasiswa dan masyarakat kampus secara keseluruhan. Bahwa mahasiswa adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat intelektual. ( MH, 2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-5653595714405036645?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/5653595714405036645/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=5653595714405036645' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/5653595714405036645'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/5653595714405036645'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2008/04/mitos-masyarakat-kampus.html' title='Mitos Masyarakat Kampus?'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-5497622602810697625</id><published>2008-04-21T13:14:00.014+07:00</published><updated>2009-08-11T12:27:04.228+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Tips Gemar Membaca</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/SoEBCC7m1mI/AAAAAAAAAHo/3HA1ltJ0O8Q/s1600-h/buku+teh+ana.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 195px; height: 260px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/SoEBCC7m1mI/AAAAAAAAAHo/3HA1ltJ0O8Q/s200/buku+teh+ana.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368573365460588130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Era informasi menjadikan media untuk membaca makin banyak variannya. Internet belakangan hari menjadi media bacaan baru yang besar pengaruhnya meski berbeda perannya dengan media cetak seperti buku, majalah atau koran sebagai bahan bacaan utama. Namun pada dasarnya semua media yang memfasilitasi kegiatan membaca itu memerlukan suatu teknik (skill) dan juga trik tertentu yang sama sehingga dapat membantu kita dalam mengefektifkan kegiatan membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa tahap yang bisa dilakukan untuk dapat membantu kegemaran membaca kita :&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;1. Memilih dan menentukan jenis maupun bentuk bacaan.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Karena begitu banyaknya bahan bacaan yang bisa kita konsumsi, kita memang harus memilih bacaan yang benar-benar mampu meningkatkan kualitas intelektual dan pengembangan pribadi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patut dicatat bahwa dilihat dari isinya, bahan bacaan bisa diklasifikasikan minimal menjadi dua bentuk, pertama bacaan akademis, ilmiah,dan ideologis. Bacaan seperti ini penting untuk kita baca karena mampu memberikan masukan ilmu bagi kita yang akan mempengaruhi kualitas intelektual dan pemahaman. Bacaan seperti ini lazim kita temui pada buku, jurnal, artikel maupun esai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, bacaan popular, wacana dan informatif. Bacaan seperti ini sifatnya memberikan pengetahuan dan informasi yang sedang aktual bagi kita, misalnya berita terkini atau gosip-gosip yang lagi tren di masyarakat. Bahan bacaan seperti ini biasanya terdapat pada koran, majalah, ataupun buletin brosur dan pamflet. Walaupun kita juga bisa temui majalah, koran ataupun buletin yang tak hanya memberikan informasi tapi juga pembahasan yang sifatnya bukan wacana/ info pop, tapi keilmuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, kita harus menentukan porsi terbesar pilihan jenis dan bentuk bacaan yang kita inginkan dan butuhkan, kelompok pertama atau kedua. Tidak asal baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Mempelajari teknik-teknik membaca efektif, seperti scanning, skimming dll.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Membaca adalah bagian dari kemampuan berbahasa, jadi tak ada salahnya bagi mereka yang tidak kuliah atau memperdalam ilmu kebahasaan untuk sekedar tahu ilmu dan seni/teknik membaca yang baik dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Memilih waktu, tempat, mood, intensitas, dan bacaan yang sesuai&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kegiatan membaca pada dasarnya bisa dilakukan kapan dan dimana saja. Hanya terkadang kita dihadapkan pada kondisi yang kurang kondusif untuk melakukan aktifitas membaca, seperti saat kondisi fisik kita sedang lelah atau mengantuk, tempat yang berisik dan suram, mood, kuantitas dan kualitas bacaan. Memilih bacaan yang sesuai berarti memilih tingkatan bacaan. Usahakan membaca buku pengantar apabila suatu saat kita ingin mengkaji disiplin ilmu tertentu, misalnya ilmu filsafat. Buku jenis ini sering dinamai dengan buku for beginner (untuk pemula). Membaca buku pengantar ilmu filsafat agar kita lebih mudah memahami bacaan-bacaan yang berhubungan dengan filsafat yang lebih kompleks atau detail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. Mengulang bacaan, menuliskan kembali dengan bahasa sendiri, membandingkan dan memberi penilaian (resensi)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Untuk menjadi paham, kita memang perlu melakukan pengulangan-bila dirasa perlu. Dalam buku Quantum Learning disebutkan bahwa tingkat pemahaman yang paling tinggi baru didapat ketika kita mempraktekkan apa yang telah dipelajari. Menuliskan kembali dengan bahasa sendiri adalah usaha mendapatkan pemahaman tertinggi tsb. Tahap paling akhir adalah membandingkan dan memberi penilaian. Hal ini disebut juga membaca kritis, jadi kita tidak menelan mentah-mentah pendapat penulis, syaratnya, menurut pak Hernowo, direktur Kaifa, pembaca sudah “prigel”dalam hal membaca .&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Selamat Gemar Membaca&lt;/em&gt; &lt;em&gt;!!!!!!!!!! &lt;/em&gt;&lt;strong&gt;(MH, 05/2003) &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-5497622602810697625?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/5497622602810697625/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=5497622602810697625' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/5497622602810697625'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/5497622602810697625'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2008/04/tips-gemar-membaca.html' title='Tips Gemar Membaca'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5x6xzmW8Ogk/SoEBCC7m1mI/AAAAAAAAAHo/3HA1ltJ0O8Q/s72-c/buku+teh+ana.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-4703828314420464779</id><published>2008-04-13T18:25:00.011+07:00</published><updated>2010-08-11T14:02:34.879+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Urban'/><title type='text'>jalanan Jakarta gw yang Bikin</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_5x6xzmW8Ogk/SASZsJ-MSrI/AAAAAAAAACU/zE3Kk20aZJY/s1600-h/jalanan+jakarta+gw+yang+bikin.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="266" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5189441654507719346" src="http://bp2.blogger.com/_5x6xzmW8Ogk/SASZsJ-MSrI/AAAAAAAAACU/zE3Kk20aZJY/s400/jalanan+jakarta+gw+yang+bikin.jpg" style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-4703828314420464779?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/4703828314420464779/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=4703828314420464779' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/4703828314420464779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/4703828314420464779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2008/04/senyum-dian-sastro-menggairahkan.html' title='jalanan Jakarta gw yang Bikin'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_5x6xzmW8Ogk/SASZsJ-MSrI/AAAAAAAAACU/zE3Kk20aZJY/s72-c/jalanan+jakarta+gw+yang+bikin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-5180633619848734569</id><published>2008-04-08T16:45:00.018+07:00</published><updated>2009-10-20T06:56:45.762+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Telaah Kritis Tentang Islam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photo.goodreads.com/books/1235032725m/5639730.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 98px; height: 145px;" src="http://photo.goodreads.com/books/1235032725m/5639730.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:78%;"  &gt;JUDUL BUKU : Islam Doktrin dan Peradaban&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:78%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;(Sebuah telaah kritis tentang keimanan, kemanusiaan dan kemoderenan)&lt;br /&gt;PENULIS : Nurcholish Madjid&lt;br /&gt;PENERBIT : Paramadina&lt;br /&gt;CETAKAN : IV, September 2000&lt;br /&gt;TEBAL : 626 + CXXIV Hal &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Agama sering menjadi aspek penting yang menentukan maju-mundurnya sebuah peradaban dalam sejarah manusia. Manusia modern kemudian mengenal betapa banyak dan beragamnya agama serta klaim kebenaran dari agama-agama tersebut. Masing-masing agama juga menjanjikan keselamatan untuk para pengikutnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Agama sebagai pedoman langit bagi manusia bumi, pada tahap selanjutnya memasuki wilayah antropologis yang multi tafsir. Kondisi ini terkadang menjadikan kebenaran agama sebagai sesuatu yang relatif, bahkan absurd. Pencampuradukan dan kekeliruan pemahaman terhadap hal-hal yang sakral dan yang profan (sekuler) juga sangat mungkin terjadi. Oleh sebab itu, ketertarikan untuk mempercayai suatu agama dan menjalankan doktrinnya, mengharuskan adanya penelaahan secara kritis dari setiap doktrin yang diterima dan dipelajari. Tidak ada doktrin agama yang boleh steril dari penelaahan demi mendapatkan objektivitas dan keyakinan bahwa suatu ajaran agama layak untuk diyakini kebenarannya serta dipraktekkan doktrinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sosiolog Elizabeth K Nottingham (1997), dalam relasi antara agama dan masyarakat, terdapat tiga tipe kelompok masyarakat. Pertama, tipe masyarakat terbelakang dan nilai-nilai sakral. Dalam tipe pertama yang masyarakatnya masih terisolasi ini, agama memasukkan pengaruhnya yang sakral ke dalam sistem nilai masyarakat secara mutlak. Agama menjadi fokus utama bagi pengintegrasian masyarakat. Agama dalam tipe ini menjadi sumber konservatisme dan menghalangi perubahan. Kedua, tipe masyarakat pra-industri yang sedang berkembang. Pengaruh agama dalam masyarakat ini tidak lagi semutlak tipe masyarakat pertama. Tapi agama masih bisa menjadi legitimasi bagi elit masyarakat seperti raja atau kaisar ataupun pendeta kerajaan untuk mensakralkan kekuasaannya. Selain mengintegrasikan masyarakat, kemungkinan lain berupa perbenturan antara tradisi dan doktrin agama juga bisa terjadi. Hal ini misalnya bisa kita lihat pada seruan para nabi Yahudi untuk lebih mementingkan menjalankan doktrin agama ketimbang tradisi mereka. Ketiga, Tipe masyarakat industri-sekuler. Semakin berkembangnya pengetahuan membawa banyak konsekuensi terhadap doktrin agama. Begitu juga peran negara yang semakin besar dalam menentukan kehidupan masyarakat tipe ketiga ini yang pada akhirnya dapat sepenuhnya mengambil alih peran agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memahami fungsi agama dalam kehidupan masyarakat modern saat ini, sulit untuk menemukan ketiga tipe masyakarat tadi secara utuh. Tidak ada dari ketiga tipe yang berdiri sendiri. Karena itu Nottingham mengandaikan pencampuran antara ketiga tipe masyarakat itu dalam melihat fenomena masyarakat modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KKA dan Fenomena Religiusitas Masyarakat Urban&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Klub Kajian Agama (KKA) Paramadina yang mulai diadakan Oktober 1986 adalah salah satu contoh pas dari apa yang digambarkan oleh Nottingham mengenai pencampuran tipe masyarakat modern dalam relasinya dengan agama. Dalam KKA, doktrin agama sebagai sumber nilai tetap dijadikan acuan meski terlebih dahulu dikaji secara kritis. KKA yang pernah sangat populer tahun 1990-an bisa memberikan gambaran mengenai fenomena religiusitas kaum urban atau apa yang mungkin sering disebut sebagai fenomena sufi kota. Di mana anggotanya adalah kelompok terpelajar atau kelas menengah yang mempunyai akses cukup baik terhadap informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan peserta sekitar 200-an orang setiap pertemuannya (Pembuka Kata, vii), serta 2 orang pemateri yang menulis makalah, penyelenggaraan pengajian di hotel, KKA Paramadina yang dimotori oleh Nurcholis Madjid (Cak Nur) boleh dibilang sebagai pelopor untuk kelompok pengajian agama yang melakukan kajian topikal dengan metodologi dan kurikulum terukur tentang agama (Islam). Sebelumnya juga ada Buya Hamka yang memelopori kajian agama populer melalui siaran radio dan masjid al-Azhar sejak era 70-an. Namun KKA mempunyai sisi ekslusifitas dalam melihat fonemena religiusitas masyarakat urban karena semangatnya yang pluralistik, terbuka dan tenggang rasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Islam Doktrin dan Peradaban (IDP) yang sebagian besar isinya merupakan kumpulan makalah Cak Nur dalam KKA, berhasil memaparkan pentingnya penelaahan terhadap agama -khususnya Islam- secara kritis. Hal ini terungkap dalam kata pengantar yang tergolong cukup panjang (lebih dari 100 halaman). Tapi, itu semua tidaklah menjadikannya kehilangan acuan berpikir yang jelas. Sebab tema yang dibahas di klub kajian ini juga dibuat berseri dengan pendekatan yang komprehensif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menyongsong Era Modern&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengantarnya, Cak Nur mengungkap tentang datangnya era baru (globalisasi dalam teknologi komunikasi dan transportasi) yang mesti secara siap disongsong oleh umat Islam dengan pengetahuan. Agama menurutnya masih memiliki peran karena manusia masih membutuhkan ”pedoman”. Humanisme universal, maupun Marxisme-Leninisme sebagai bentuk ”agama baru” menurutnya telah gagal menggantikan agama formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini karena faktor naluri beragama manusia yang mempercayai adanya suatu wujud yang maha tinggi yang membuat manusia mengembangkan suatu cara tertentu untuk memuja dan menyembahnya. Cak Nur mengungkap secara menarik, bahwa usaha mendorong manusia untuk percaya pada Tuhan adalah suatu tindakan yang berlebihan. Karena tanpa didorong pun sebenarnya manusia akan percaya karena naluri beragama merupakan sesuatu yang taken for granted bagi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhadapan dengan kenyataan yang beragam, manusia mengusahakan agamanya lebih berfungsi dalam kehidupan harian. Akhirnya, mitos dan legenda lahir untuk membantu meyakinkan keberadaan Tuhan dan membuatnya menjadi fungsional. Manusia sulit benar-benar menghindar dari mitologi. Hal ini menyebabkan mitos melahirkan sistem kepercayaan yang berujung pada sistem nilai. Nilai kemudian memberikan kejelasan berupa etika (apa yang baik dan buruk) dan memberikan dasar bagi berkembangnya sebuah peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipelopori oleh nabi-nabi bangsa Semit seperti Ibrahim, kesadaran untuk melakukan rasionalisasi berupa demitologisasi mulai muncul. Kesadaran tentang Tuhan yang Esa (monoteis) menjadikan konsep-konsep lama berupa mitos-mitos semisal hari ke tujuh mulai mengalami desakralisasi. Mengutip dari Robert N Bellah, Cak Nur mengemukakan bahwa telah terjadi sekularisasi dan penurunan nilai sakral terhadap kepercayaan mitologis. Demitologi menurutnya telah berhasil menjadikan kepercayaan tentang hitungan hari hanya menjadi hitungan matematis dan penentuan kalender yang lebih fungsional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cak Nur mengajak belajar dari pengalaman masa lalu yang pahit dari pengalaman agama Kristen dan Islam yang tidak berpihak pada kemajuan. Fanatisme pada mitologi menurutnya telah menjauhkan agama, baik Kristen maupun Islam sendiri dari spirit idealnya seperti yang diajarkan para Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan selanjutnya dari Cak Nur dalam pengantarnya memperlihatkan luasnya bacaan beliau dan pemahamannya yang baik tentang bagaimana seharusnya Islam di Indonesia dikembangkan, juga bagaimana bentuk relasi agama dan negara. Menurutnya, semangat kemajemukan (pluralisme) sangatlah dibutuhkan dalam pembentukan karakter bangsa yang besar. Islam menurutnya telah memberikan landasan etis bagi terciptanya sebuah negara bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penutup pengantar magnum opusnya ini, terdapat beberapa diskursus yang menjadi benang merah pikiran Cak Nur. Menurutnya, sikap kritis, niat dan motivasi yang benar, pengetahuan tentang konteks yang tepat, demokrasi dan kebebasan yang positif akan membawa kita pada usaha yang benar dalam membangun peradaban yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keimanan, kemanusiaan dan kemoderenan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Secara garis besar, buku IDP telah mendapatkan pengantar yang baik yang mampu merangkai isu-isu atau wacana yang didiskusikan dalam kumpulan makalah kajian agama KKA. Kajian itu dikelompokkan dalam empat bab yang masing-masing tema sub-babnya saling terkait. Bagian kesatu, membahas masalah ketuhanan dan emansipasi harkat manusia. Bab ini mengulas tentang keimanan dan makna-makna seputar masalah tersebut seperti; tujuan hidup manusia, ibadah, semangat tauhid, kemajemukan masyarakat dan juga hubungannya dengan perkembangan pengetahuan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian kedua, membahas masalah disiplin ilmu keIslaman tradisional. Di sini Cak Nur memaparkan kondisi perkembangan pengetahuan yang diperoleh dan kemudian dipelajari oleh umat Islam. Mulai dari filsafat, kalam, fiqh, sampai tasawuf. Di samping itu, Cak Nur tak lupa pula memaparkan unsur-unsur yang mempengaruhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian ketiga, membahas masalah doktrin kitab suci dan hubungannya dalam membangun masyarakat yang beretika. Dia menuliskan dan mengajukan pemikirannya mengenai konsep Alquran terhadap alam semesta (kosmos) dan manusia (antropos) selain juga menyinggung masalah etos kerja dan dan pengaruh pandangan dunia teologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian keempat, membahas masalah universalisme Islam dan kemodernan. Di bagian ini dibahas masalah kosmopolitanisme kebudayaan Islam, maupun makna modernitas menurut Islam. Dan salah satu poin terpenting dan menjadi ide utama dalam buku ini adalah pembahasan mengenai reaktualisasi nilai-nilai kultural dan spiritual dalam proses transformasi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Beberapa Catatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah referensi bagi mereka yang hendak mengkaji dan mempelajari Islam secara lebih obyektif, buku ini sangatlah memenuhi syarat. Selain kepiawaian dan keluasan referensi penulisnya yang akrab baik dalam tradisi penulisan yang berkembang di antara pemikir barat, dan juga kitab kuning (Arab), penulis juga punya pemikiran yang maju tentang bagaimana seharusnya umat Islam menampilkan doktrin agama untuk dipahami sebagai sebuah ajaran yang menawarkan perubahan kultural dan anti eksklusifisme golongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, terlepas dari itu semua, sebagai sebuah hasil pemikiran filosofis dan tafsir terhadap bagaimana sebuah agama universal mampu dipahami dan dipraktekkan secara benar pula di ranah sosiologis, pandangan Cak Nur ini tetaplah punya banyak celah untuk dikritisi juga. Tak peduli apakah buku ini suatu telaah kritis seperti yang terdapat dalam sub judulnya atau bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah lainnya adalah spirit dari kumpulan tulisan di buku ini yang berbicara tentang modernisme, sementara masyarakat modern sendiri kini telah menghadapi gaya hidup dan gejala psikologis baru, posmodernisme. Masyarakat sudah tak bisa lagi secara sederhana dimasukkan ke dalam tipe-tipe masyarakat seperti dikelompokkan oleh Nottingham dengan puncak piramid masyarakat industri yang sekuler. Masyarakat sekarang malah telah memasuki apa yang disebut oleh filsuf radikal Prancis Gilles Deleuze (1999) sebagai masyarakat terkontaminasi (tainted community). Masyarakat dalam tipe ini adalah masyarakat yang gelisah karena telah dikontrol oleh hasrat dan keinginan-keinginan material baru produk kapitalisme lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan yang juga diidealkan Cak Nur kini juga sudah bertransformasi sedemikian rupa dan merangsang munculnya begitu banyak model ideologi pembebasan seperti gender, sektarianisme, feminisme, lesbianisme, agama, setan, homoseksualisme. Dengan alasan pluralisme dan jaminan atas kebebasan, maka siapapun boleh berbeda. Maka, di sini naluri beragama seperti yang dikatakan Cak Nur sebagai sesuatu yang taken for granted menghadapi tantangan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan agama bukan lagi berupa mitos-mitos yang harus didemitologisasi atau berupa penolakan terhadap agama seperti diusung Marxisme, tapi pengabaian atau sikap acuh. Banalitas informasi, citra, dan ragam komoditas tontonan yang menyerbu telah menciptakan kegelisahan baru. Toh sekarang ini sudah tidak bisa dibedakan mana artis mana kiai, mana acara sinetron mana dakwah, semua menyerbu ruang privat dan tak memberikan cukup waktu untuk kita menimbang kontradiksi-kontradiksi ini. (MH)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Misbahudin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Mahasiswa Jurusan Falsafah dan Agama Universitas Paramadina&lt;br /&gt;Review ini ditulis dalam rangka lomba review buku-buku Cak Nur&lt;br /&gt;pada Semarak 10 Tahun Universitas Paramadina Maret 2008 dan mendapatkan juara pertama&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-5180633619848734569?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/5180633619848734569/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=5180633619848734569' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/5180633619848734569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/5180633619848734569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2008/04/telaah-kritis-tentang-islam.html' title='Telaah Kritis Tentang Islam'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-319438714982788899</id><published>2008-03-25T16:36:00.022+07:00</published><updated>2009-10-08T13:13:01.063+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Urban'/><title type='text'>Kawin Cara Kambing dan Monyet</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu ini dua acara kawinan kuhadiri. Aku jadi belajar banyak perihal perilaku manusia yang berasal dari kelas kambing dan kelas monyet. Perkawinan kambing dan monyet ini berlangsung di dua tempat berbeda. Satu di pusat Jakarta, di gedung masyarakat middle-upper class biasa kawin, dan satu di pinggiran Jakarta, tepatnya di puncak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kawinan pertama kuhadiri adalah kawinan manusia kambing. Dia lahir dan besar di Jakarta. Jadinya pemalas. Tipikal pribumi yang tak pernah merantau. Dia tak punya banyak keinginan untuk merubah hidup. Ini adalah perkawinan keduanya. Perkawinan pertama ia gagal. Mabuk, judi dan perbuatan menyimpang lain mendominasi hidupnya sehingga istri pertamanya tak kuat. Mereka cerai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Kali ini si kambing mencoba kawin lagi. Dengan usianya yang sudah 43 tahun, ia cukup beruntung mendapat istri berusia 19 tahun. Masih sama-sama puber. Apa boleh buat. Kawin adalah kebutuhan. Mumpung ada jodoh. Kali ini ia tak banyak dibantu oleh keluarga dan teman-temannya karena kecewa sikapnya dulu yang menyia-nyiakan istri pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kambing memang kambing. Semalam sebelum akad masih tetap saja sempat-sempatnya melihat lokasi pelacuran. Meski cuma melihat. Untung kami tak ada ongkos untuk bayar pelacur di puncak selain takut dosa dan penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku suka kambing. Karenanya bisa berteman. Kambing masih cukup berguna buat manusia. Minimal aku bisa menikmati sate kambing yang mak nyoss ueeenaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawinan selanjutnya yang kuhadiri adalah kawinan monyet. Binatang yang tak pernah aku suka. mungkin aku takut dibilang mirip. Kalau lagi kesal aku juga suka bilang, bahkan teriak, "monyet!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku tak terlalu berminat menghadiri kawinan monyet. mungkin karena tak terlalu kenal. cuma ajakan temanlah yang menjadikan aku hadir di perkawinan monyet minggu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monyet bukan orang Jakarta asli. Keluarga monyet merantau di kota ini. Kerja keras membuat mereka bisa sedikit kaya dan bisa sewa gedung untuk kawin. Tamunya banyak. Makanya tamunya dibedakan. Ada tamu VIP dan tamu non VIP. Tamu VIP punya meja khusus untuk makan. Begitu cara monyet memperlakukan undangan dikawinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kami datang, sudah tersisa sedikit makanan. Untung aku baru menghabiskan dua bandeng bakar pagi ini sebelum berangkat kondangan. jadi aku tak begitu kecewa ketika tak mendapatkan makan di acara ini. aku bertanya dalam hati, masa iya tamu masih banyak makanan sudah habis?? "monyet !!!" umpatku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaanku terjawab. sedikitnya makanan memancing keributan. seorang tamu memaksa masuk meja VIP. Rupanya panitia yang berasal dari keluarga monyet itu menganggapnya bukan orang penting. Mereka melihat penampilannya. Tamu itu kemudian dipukuli oleh keluarga monyet. keributan terjadi. Beberapa komentar emosional keluarga monyet saat terjadi keributan menegaskan padaku bahwa keluarga monyet adalah keluarga yang sombong. padahal mereka golongan monyet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui teman aku tahu, bahwa tamu yang dipukuli oleh keluarga monyet yang beringas itu adalah tamu VIP juga. Cuma sekali lagi kutegaskan bahwa keluarga monyet terlalu memperhatikan penampilan luar seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kasus keributan di acara perkawinan ini menurutku memalukan dan tak perlu terjadi. Tapi sudahlah, bukankah aku memang pada dasarnya tak pernah suka dengan monyet. jadi apa peduliku dengan sikap mereka? lagian sate monyet kan nggak enak? (MH)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-319438714982788899?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/319438714982788899/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=319438714982788899' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/319438714982788899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/319438714982788899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2008/03/kawin-cara-monyet-dan-kambing.html' title='Kawin Cara Kambing dan Monyet'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-7649831581131728157</id><published>2007-11-22T16:18:00.004+07:00</published><updated>2010-08-11T13:53:03.556+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Musik'/><title type='text'>Master Balawan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_5x6xzmW8Ogk/R0VKTiKhaUI/AAAAAAAAABg/AiKJk9qThpQ/s1600-h/i+am+not+a+jazzer.JPG" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="266" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5135592649534826818" src="http://bp2.blogger.com/_5x6xzmW8Ogk/R0VKTiKhaUI/AAAAAAAAABg/AiKJk9qThpQ/s400/i+am+not+a+jazzer.JPG" style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_5x6xzmW8Ogk/R0VKTiKhaUI/AAAAAAAAABg/AiKJk9qThpQ/s1600-h/i+am+not+a+jazzer.JPG"&gt; &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-7649831581131728157?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/7649831581131728157/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=7649831581131728157' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/7649831581131728157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/7649831581131728157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2007/11/balawan-sang-satria-bergitar.html' title='Master Balawan'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_5x6xzmW8Ogk/R0VKTiKhaUI/AAAAAAAAABg/AiKJk9qThpQ/s72-c/i+am+not+a+jazzer.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-4495742861005640541</id><published>2007-11-22T13:45:00.003+07:00</published><updated>2010-08-11T13:57:26.756+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Musik'/><title type='text'>Applause untuk Balawan di JGTC</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_5x6xzmW8Ogk/R0U-ciKhaTI/AAAAAAAAABY/9le261Ah3jU/s1600-h/applause+untuk+aksi+balawan2.JPG" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="266" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5135579610014116146" src="http://bp2.blogger.com/_5x6xzmW8Ogk/R0U-ciKhaTI/AAAAAAAAABY/9le261Ah3jU/s400/applause+untuk+aksi+balawan2.JPG" style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-4495742861005640541?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/4495742861005640541/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=4495742861005640541' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/4495742861005640541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/4495742861005640541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2007/11/applause-untuk-balawan.html' title='Applause untuk Balawan di JGTC'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_5x6xzmW8Ogk/R0U-ciKhaTI/AAAAAAAAABY/9le261Ah3jU/s72-c/applause+untuk+aksi+balawan2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-6712769579729715009</id><published>2007-11-12T13:44:00.012+07:00</published><updated>2009-08-09T20:14:20.806+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Konsep Manusia Menurut Islam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.jurnalnet.com/file/popular/resensi/Buku%20Membumikan%20Kitab%20Suci.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 120px; height: 182px;" src="http://www.jurnalnet.com/file/popular/resensi/Buku%20Membumikan%20Kitab%20Suci.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);font-size:78%;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Judul Buku : Perspektif Al Quran tentang Manusia dan Agama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Penulis : Murtadha Muthahhari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Penyunting : Haidar Bagir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Penerbit : Mizan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Cetakan : X, November 1998&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tebal : 261 Halaman&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Selain Tuhan, pembahasan tentang manusia merupakan obyek selalu paling&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;banyak dibahas dalam setiap kesempatan maupun dimensi. Setiap disiplin ilmu pun pada hakikatnya juga mempelajari dimensi-dimensi tertentu dari manusia. Psikologi membahas alam pikiran manusia, ekonomi membahas masalah kesejahteraan manusia, biologi membahas masalah fisiologis manusia, atau pun juga politik yang membahas bagaimana manusia mendapatkan kuasa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Lalu bagaimana halnya dengan agama? yang telah menjadi komponen penting dalam kehidupan manusia dan pengaruhnya begitu terasa dalam perjalanan sejarah manusia hingga kini. Bagaimana pula sebenarnya hubungan antara manusia dan agama itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Buku Perspektif Al Quran tentang Manusia dan Agama yang merupakan suntingan beberapa karya Murtadha Muthahhari ini sepertinya mampu menjawab pertanyaan tersebut, sekaligus memberikan pandangan yang tajam tentang bagaimana konsepsi Islam tentang relasi manusia dan agama. Buku ini memberikan pandangan Islam yang tegas mengenai bagaimana sebenarnya agama, dalam hal ini Islam, memposisikan manusia dan mengkritik pendapat-pendapat bertentangan yang berasal dari sebagian pemikir barat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Hal ini terungkap melalui pengantar Jalaludin Rahmat, yang mengatakan bahwa para psikoanalis yang ada negara-negara barat banyak sekali membahas tentang konsep manusia. Tetapi sayangnya, sebagian mereka justru menolak bahwa manusia itu punya dimensi jiwa (ruhani) yang dengan itulah manusia dibedakan dari hewan. Manusia menurut mereka, tak lebih dari seekor binatang yang digerakkkan oleh naluri biologisnya. Karena itulah, konsep tentang fitrah, kesadaran diri kehendak bebas, dan ruh merupakan konsep khayali yang diciptakan oleh kepongahan manusia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Murtadha Muthahhari, melalui buku ini mengungkapkan tiga tema besar yang dijadikan pokok pembahasannya. &lt;/span&gt;&lt;em style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Pertama&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;, tentang masalah manusia dan keimanan. Bab ini mengungkapkan dalil tentang kefitrian agama dan kritik terhadap teori-teori tentang kemunculan agama yang disampaikan oleh para pemikir barat. Dia juga memaparkan kaitan antara sains dan keimanan dan pross pemerolehan keyakinan keagamaan selain mengungkapkan Islam sebagai sebuah ideologi yang komprehensif dan universal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Kedua&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;, tentang masalah manusia menurut Al quran. Bab ini mengungkapkan pandangan alquran tentang keberadaan manusia dan perannya dalam menentukan masa depan sejarahnya. Dia mengungkapkan keserbadimensian manusia dan kesadaran yang dimiliki oleh manusia terhadap diri dan semesta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Ketiga&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;, tentang masalah manusia dan takdir. Tak seperti pembahasan takdir yang kebanyakan dipahami oleh sebagian besar umat Islam. Muthahhari memberikan pandangan teologis yang kokoh tentang bagaimana seharusnya umat islam memahami konsep takdir. Konsep tentang takdir yang diungkapkannya didasarkan tak hanya pada alquran dan alhadits, tetapi juga ucapan para imam yang diakui otoritasnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Buku ini cukup memberikan gambaran komprehensif bagi pembaca untuk memahami konsep Islam yang benar tentang manusia. Analisis yang tajam dari penulis serta kekokohan argumentasi logis dan filosofis yang disampaikannya memberikan gambaran bahwa penulis memang seorang ulama Islam yang tahu betul ilmu-ilmu keislaman sekaligus &lt;/span&gt;&lt;em style="font-family: trebuchet ms;"&gt;literate&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; (paham) terhadap pemikiran-pemikiran Barat. Suatu kombinasi yang jarang didapatkan pada ulama-ulama tradisional yang kebanyakan hanya tahu pandangan Alquran (Islam) dan menyampaikannya tanpa memberikan kritik terhadap pemikiran barat yang (mungkin) tak mereka pelajari dan baca.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Bila pembaca sudah mengenal penulis dengan baik, ataupun memiliki beberapa terjemahan karya-karyanya dalam bahasa Indonesia, tentu akan menemukan beberapa kesamaan isi buku ini dengan beberapa buku tertentu dengan judul yang berbeda. Terutama pembahasan bab satu dan bab tiga. Tapi, untuk dijadikan koleksi wajib perpustakaan pribadi, nampaknya buku ini sangatlah memenuhi syarat, sebuah karya dari seorang ulama yang pantas dijadikan model (panutan) yang menurut Jalaludin Rahmat, “terlahir, berjihad, lalu syahid.” (Misbah)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-6712769579729715009?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/6712769579729715009/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=6712769579729715009' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/6712769579729715009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/6712769579729715009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2007/11/konsep-manusia-menurut-islam.html' title='Konsep Manusia Menurut Islam'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-5990307614389091675</id><published>2007-10-25T16:29:00.009+07:00</published><updated>2009-10-20T07:00:08.271+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><title type='text'>Akal dan Agama</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akal (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;aql&lt;/span&gt;) secara istilah berarti kemampuan yang dimiliki manusia untuk mengetahui, membedakan baik dan buruknya sesuatu sehingga manusia mampu menyelesaikan permasalahan hidup. Akal akan menuntun manusia kepada kebenaran dan kesempurnaan. Akal menjadi ciri kemanusiaan seseorang yang membedakannya dari binatang. Akal membuat manusia mampu menciptakan kebudayaan dan membangun peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan akal pula, sebagai salah satu sumber pengetahuan, manusia menemukan Tuhan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dalam kitab suci, banyak ayat yang mencantumkan kata y&lt;span style="font-style: italic;"&gt;atafakkaruun&lt;/span&gt; diujungnya. Kebanyakan menyuruh atau memperingatkan manusia untuk berpikir, merenung atau bertafakkur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ali, dalam Nahjul Balaghah mengungkapkan bahwa akal adalah kekayaan manusia yang utama. Harta manusia yang paling berharga. Sementara, kemiskinan manusia yang paling utama adalah kebodohan manusia itu sendiri. Akal dikatakan sebagai sesuatu yang berfungsi untuk mengendalikan, meredam, dan menolak serta menyingkirkan dorongan dan hasutan jahat hawa nafsu dalam hati manusia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hubungan Akal dan Agama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari pengertian tadi jelaslah bahwa akal akan selalu menuntun manusia untuk kembali kepada Tuhannya. Akal akan cenderung untuk selalu menyembah kepada pemiliknya, suatu dzat maha sempurna yang menjadi tempat akal bergantung. Orang yang memaksimalkan fungsi akal akan semakin kuat keberagamaannya. Karena apa yang diinginkan akal juga sesuai dengan apa yang diajarkan agama melalui Rasul (kitab suci). Akal dan Agama ibarat dua sisi mata uang yang tak mungkin dipisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini membuktikan bahwa tidak ada pertentangan antara akal dan agama. Syariat agama merupakan faktor eksternal (akal luar) yang menyuruh manusia untuk menyembah Tuhan dan Akal adalah faktor internal (dalam diri) manusia yang menuntunnya untuk menyembah Tuhan. Yang membedakan hanyalah faktor dari mana berasalnya saja, internal dan eksternal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan permasalahan banyaknya para ilmuwan (saintis) sekuler yang mengaku tidak beragama, padahal mereka adalah orang-orang cerdas yang telah memaksimalkan fungsi akalnya? Tidakkah ini bertentangan (kontradiktif) jika di awal dikatakan bahwa akal dan agama itu mempunyai kesamaan visi dan tujuan? Mengapa pula kebanyakan dari mereka yang berasal dari dunia belahan barat itu yang lebih maju peradabannya tanpa agama? Bukankah peradaban itu merupakan hasil olah pikir akal manusia? Mengapa di dunia belahan timur yang mengaku beragama masyarakatnya justru tertinggal? Adakah yang salah antara hubungan akal dan agama yang berdasarkan pengertian awal bahwa keduanya adalah ibarat dua sisi mata uang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah pertanyaan-pertanyaan yang akan dan harus dimunculkan jika masalah hubungan antara akal dan agama ini dibahas. Beberapa alternatif jawaban bisa diberikan berkenaan masalah tersebut. Logika apa yang terjadi dalam hubungan antara akal dan agama yang sesuai menurut teori tapi pada praktek(kenyataan)nya bertentangan dengan apa yang terjadi di sekitar kita saat ini.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Pertama&lt;/span&gt;, ada agama yang mematikan pertanyaan akal (membunuh akal). Sehingga tidak mampu menghasilkan masyarakat yang tinggi tingkat intelektual sekaligus spiritualnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, ada agama yang memberikan peran kepada akal, tapi tidak dikenal atau belum dipelajari oleh ilmuwan (saintis) atau masyarakat yang mengaku tidak memeluk agama tersebut. Hal tersebut terjadi karena kebelumtahuan, keengganan, atau kemalasan untuk mempelajari pengetahuan agama. Dengan kata lain, di antara sekian banyak ajaran agama yang ada, terdapat agama yang ajarannya rasional/masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, harus dibedakan antara agama dan tafsiran terhadap agama. Sebagai contoh, bisa jadi tafsiran sebagian orang Islam terhadap Islam salah. Sementara Islam sendiri tetaplah sebuah ajaran agama yang lurus. Kesalahan penafsiran ini menjadikan masyarakat Islam mengalami kemunduran. Jika ajaran Islam menyuruh manusia untuk memfungsikan akalnya maka sebagian umat Islam saat ini ternyata masih mengunci mati, membunuh atau belum mengoptimalkan akalnya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;, kenyataan saat ini yang terjadi adalah masih banyaknya manusia (baik yang mengaku beragama ataupun yang tidak) belum mampu menggunakan akalnya sehingga dapat mengendalikan hawa nafsunya. Dorongan hawa nafsu dapat menyuruh manusia untuk melakukan perbuatan-perbuatan buruk yang mengakibatkan terjadinya ketidakseimbangan alam maupun kehidupan sosial. Hawa nafsu ingin berkuasa yang berlebihan menjadikan seseorang menindas manusia  lainnya. Hawa nafsu terhadap kekayaan yang berlebihan menjadikan seseorang mengeksploitasi alam dan sesama manusia secara tidak adil. Sementara hawa nafsu syahwat yang berlebihan menjadikan orang kalap sehingga melupakan tata cara dan etika yang benar dalam menjalani kehidupan seksualnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari alternatif jawaban-jawaban tersebut dapat diketahui bahwa manusia yang menemukan agama rasional dan mampu mengendalikan hawa nafsunya melalui akal, akan mampu membangun masyarakat berperadaban tinggi dan berkeadilan. Juga ditopang oleh sains dan teknologi maju tapi tetap berlandaskan pada nilai-nilai agama (religius).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Peran akal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, bagaimana sebenarnya peran akal itu? Peran penting akal menurut M. Mahdi al Ashify dapat dibagi menjadi tiga bagian (Hawa Nafsu, 72). Pertama, mengenal Tuhan sebagai pangkal dan titik tolak tugas akal. Kedua, ketaatan mutlak kepada segala perintah Tuhan. Ketiga, ketakwaan kepada Tuhan yang merupakan sisi lain dari ketaatan melaksanakan kewajiban dan menjauhi laranganNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hadits, Rasulullah bersabda “Akal terbagi menjadi tiga bagian, dan barangsiapa menyandangnya maka sempurnalah akalnya, dan yang tidak, maka dia tidak berakal; Pertama, mengenal Allah swt secara benar. Ketaatan yang mutlak kepada Allah swt. Ketiga, kesabaran yang mendalam untuk menjalankan perintah-Nya” &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Biharul Anwar 1 : 106) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Epilog&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengetahui hubungan mengenai akal dan agama serta peran akal yang benar, maka dapat disimpulkan bahwa sumber pengetahuan dalam diri manusia berupa akal adalah alat maha penting yang harus benar-benar dioptimalkan agar manusia mengenal Tuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya keinginan yang kuat untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Sempurna merupakan tanda-tanda telah difungsikannya akal seorang manusia. Akankah kita terus mengikuti godaan gejolak hawa nafsu yang buruk, menutup peran akal yang merupakan pengendalinya dan terus-menerus enggan mengenal dzat yang menciptakan kita melalui pengetahuan agama yang sejalan dengan akal? &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Misbah,03/2003)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-5990307614389091675?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/5990307614389091675/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=5990307614389091675' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/5990307614389091675'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/5990307614389091675'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2007/10/seputar-akal.html' title='Akal dan Agama'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-9204764522394911736</id><published>2007-10-25T16:11:00.007+07:00</published><updated>2009-10-20T07:02:41.031+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><title type='text'>Kebenaran</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara kita tentu pernah mengatakan atau bertanya-tanya tentang "kebenaran". Adakah kebenaran di dunia ini? Apa yang terjadi dan harus di lakukan jika ada banyak “klaim kebenaran”? Tidakkah kebenaran itu satu saja? Apakah ia secara pasti dibutuhkan manusia? Bagaimana kita bisa memenuhi atau mencapai kebenaran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disadari atau tidak, kata ini memiliki arti penting dalam hidup seseorang. Bahkan semua orang. Penting, karena untuk mengejar tujuan hidup, suatu kebenaran akan dijadikan petunjuk oleh setiap orang dalam melakukan tindakan sadarnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kebenaran secara sederhana dapat diartikan dengan adanya kesesuaian persepsi dalam benak (seseorang) dengan realitas atau kenyataan. Misalnya, perkataan seseorang dapat dikatakan benar bila ada kesesuaian antara apa yang dikatakan dengan kenyataannya. Bila ada ketidaksesuaian, maka orang tersebut dikatakan berbohong. Orang disebut berbohong artinya orang itu tidak mengatakan kebenaran. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran dapat ditutupi oleh dua hal. Pertama, kebodohan atau kebelumtahuan. Kedua, hawa nafsu atau interest pribadi. Kebodohan atau kebelumtahuan menyebabkan orang melihat hanya sebagian saja dari suatu pengetahuan. Ketika seseorang hanya mengetahui sebagian saja dari hakikat sesuatu, maka kebenaran yang dipahaminya akan menjadi sebagian (parsial) juga atau disebut belum sempurna/mutlak. Sementara hawa nafsu atau interest pribadi akan membuat seseorang menutup-nutupi kebenaran demi memenuhi keinginan ego, gengsi atau kepentingan pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika manusia sudah mau dan mampu menghilangkan segala kebodohan atau kebelumtahuan dan mengendalikan hawa nafsunya, maka dia akan dengan segera mendapatkan "cahaya terang" dari kebenaran. Mendapatkan kebenaran inilah sebenarnya yang menjadi misi manusia di dunia. Yakni mencapai kebenaran sejati dan menuju kesempurnaan. Bahasa agama mengenal istilah Insan Kamil (Manusia Sempurna) wujud seorang manusia yang paripurna, yang telah yang mampu meraih kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran menurut Afif Muhamad (Islam Mazhab Masa Depan,13) merupakan sesuatu yang objektif. Dia berada di luar berbagai kepentingan (interest), baik pribadi maupun kelompok. Karena itu kebenaran akan selalu identik dengan kebebasan, keterbukaan dan dialog. Kebenaran tidak akan didapatkan jika kebebasan untuk berpendapat dan berdialog telah dipasung dan dikunci mati. Yang diperlukan kemudian untuk mendapatkan kebenaran adalah kejujuran dan keikhlasan untuk mengakui kebenaran lain setelah memperbandingkannya dengan kebenaran versi diri kita pribadi. Karena cenderung kepada kebenaran adalah salah satu fitrah kemanusiaan, jadi tak mesti ada pemaksaan terhadap kebenaran. Kebenaran tidaklah dibentuk, tapi ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Alat-alat Untuk Menemukan Kebenaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Semua alat pengetahuan yang ada dalam diri manusia sudah memiliki ketentuannya sendiri, panca indera (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;hissi&lt;/span&gt;), akal (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;aql&lt;/span&gt;), dan intuisi (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;qalb&lt;/span&gt;) . Masing-masing memiliki tugas-tugasnya. Jika salah satunya mengalami kekurangan atau cacat, maka pengetahuan akan kebenaran akan hilang atau tidak lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akal yang tidak logis, hati yang beku, indera yang cacat, semuanya adalah penghambat penerimaan kebenaran. Menggunakan prinsip-prinsip berpikir benar (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Prima Principia&lt;/span&gt;) akan mampu membantu akal menghilangkan kesalahan dan kerancuan berpikir, sekaligus membantunya tetap sehat dan mampu berpikir optimal. Menjaga hati agar tetap bersih dari segala kotoran dan penyakit hati akan mampu memberikan ketenangan dan ketenteraman batin. Sementara panca indra digunakan sepenuhnya untuk mendapatkan dan menyerap pengetahuan empiris yang berguna bagi kehidupan. Semua usaha ini akan mampu membawa manusia sampai pada kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Agama atau Pandangan Hidup yang Benar &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalau agama dianggap sebagai suatu pedoman hidup, sudah selayaknya setiap umat beragama yang mempercayai keberadaan Tuhan dan nabi-nabi mengetahui dengan seksama alasan mengapa memilih salah satu dan meyakini kebenaran agama yang dipilihnya tersebut di antara sekian banyak agama yang ada. Hal ini sangat penting, agar keberagamaannya tak sekedar suatu keberagamaan yang ikut-ikutan atau karena kebetulan kedua orang tuanya telah meyakini suatu agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama atau ajaran yang benar adalah yang memiliki syarat-syarat tertentu seperti harus objektif (benar), harus masuk akal (rasional) dan tidak berdasarkan takhayul, harus universal, harus manusiawi, serta harus peka terhadap perubahan jaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merenungkan kembali tentang kebenaran ajaran agama yang kita yakini akhirnya menjadi penting. Hal ini agar kita tidak mudah terjebak pada fanatisme yang membabi buta terhadap agama yang tengah dianut yang pada akhirnya bertentangan dengan sifat agama itu sendiri yang anti untuk dipaksakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia Islam perbedaan pandangan tentang masalah kebenaran juga terjadi. Orang Islam Saudi bermazhab Wahabi, Orang Indonesia &amp;amp; Mesir bermazhab Syafii meski dengan praktek yang beda, Orang Iran bermazhab Ja’fari. Sebagian orang Islam lain mengatakan tak mau bermazhab. Perbedaan aliran dan kepercayaan juga terjadi dalam agama Kristen dan Katolik, juga dalam Budha Mahayana dan Hinayana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua kemungkinannya jika kita menerima pandangan bahwa hanya ada satu jalan yang lurus atau kebenaran mengenai sesuatu; kemungkinan pertama adalah orang lain yang lebih bodoh (belum tahu) atau menuruti hawa nafsunya tidak mau menerima kebenaran, atau malah sebaliknya, kitalah yang ada dalam posisi tersebut. Maukah kita berani secara jujur mengakuinya?&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; [MH/2004]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-9204764522394911736?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/9204764522394911736/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=9204764522394911736' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/9204764522394911736'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/9204764522394911736'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2007/10/seputar-kebenaran_25.html' title='Kebenaran'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-504238674485952484</id><published>2007-10-25T12:53:00.007+07:00</published><updated>2009-10-20T07:03:19.422+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><title type='text'>Kekeliruan Berpikir</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi janganlah pula kita sesat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;karena mengunggulkan dan menunggalkan logika itu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;dengan tidak mengenal batas dan kelemahannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" &gt;Tan Malaka, Madilog&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;B&lt;/span&gt;erpikir adalah aktivitas yang dilakukan seluruh manusia. Suatu aktivitas yang berhubungan erat dengan kerja akal. Akal manusialah yang menjadi salah satu alat menyerap pengetahuan, menemukan dan membedakan mana benar atau keliru.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Namun, manusia yang memiliki pengetahuan terbatas dan belum memaksimalkan fungsi akal kadang terjebak pada kekeliruan berpikir. Hal ini wajar, karena akal bekerja berdasarkan hukum-hukum universal tertentu. Ketidaktaatan terhadap hukum-hukum universal dalam berpikir, menjadikan seseorang melakukan kekeliruan atau kesalahan. Dalam ungkapan lebih ekstrem, seseorang yang tidak menaati hukum berpikir dapat dikatakan seseorang yang tidak rasional (irasional).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia mengenal hukum-hukum berpikir rasional universal itu dengan istilah Logika. Suatu istilah yang diperkenalkan oleh Aristoteles, filsuf Yunani kuno. Di dunia Arab (Islam), Logika kemudian populer dengan istilah Mantiq. Dan kekeliruan berpikir adalah salah satu bagian penting yang dibahas dalam studi logika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi setiap manusia, apalagi seorang intelegensia, menghindari melakukan kekekeliruan berpikir menjadi keharusan. Sebab dari proses berpikirlah kehidupan, budaya, tradisi, bahkan sebuah peradaban dibangun. Bukankah peradaban yang berakar dan dibangun dari cara berpikir yang salah akan menyengsarakan manusia?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalaludin Rahmat, Intelegensia Muslim Indonesia itu bahkan menempatkan kekeliruan berpikir sebagai salah satu penghambat pertama dan utama proses rekayasa sosial masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pengelompokan dilakukan oleh berbagai pemikir terhadap aspek-aspek yang termasuk dalam kekeliruan berpikir, baik secara general maupun detail. Tapi dari berbagai pembagian aspek yang berhubungan dengan kekeliruan itu, pembagian oleh Mundiri (Logika, 1994), sepertinya merupakan salah satu pembagian yang cukup akurat dan sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mundiri membagi jenis-jenis kekeliruan itu ke dalam 3 kelompok besar; kekeliruan formal yang berhubungan dengan bentuk dari premis-premis dalam silogisme, kekeliruan informal yang berhubungan dengan aspek materi dari suatu kesimpulan logis, dan kekeliruan penggunaan bahasa yang berhubungan dengan pelak-pelik ungkapan dan tata bahasa yang kemudian menyebabkan kesalahan penafsiran. Ketiga kelompok besar ini, memerlukan uraian tersendiri untuk dapat kita ketahui bagian-bagiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadinya kesalahan berpikir, kadang gampang-gampang susah untuk dideteksi. Saya tidak hendak mengkritik Tan Malaka dalam kutipan di awal tulisan dengan mengatakan bahwa dia telah melakukan kekeliruan berpikir dengan ungkapannya  "mengunggulkan logika dapat menyesatkan kita". Sebagai manusia kita memang harus mengunggulkan logika, akal dan proses berpikir kita. Dengan kutipan itu saya justru ingin memberikan contoh kesalahan berpikir dari mereka yang mempelajari logika &lt;span style="font-style: italic;"&gt;an sich&lt;/span&gt;. Bukankah ironi? bila logika mengajarkan kita untuk taat pada kebenaran (hukum akal) dan memaksimalkan fungsi dan kerja akal itu sendiri, mereka yang mempelajarinya justru tak mengenal substansi dari apa yang dinamakan berpikir dan tidak paham  definisi sejati dari akal (alat berlogika) itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tan Malaka mungkin juga benar dalam mengomentari masalah logika, sehingga ia kemudian menggabungkannya bersama paham Materialisme Dialektika, mengikuti idenya Marx. Ibnu Taymiyah mungkin juga benar dengan menganggap kafir mereka yang belajar logika, karena tak memberikan pengaruh pada perilaku keberagamaan mereka. Sebab itulah, setelah belajar logika dan menghilangkan kerancuan berpikir, kita selayaknya tahu tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpikir penting, tapi “bekerja” setelah berpikir jauh lebih penting. Untuk itu, saya harus menyetujui ide Marx yang diikuti Tan Malaka meski tidak harus menyepakati komentarnya tentang ilmu logika (Aristotelian). Dunia memang tidak hanya perlu ditafsir dan dipikirkan, tapi perlu diubah. (MH/2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-504238674485952484?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/504238674485952484/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=504238674485952484' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/504238674485952484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/504238674485952484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2007/10/kekeliruan-berpikir.html' title='Kekeliruan Berpikir'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-3946578015983296838</id><published>2007-10-25T12:22:00.015+07:00</published><updated>2009-05-28T17:16:46.552+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Urban'/><title type='text'>Sapa Suruh Datang Jakarta</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latte Mochacino Jak TV lumayan. Ground Cafenya juga nyaman untuk menghindari hujan dan dingin udara malam. Sudah kutuliskan sedikit tentang penantian kami malam itu. Nyatanya orang baik seperti Bang Laurel masih bisa terpilih jadi anggota KPU. Lima tahun waktu yang lama. Kesempatan masih banyak. Ada Momen PAW. Bisa jadi, anggota sekarang ada yang mengundurkan diri atau dipecat karena korupsi, atau mungkin jadi menteri? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Bukan soal KPU akan kutuliskan di sini, tapi soal City View dan lagu Siapa Suruh Datang Jakarta. Menurutku, Fauzi Bowo yang suruh datang ke Jakarta. Tema kampanye waktu dia cagub adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jakarta Untuk Semua&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua berhak ke Jakarta. Selama pembangunan dan peredaran duit belum merata di seluruh kota se-Indonesia. Wong Deso yang tidak punya pekerjaan, tidak lulus SD dan sebagainya boleh datang ke Jakarta. By bus, by train, by plane, on foot, pokoknya bebas.&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Jadi Mbak, Mas, Wong Deso sekalian, ayo datang ke Jakarta dan ikut cari hidup. Berak, mandi, dan tidur di sini. Terserah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak hotel, kontrakan, rumah saudara, kolong jembatan, emperan toko, dan taman kota. Semua bisa ditiduri. Kenyamanan tidur memang bukan tergantung pada tempat, tapi kebiasaan. Secara kota ini menghabiskan cadangan energi paling besar di Indonesia, semua berhak menikmati. Macetnya, polusi, kehidupan malam, mall, banjir dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jakarta tidak perlu takut tidak dapat pekerjaan. Selama masih punya otak dan sedikit keberanian, Jakarta adalah surga. Kata siapa Jakarta lebih kejam dari ibu tiri? **&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-3946578015983296838?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/3946578015983296838/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=3946578015983296838' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/3946578015983296838'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/3946578015983296838'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2007/10/jak-tv-sapa-suruh-datang-jakarta.html' title='Sapa Suruh Datang Jakarta'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-6244552952716807266</id><published>2007-10-06T21:49:00.010+07:00</published><updated>2010-08-11T11:36:14.706+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan harian'/><title type='text'>Ibu Tua dan Baraya Travel</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_5x6xzmW8Ogk/SAb6O5-MSsI/AAAAAAAAACc/eWznIhVrMf4/s1600-h/korban%2Btabrakan%2Bdepan%2Btranstv.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" style="clear: left; font-family: trebuchet ms; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="157" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5190110754577861314" src="http://bp3.blogger.com/_5x6xzmW8Ogk/SAb6O5-MSsI/AAAAAAAAACc/eWznIhVrMf4/s200/korban%2Btabrakan%2Bdepan%2Btranstv.JPG" style="display: block; height: 285px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 362px;" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="left"&gt;&lt;td class="tr-caption"&gt;Korban Tabrakan Depan Trans TV (Misbah)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Baraya Travel Jakarta telah kutemukan nomornya. Tak sempat lagi kupesan tiket. Jadi dari taksi itu aku ke Kampung Rambutan untuk menemukan tumpangan. Ongkos busnya tenyata 40 ribu juga, tapi plus ongkos taksi ke rambutan. Rugi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Sampai Hotel Panghegar di Bandung jam 4 sore. Hahaha, aku telah mengisi perut dengan teh manis dingin. Karena musafir aku tak puasa.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Bandung berubah? iya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya aku harus maklum karena para pengemis di jalanan itu adalah pengemis musiman. Biasa menjamur bulan puasa begini.&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Puas aku karena ketemu Mami dan Abang. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Last Mimzy &lt;/span&gt;sempat kutonton sendirian esoknya di BIP yang tak kukenali lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haha...tak jadi kita ketemu malam ini, saat dingin menguasai tubuh Jakartaku yang biasa berkeringat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;Baraya Travel akhirnya mengantarku Senin paginya. Kembali Aku kini ke Jakarta yang menjanjikan masa depan republik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di Jakarta siang ini, lemaslah aku sepanjang perjalanan pulang. Di depan Trans TV, kebut telah menghajar ibu tua itu. Kepalanya membentur aspal jalanan. Nasi dan ikan Lele yang sedianya akan dijual nanti malam tumpah dan tercecer dihantam kuda besi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang muda Trans TV cuma melihat ngeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibu tua, cepatlah sembuh karena sebentar lagi Hari Raya tiba."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Abang Biker, hati-hati Bang. Bukannya sekarang orang-orang mengeluh karena sulit dapat THR? Abang malah buang-buang duit ngobatin orang?" [ MH ]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-6244552952716807266?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/6244552952716807266/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=6244552952716807266' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/6244552952716807266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/6244552952716807266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2007/10/baraya-travel-bandung-trans-tv-ibu-tua.html' title='Ibu Tua dan Baraya Travel'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_5x6xzmW8Ogk/SAb6O5-MSsI/AAAAAAAAACc/eWznIhVrMf4/s72-c/korban%2Btabrakan%2Bdepan%2Btranstv.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-5246801997958523453</id><published>2007-09-25T16:40:00.005+07:00</published><updated>2010-08-11T14:03:41.120+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Urban'/><title type='text'>Telah Kutunaikan Kewajibanku, Mau Apa Lagi Sih Pak Dokter?</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_5x6xzmW8Ogk/RvjZ3Kt7_0I/AAAAAAAAAAc/823eAGyJqus/s1600-h/tlah+kutunaikan+kewajibanku.jpg" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="400" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5114076918672260930" src="http://bp1.blogger.com/_5x6xzmW8Ogk/RvjZ3Kt7_0I/AAAAAAAAAAc/823eAGyJqus/s400/tlah+kutunaikan+kewajibanku.jpg" style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" width="323" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-5246801997958523453?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/5246801997958523453/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=5246801997958523453' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/5246801997958523453'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/5246801997958523453'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2007/09/tlah-kutunaikan-kewajibanku-apa-lagi.html' title='Telah Kutunaikan Kewajibanku, Mau Apa Lagi Sih Pak Dokter?'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_5x6xzmW8Ogk/RvjZ3Kt7_0I/AAAAAAAAAAc/823eAGyJqus/s72-c/tlah+kutunaikan+kewajibanku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6054638892507306788.post-14191786709280126</id><published>2007-09-25T16:13:00.006+07:00</published><updated>2009-05-28T16:29:49.833+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><title type='text'>Derrida dan Dekonstruksi</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Telah kuselesaikan esai empat halaman itu. Seperti dejavu saja rasanya. Ketika&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;kembali harus menerjemahkan halaman-halaman berteks asing.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pekerjaan ini membuatku merindukan satu malam di mana kami biasa menghabiskan kopi atau teh dalam gelas Jepang bersama setumpuk makanan kecil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Aku masih mengingat bangku-bangku ruangan itu. Kamilah yang mengusahakan membelinya dari sebaran proposal. Dari sana tawa dan obrolan tentang para filsuf keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa iya takdir membawaku kembali pada kejadian tadi malam? Saat aku menghabiskan sekitar empat jam untuk menjalani hidup yang berjalan pelan.&lt;br /&gt;Bangun pagiku kali ini digairahkan oleh telur setengah matang itu. Jakarta sepi........hoaalahhh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6054638892507306788-14191786709280126?l=filsafat-misbah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/feeds/14191786709280126/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6054638892507306788&amp;postID=14191786709280126' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/14191786709280126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6054638892507306788/posts/default/14191786709280126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://filsafat-misbah.blogspot.com/2007/09/derrida-dan-dekonstruksi.html' title='Derrida dan Dekonstruksi'/><author><name>MIsbAh</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05067967539745260041</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
